Virus Ebola Kembali Mengkhawatirkan, WHO Keluarkan Status Darurat Internasional
Para dokter berjalan di dalam bagian isolasi Ebola Rumah Sakit Rujukan Regional Mubende, di Mubende, Uganda Kamis, 29 September 2022. WHO menetapkan wabah Ebola Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional di tengah meningkatnya kekhawatiran penyebaran lintas negara.(AP PHOTO/HAJARAH NALWADDA)
19:36
24 Mei 2026

Virus Ebola Kembali Mengkhawatirkan, WHO Keluarkan Status Darurat Internasional

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Status itu diumumkan WHO (17/5/2026) di tengah meluasnya penyebaran virus di kawasan Afrika Tengah dan Timur.

Dalam pernyataan yang dirilis WHO (22/5/2026), wabah tersebut dinilai belum memenuhi kriteria pandemi global. Namun, WHO mengingatkan risiko penyebaran lintas negara tetap tinggi, terutama karena situasi kemanusiaan dan mobilitas penduduk di wilayah terdampak.

WHO menyebut Republik Demokratik Kongo menghadapi tingkat risiko “sangat tinggi”, sementara Uganda berada pada kategori “tinggi”.

Varian yang menyebabkan wabah kali ini adalah Bundibugyo virus (BDBV), bagian dari genus Orthoebolavirus. Berbeda dengan jenis Ebola lain, hingga kini belum ada vaksin maupun terapi yang disetujui khusus untuk varian Bundibugyo.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika sebagai Darurat Kesehatan Global

Kasus di Uganda berasal dari Kongo

WHO menjelaskan Uganda sejauh ini melaporkan dua kasus terkonfirmasi yang memiliki hubungan epidemiologis dengan wilayah penularan di Republik Demokratik Kongo.

Meski begitu, hingga 22 Mei 2026 belum ditemukan penularan lanjutan dari dua kasus tersebut di Uganda.

Karena belum tersedia pengobatan spesifik, WHO menekankan pengendalian wabah saat ini sangat bergantung pada langkah kesehatan masyarakat, seperti pelacakan kontak, isolasi pasien, pemeriksaan laboratorium, hingga pemakaman yang aman.

WHO juga meminta negara-negara yang berbatasan langsung dengan wilayah wabah meningkatkan pengawasan di perbatasan dan memperkuat kesiapsiagaan rumah sakit.

Baca juga: Virus Ebola Kembali Wabah di Uganda, 1 Perawat Meninggal

WHO minta negara tingkatkan pengawasan

Ilustrasi ebola. WHO menetapkan wabah Ebola Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional di tengah meningkatnya kekhawatiran penyebaran lintas negara.REUTERS/ZOHRA BENSEMRA via ABC INDONESIA Ilustrasi ebola. WHO menetapkan wabah Ebola Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional di tengah meningkatnya kekhawatiran penyebaran lintas negara.

Dalam rekomendasi sementaranya, WHO meminta setiap negara memperkuat deteksi dini terhadap kasus demam misterius yang berpotensi terkait Ebola.

WHO juga meminta tenaga kesehatan mendapat pelatihan pencegahan infeksi, termasuk penggunaan alat pelindung diri atau APD.

Selain itu, masyarakat diminta tetap mendapatkan informasi yang akurat mengenai risiko penularan virus Ebola dan langkah pencegahannya.

WHO menegaskan pembatasan perjalanan internasional secara total belum direkomendasikan saat ini. Namun, negara diminta melakukan pemeriksaan keluar masuk penumpang, terutama dari wilayah terdampak.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?

AS hentikan deportasi ke Kongo

Melansir The Guardian (23/5/2026), Pemerintah Amerika Serikat menghentikan sementara deportasi migran ke Republik Demokratik Kongo karena wabah Ebola yang terus meluas.

Langkah itu muncul setelah pemerintah AS menerapkan larangan perjalanan terkait wabah Ebola di DRC, Uganda, dan Sudan Selatan.

Kasus ini mencuat setelah seorang perempuan asal Kolombia bernama Adriana Zapata dilaporkan terlantar di Kinshasa setelah sebelumnya dipindahkan dari Amerika Serikat. Pengacaranya menyebut Zapata kini berada dalam kondisi tidak pasti karena pemerintah AS menolak membawanya kembali dengan alasan pembatasan perjalanan akibat Ebola.

Jeremy Konyndyk, Presiden Refugees International dan mantan pejabat respons Ebola USAID, mempertanyakan kebijakan tersebut.

“Jika tidak aman bagi orang untuk datang dari sana ke sini, maka seharusnya juga tidak aman mengirim orang ke sana,” kata Konyndyk.

Baca juga: Wabah Ebola di Afrika Tengah Makin Meluas, Vaksin Masih Butuh Waktu Berbulan-bulan

Risiko penyebaran tetap dipantau

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan seluruh penumpang dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan kini dialihkan ke Bandara Internasional Washington-Dulles untuk pemeriksaan kesehatan tambahan.

Pimpinan respons Ebola CDC, Satish Pillai, mengatakan langkah itu merupakan bagian dari pendekatan berlapis untuk menekan risiko penyebaran virus.

Meski wabah terus berkembang, pakar kesehatan masyarakat dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Alexandra Phelan, mengatakan risiko penyebaran Ebola ke Amerika Serikat tetap sangat kecil jika protokol kesehatan diterapkan dengan benar.

WHO meanwhile menekankan bahwa respons terhadap Ebola tidak hanya soal pengawasan medis, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat dan memastikan akses layanan kesehatan tetap berjalan di wilayah terdampak.

Tag:  #virus #ebola #kembali #mengkhawatirkan #keluarkan #status #darurat #internasional

KOMENTAR