Jenis Skrining Kanker yang Direkomendasikan Dokter
Ilustrasi kanker paru. (Shutterstock/create jobs 51)
16:54
25 Mei 2026

Jenis Skrining Kanker yang Direkomendasikan Dokter

Tingkat pemanfaatan skrining atau penapisan kanker masih rendah. Padahal, berbagai metode skrining kanker sekarang ini bisa diakses secara gratis. Hal ini menjadi tantangan dalam deteksi kanker di Indonesia.

Banyak orang lebih memilih menghindar karena takut akan hasil diagnosis yang mungkin keluar, atau mengabaikan pemeriksaan karena kurangnya pemahaman bahwa kanker bisa dideteksi sejak dini.

Dalam The 6th Siloam Oncology Summit (SOS) 2026, para pakar menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat melakukan skrining, apalagi sebagian besar kasus kanker tidak menunjukkan gejala di awal.  Saat ini kasus kanker terbanyak di Indonesia adalah kanker paru, kanker kolon, kanker payudara, dan kanker serviks. 

Dalam paparannya dr. Santi Christiani Gultom Sp.PD-KHOM, Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, menjelaskan bahwa skrining ditujukan untuk populasi sehat dan jumlah orang yang terlibat banyak.

Baca juga: Jangan Tunggu Gejala Muncul, Lakukan Skrining Kanker Sejak Dini

“Skrining tidak untuk mendiagnosis, hanya menyaring yang sakit dan tidak. Pathway dalam skrining termasuk  identifikasi dulu mana populasi dengan penyakit terbanyak, kemudian tesnya harus simpel dan cost-effective, serta tersedia terapinya jika ditemukan ada yang positif," katanya dalam acara workshop yang diikuti para dokter dari berbagai daerah di Indonesia (22/5/2026).

Metode skrining berdasarkan jenis kanker

Dalam workshop dr. Santi juga menjelaskan beberapa metode skrining kanker berdasarkan guideline yang dibuat oleh WHO untuk negara dengan resource terbatas seperti pada negara-negara berkembang.

Pada kanker paru, skrining yang dijadikan standar menggunakan low-dose CT (LDCT) ditujukan untuk populasi berisiko, yakni orang berusia di atas 50 tahun, merokok atau pernah merokok 20 bungkus per tahun.

Baca juga: Mitos Kanker Paru yang Masih Banyak Dipercaya, Ini Faktanya

"LDCT memiliki keunggulan berupa gambaran yang lebih detail dibandingkan rontgen toraks, paparan radiasi yang rendah, hasil pemeriksaan yang dapat diketahui lebih cepat (sekitar 10 menit), serta tingkat akurasi yang lebih tinggi," kata dr. Santi.

Untuk kanker payudara, pemeriksaan mamografi dianjurkan bagi perempuan berusia di atas 45 tahun setiap dua tahun sekali, dan dapat dilakukan lebih awal jika terdapat riwayat kanker dalam keluarga. Pemeriksaan mutasi genetik BRCA juga disarankan pada individu dengan faktor keturunan atau riwayat keluarga kanker payudara.

Pembukaan  The 6th Siloam Oncology Summit 2026 pada 22?24 Mei 2026 di Jakarta.Dok MRCCC Siloam Semanggi Pembukaan The 6th Siloam Oncology Summit 2026 pada 22?24 Mei 2026 di Jakarta.

Melalui program SELANGKAH (Semangat Lawan Kanker), RS Siloam Group menyediakan skrining kanker payudara gratis berupa USG dan mamografi. Sepanjang 2023–2025, program ini telah menjangkau 52.000 perempuan, dengan 3.000 di antaranya menjalani pemeriksaan mamografi.

Sedangkan pilihan skrining kanker kolon pilihan tesnya adalah pemeriksaan tinja (stool based), serta visual exam of the colon and rectum. 

Baca juga: Kolonoskopi: Deteksi Dini Kanker Kolon untuk Pencegahan yang Lebih Efektif

Menurut dr. Widyorini Lestari Hanafy Sp.OG Subsp.Onk (K), Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi Ginekologi MRCCC Siloam Semanggi, metode program skrining kanker serviks di Indonesia antara lain Pap smear, IVA, dan tes HPV DNA.

"Skrining kanker serviks di Indonesia mengarah ke pemeriksaan HPV DNA. Kedepannya, pemeriksaan ini juga diharapkan dapat dilakukan di Puskesmas, namun saat ini masih menunggu proses validasi alat agar sesuai dengan standar WHO," ujarnya.

Deteksi dan penanganan yang terlambat membuat terapi kanker lebih sulit dilakukan. Angka kelangsungan hidup pun menjadi rendah.

SOS mendukung implementasi Rencana Kanker Nasional

MRCCC Siloam Semanggi kembali menyelenggarakan The 6th Siloam Oncology Summit 2026 pada 22–24 Mei 2026 di Jakarta.

Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menyampaikan bahwa SOS merupakan bagian dari komitmen Siloam International Hospitals dalam memperkuat kualitas layanan kanker di Indonesia.

"Melalui Siloam Oncology Summit 2026, kami ingin berkontribusi dalam mendorong standar penanganan kanker yang lebih maju agar pasien di Indonesia dan Asia Tenggara dapat memperoleh layanan kanker berstandar internasional,” ujar Caroline dalam acara pembukaan SOS (23/5/2026).

Selain menjadi wadah pertukaran ilmiah, SOS mempertegas komitmen MRCCC Siloam Semanggi dalam mendukung implementasi Rencana Kanker Nasional melalui penguatan kapabilitas tenaga kesehatan, pengembangan riset dan evidence klinis, serta kolaborasi multidisiplin lintas sektor.

Baca juga: 70 Persen Kasus Kanker Payudara Terlambat Terdeteksi, Biaya Pengobatan Jadi Tantangan

Tag:  #jenis #skrining #kanker #yang #direkomendasikan #dokter

KOMENTAR