Gejala Epilepsi Bukan Cuma Kejang, Ketahui Mitos Keliru Lainnya
Epilepsi bukan penyakit kutukan.(Pexels/ANNA SHVETS)
09:36
22 Januari 2026

Gejala Epilepsi Bukan Cuma Kejang, Ketahui Mitos Keliru Lainnya

Epilepsi sering disederhanakan sebagai penyakit yang identik dengan kejang hebat di seluruh tubuh. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks. Epilepsi merupakan gangguan pada sistem kelistrikan otak dengan penyebab yang beragam dan manifestasi yang luas. Tidak semua penyandang epilepsi mengalami kejang, dan sebaliknya, tidak setiap kejadian kejang menandakan epilepsi. 

Menurut dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, dokter spesialis bedah saraf di Bethsaida Hospital Gading Serpong, epilepsi adalah gangguan sistem saraf yang dapat dikendalikan dengan penanganan. 

"Hingga kini, epilepsi masih sering disalahpahami. Sebagian orang menganggapnya sebagai penyakit menular, gangguan kejiwaan, atau kondisi yang tidak dapat diobati. Pandangan ini tidak sesuai dengan fakta medis," paparnya dalam keterangan pers.

Salah satu mitos keliru lain yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa epilepsi bisa menular. Dr. Wienorman menegaskan bahwa hal ini tidak benar. Epilepsi bukan disebabkan oleh infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. 

“Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan. Ini adalah kondisi medis yang berhubungan langsung dengan fungsi otak. Sederhananya, ini bukan soal mistis, tapi soal navigasi listrik di kepala kita,” tambahnya.

Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik. Pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran.

Epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, atau gangguan struktur otak lainnya. Namun, pada sebagian pasien, penyebab epilepsi tidak selalu dapat ditemukan secara pasti.

Gejala epilepsi selain kejang

Tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat. Pada beberapa orang, epilepsi dapat muncul sebagai tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, kedutan pada satu bagian tubuh, jantung berdebar kencang, atau kehilangan kesadaran singkat. 

Karena gejalanya beragam, epilepsi sering kali tidak disadari sejak awal.

“Jika muncul episode 'blank' yang sering atau kejang tanpa demam, jangan abai. Itu adalah cara otak memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa,” ujar dr. Wienorman.

Penanganan pertama saat epilepsi kumat

Saat menyaksikan seseorang mengalami kejang epilepsi, langkah pertama adalah tetap tenang.  Menurut dr.Wienorman, beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain:

- Posisikan pasien miring ke samping untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka

- Singkirkan benda-benda keras atau tajam di sekitar pasien

- Longgarkan pakaian di sekitar leher

- Catat durasi kejang bila memungkinkan

"Hal yang tidak boleh dilakukan adalah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien atau menahan gerakan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat hingga kesadaran pulih," katanya.

Bagi penderita, kejang mungkin merampas kendali tubuh selama beberapa menit, tapi jangan biarkan ia merampas martabat dan kualitas hidup. Konsultasikan penyakit ini dan dapatkan pengobatan ke dokter bedah saraf.

Pengobatan epilepsi sendiri saat ini memiliki berbagai pilihan, mulai dari obat-obatan oral, operasi, hingga terapi stimulasi otak. Dokter akan menentukan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Tag:  #gejala #epilepsi #bukan #cuma #kejang #ketahui #mitos #keliru #lainnya

KOMENTAR