Ebola Tak Semudah Covid-19 Menjadi Pandemi, Begini Kata Epidemiolog
Wabah Ebola kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan situasi di Uganda dan Kongo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia.
Meski demikian, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, PhD, menilai Ebola tidak semudah Covid-19 berkembang menjadi pandemi global.
Menurut Dr. Dicky, karakter penularan Ebola sangat berbeda dibandingkan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
“Ebola tidak menular melalui udara bebas seperti Covid-19. Penularannya membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita,” ujar Dr. Dicky dalam keterangan yang diterima Kompas.com, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, penularan Ebola umumnya terjadi melalui darah, muntahan, air liur, cairan tubuh, maupun kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi.
Karena itu, transmisi Ebola cenderung lebih lambat dibandingkan penyakit pernapasan seperti Covid-19 atau influenza.
Penularan Ebola lebih terbatas
Dr. Dicky mengatakan, Ebola juga memiliki angka reproduksi atau reproduction number (R0) yang relatif lebih rendah.
Secara historis, satu pasien Ebola rata-rata menularkan virus kepada satu hingga dua orang lain.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19 varian Omicron maupun campak yang penyebarannya jauh lebih cepat.
“Ebola jauh lebih sulit menjadi pandemi respiratory global karena bukan airborne disease utama,” katanya.
Selain itu, outbreak Ebola umumnya lebih mudah dilokalisasi apabila terdeteksi cepat dan direspons dengan baik melalui pelacakan kontak, isolasi pasien, dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan.
Baca juga: Wabah Ebola di Afrika Tengah Makin Meluas, Vaksin Masih Butuh Waktu Berbulan-bulan
Risiko tetap perlu diwaspadai
Meski peluang menjadi pandemi global lebih kecil, Dr. Dicky mengingatkan bahwa Ebola tetap merupakan penyakit yang sangat berbahaya.
Tingkat kematian Ebola atau case fatality rate disebut dapat mencapai 25 hingga 90 persen, tergantung jenis strain virus dan kapasitas layanan kesehatan di wilayah terdampak.
“Kalau ada 10 orang yang sakit, pada kondisi terburuk sembilan bisa meninggal,” ujarnya.
Dalam sejarahnya, wabah Ebola besar pernah terjadi di Sierra Leone, Liberia, dan Guinea pada 2014-2016 yang menyebabkan puluhan ribu kasus dan ribuan kematian.
Menurut Dr. Dicky, saat ini risiko global meningkat karena beberapa faktor, seperti mobilitas internasional yang tinggi, urbanisasi, konflik bersenjata, hingga lemahnya sistem kesehatan di wilayah wabah.
Ia juga menyoroti perubahan pola outbreak Ebola yang kini mulai masuk ke wilayah perkotaan dan pusat transportasi.
“Dulu dominan terjadi di desa-desa terpencil, sekarang sudah masuk kota dan jaringan mobilitas regional,” katanya.
Baca juga: Wabah Ebola di Afrika Picu Darurat Kesehatan, Ini yang Perlu Diketahui
Indonesia diminta tetap waspada
Dr. Dicky menilai risiko Ebola masuk ke Indonesia masih tergolong rendah hingga menengah, tetapi tetap nyata.
Karena itu, pemerintah diminta memperkuat surveillance epidemiologi di pintu masuk internasional, termasuk bandara dan pelabuhan.
Selain itu, kesiapan laboratorium, rumah sakit rujukan, alat pelindung diri (APD), hingga pelatihan tenaga kesehatan juga perlu ditingkatkan.
Menurut dia, pelajaran dari pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa keterlambatan respons dapat memperburuk situasi wabah.
“Negara gagal bukan karena virus terlalu kuat, tetapi karena sistem kesehatan terlambat bereaksi,” ujar Dr. Dicky.
Ancaman zoonosis dan krisis lingkungan
Dicky menambahkan, wabah Ebola juga menjadi pengingat bahwa ancaman kesehatan global kini berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
Ia menjelaskan, deforestasi, perdagangan satwa liar, eksploitasi hutan tropis, dan meningkatnya interaksi manusia dengan hewan liar dapat memicu zoonotic spillover atau perpindahan penyakit dari hewan ke manusia.
Karena itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dinilai semakin penting diterapkan.
“Ancaman kesehatan masa depan bukan hanya masalah medis, tetapi juga terkait krisis ekologi, mobilitas global, dan keamanan manusia,” katanya.
Tag: #ebola #semudah #covid #menjadi #pandemi #begini #kata #epidemiolog