Lonjakan Valuasi ByteDance ke Rp 8.385 Triliun Tandai Babak Baru Strategi TikTok Bertahan di AS
Logo ByteDance dalam sebuah Ilustrasi. (SCMP)
09:21
24 Desember 2025

Lonjakan Valuasi ByteDance ke Rp 8.385 Triliun Tandai Babak Baru Strategi TikTok Bertahan di AS

Lonjakan valuasi ByteDance Ltd. hingga 500 miliar dolar AS, atau sekitar Rp8.385 triliun dengan kurs Rp6.770 per dolar AS, menandai titik balik penting dalam strategi global perusahaan teknologi asal Tiongkok tersebut untuk mempertahankan eksistensi TikTok di Amerika Serikat.

Nilai ini tercatat di pasar privat dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah ByteDance, sekaligus mencerminkan optimisme investor terhadap arah bisnis perusahaan di tengah tekanan geopolitik yang kian kompleks.

Kenaikan valuasi itu tidak dapat dilepaskan dari dinamika regulasi di Washington DC, yang selama beberapa tahun terakhir menempatkan TikTok dalam sorotan tajam atas isu keamanan nasional dan kepemilikan asing.

Pemerintah AS memberlakukan ketentuan yang mewajibkan ByteDance melepaskan kendali atas operasional TikTok di Amerika Serikat paling lambat Januari 2026, dengan ancaman pelarangan penuh layanan tersebut apabila kewajiban itu tidak dipenuhi.

Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (23/12/2025), valuasi ByteDance naik dari sekitar USD 400 miliar pada awal tahun ini menjadi USD 500 miliar, sekaligus melampaui level tertingginya pada 2021. Pada periode tersebut, perusahaan sempat mengkaji rencana penawaran saham perdana Douyin, aplikasi saudara TikTok di Tiongkok, sebelum akhirnya dibatalkan.

Setelah sempat mengalami tekanan, valuasi ByteDance kembali menguat seiring kemajuan perundingan terkait TikTok di Amerika Serikat serta peningkatan investasi di bidang kecerdasan buatan.

Momentum tersebut kemudian diwujudkan dalam langkah korporasi yang lebih konkret ketika CEO TikTok Shou Zi Chew menyampaikan kepada karyawan bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian mengikat untuk memisahkan operasi TikTok di AS ke dalam entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC.

“Perjanjian ini memungkinkan ByteDance tetap memperoleh manfaat ekonomi dari TikTok di Amerika Serikat, sekaligus menjawab kekhawatiran pemerintah terkait keamanan nasional,” ujar Chew dalam memo internal yang dikutip South China Morning Post.

Dalam struktur baru tersebut, 50 persen saham akan dikuasai konsorsium investor Amerika dan sekutu, termasuk Oracle, Silver Lake, dan MGX, masing-masing sebesar 15 persen. Sementara itu, afiliasi investor ByteDance memegang 30,1 persen, dan ByteDance mempertahankan 19,9 persen kepemilikan. Skema ini dirancang untuk memenuhi persyaratan regulasi AS tanpa sepenuhnya memutus hubungan ekonomi ByteDance dengan pasar Amerika.

Selain restrukturisasi kepemilikan, kesepakatan ini juga mengatur pengelolaan data dan sistem keamanan TikTok di AS. Oracle ditunjuk sebagai mitra teknologi utama yang bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengamanan data pengguna Amerika, termasuk pengawasan terhadap algoritme, sebuah isu yang selama ini menjadi pusat kekhawatiran regulator AS.

Meski mencetak rekor valuasi, posisi ByteDance masih berada di bawah sejumlah pemain teknologi global lain. OpenAI, misalnya, dilaporkan tengah menggalang pendanaan baru dengan valuasi potensial USD 830 miliar, sementara SpaceX milik Elon Musk diperkirakan bernilai USD 800 miliar menjelang rencana penawaran saham perdana. Perbandingan ini menegaskan ketatnya persaingan di antara raksasa teknologi global.

Analis industri menilai langkah ByteDance sebagai manuver adaptif yang jarang terjadi. Seorang pengamat teknologi yang dikutip The Guardian menyatakan, “Ini bukan sekadar restrukturisasi bisnis, melainkan contoh bagaimana perusahaan teknologi global menavigasi tekanan geopolitik tanpa kehilangan pijakan ekonominya di pasar strategis.”

Dengan demikian, lonjakan valuasi ByteDance tidak hanya mencerminkan kekuatan finansial, tetapi juga keberhasilan membaca arah politik global. Di tengah persaingan teknologi antara Timur dan Barat, strategi TikTok di AS berpotensi menjadi preseden baru bagi perusahaan teknologi lintas negara dalam menghadapi era regulasi digital yang semakin ketat. ***

Editor: Siti Nur Qasanah

Tag:  #lonjakan #valuasi #bytedance #8385 #triliun #tandai #babak #baru #strategi #tiktok #bertahan

KOMENTAR