Mirip tapi Tak Sama, Influenza Punya Dampak Lebih Serius dari Selesma
Ilustrasi virus flu.(FREEPIK)
14:18
5 Mei 2026

Mirip tapi Tak Sama, Influenza Punya Dampak Lebih Serius dari Selesma

- Influenza sering diremehkan karena gejalanya dianggap sama dengan selesma atau batuk pilek biasa (common cold).

Padahal, penyakit saluran pernapasan ini sangat menular melalui udara dan berpotensi memicu kerusakan fungsi organ vital.

Kesalahpahaman di tengah masyarakat kerap berujung pada pengabaian, sehingga virus dengan mudah menyebar di area publik dan mengancam kelompok rentan.

Baca juga: Virus Influenza Terus Bermutasi, Lindungi Tubuh dengan Vaksin Flu

"Sekali lagi, influenza bukan flu biasa, dan vaksinasi tahunan adalah cara paling efektif melindungi diri dan keluarga," tutur Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Secara klinis, pola serangan influenza memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan selesma biasa, terutama dari segi durasi dan penderitaan fisik pasien.

Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI menerangkan, serangan patogen pada saluran napas ini tidak muncul secara bertahap, melainkan menyebar cepat dengan intensitas gejala yang langsung memburuk.

"Selesma atau flu biasa, itu demamnya jarang. Kalau influenza, tiba-tiba sering kali demam tinggi," ujar dr. Iris.

Ancaman komplikasi fatal

Ibarat fenomena gunung es, bahaya influenza sebenarnya jauh lebih besar dari gejala yang terlihat di luar, terutama bagi penderita penyakit penyerta atau komorbid.

Pertahanan tubuh pasien yang sudah lemah membuat virus dengan gampang menyebar dan membuat kondisi tubuh ambruk hanya dalam hitungan hari.

"Orang normal saja bisa parah, apalagi yang punya penyakit jantung, diabetes, asma, ginjal. Itu akan lebih parah," kata dr. Iris.

Ia melanjutkan, bukti nyatanya bisa dilihat pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Influenza sering kali menjadi penyebab utama yang membuat kondisi pasien paru memburuk secara tiba-tiba, dengan persentase keterlibatan virus mencapai 31 persen.

"Lansia itu sistem imunnya menurun, yang kita sebut immunosenescence. Secara garis besar memang otomatis kita semua akan menurun," kata dr. Iris.

Baca juga: Ramai Disebut Superflu, Begini Cara Mencegah Influenza A Tipe H3N2

Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno (kedua dari kiri), Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (kedua dari kanan), dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI (kanan), dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).dok PT Kalbe Farma Tbk Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno (kedua dari kiri), Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (kedua dari kanan), dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI (kanan), dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Kelompok lanjut usia (lansia) juga sangat rentan menghadapi ancaman ini. Kemampuan daya tahan tubuh mereka untuk melawan infeksi terus menyusut seiring bertambahnya usia, sehingga virus lebih mudah menyerang.

Bukan sekadar masalah pernapasan

Serangan virus influenza ternyata tidak hanya berhenti di saluran napas atau paru-paru saja. Kerusakannya bisa merembet dengan cepat dan mengganggu fungsi organ vital tubuh yang lain.

"Yang punya penyakit jantung bisa menjadi serangan jantung," kata dr. Iris.

Dampak berantai inilah yang sering membuat pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit. Data laporan kesehatan juga memperlihatkan, banyak kasus infeksi pernapasan akut yang berat justru berawal dari paparan influenza di lingkungan sekitar.

"Ternyata 15 persennya disebabkan karena virus influenza," kata dr. Sukamto.

Baca juga: Virus Influenza Strain Yamagata Menghilang, Komposisi Vaksin Diubah

Vaksinasi sebagai bagian terapi

Mengingat bahaya mematikan yang mengintai, kalangan medis kini memposisikan pemberian vaksin influenza sebagai sebuah kewajiban, bukan lagi sekadar anjuran tambahan.

Khusus bagi penderita penyakit bawaan, kelengkapan vaksinasi dinilai sama pentingnya dengan menjaga pola makan atau minum obat secara rutin setiap hari.

"Jadi, ada perhimpunan seminar endokrin itu juga memasukkan tidak hanya obat-obat DM (diabetes melitus), itu vaksinasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata laksana," kata dr. Sukamto.

Suntikan vaksin memang tidak akan membuat seseorang kebal sepenuhnya dari paparan virus flu yang bertebaran di udara.

Namun, kekebalan yang dibentuk oleh vaksin terbukti sangat ampuh untuk mencegah gejala bertambah parah, sehingga pasien bisa terhindar dari perawatan darurat di rumah sakit.

"Vaksin influenza tidak 100 persen mencegah kita kena flu, tapi mencegah yang ringan jadi berat, mencegah yang berat jadi rawat inap, mencegah yang rawat inap untuk tidak meninggal," tutup dr. Sukamto.

Baca juga: Vaksin Influenza Trivalen Jadi Rekomendasi Baru WHO, Ini Penjelasannya

Tag:  #mirip #tapi #sama #influenza #punya #dampak #lebih #serius #dari #selesma

KOMENTAR