Kondisi dan Penanganan Pasien Anak di RSUD Aceh Tamiang Pascabanjir
Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).(kompas.com / Nabilla Ramadhian)
07:12
6 Januari 2026

Kondisi dan Penanganan Pasien Anak di RSUD Aceh Tamiang Pascabanjir

- Kondisi anak-anak yang menjadi korban banjir bandang pada akhir November 2025 cukup memprihatinkan.

“Saat ini, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak untuk datang berobat ke RSUD,” ungkap dr. Arifin K. Kashmir, SpA.,Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Adapun dr. Arifin adalah anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025.

Penyakit yang sering dikeluhkan

Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh para dokter di rumah sakit tersebut, penyakit yang paling sering dikeluhkan adalah diare akut, infeksi saluran pernapasan seperti batuk pilek dan pneumonia, serta keluhan kulit seperti gatal-gatal, iritasi, dan infeksi kuilt.

“Penyebabnya sangat erat dengan kondisi pascabencana, seperti air bersih yang sangat terbatas aksesnya,” kata dr. Arifin.

Selanjutnya adalah situasi pengungsian yang sanitasinya sangat belum optimal, dan lingkungan yang kotor. Sebab, area pengungsian di sekitar rumah sakit lembab dan becek saat hujan, dan sangat berdebu saat kering.

Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).kompas.com / Nabilla Ramadhian Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).

Ditambah lagi, kondisi pengungsian yang sangat padat berkontribusi terhadap penyebaran penyakit.

“Anak-anak itu sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, kebersihan terganggu. Penyakit langsung muncul, terutama pada populasi bayi dan balita,” tutur dr. Arifin.

Pelayanan kesehatan yang terbatas

RSUD Aceh Tamiang sudah beroperasi kembali sejak 9 Desember, meskipun pelayanan kesehatannya cukup terbatas.

Namun, untuk pelayanan dasar anak masih bisa dilakukan, seperti penanganan kegawatan awal, tata laksana infeksi ringan sampai sedang, dan pemantauan kondisi umum dari pasien anak.

“Hanya saja, untuk anak dengan kondisi yang lebih berat, misalnya dibutuhkan alat khusus, perawatan intensif, atau tindakan lanjutan yang lebih advance, kami terpaksa harus melakukan rujukan,” tutur dr. Arifin.

Rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dilakukan karena lingkungannya paling aman untuk kondisi pasien anak.

Tantangan menangani pasien anak pascabanjir

Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).kompas.com / Nabilla Ramadhian Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).

Selain pelayanan kesehatan yang masih terbatas, ada beberapa tantangan lain yang dihadapi oleh para dokter anak di RSUD Aceh Tamiang.

Wilayah yang sulit dijangkau

Pertama adalah akses pelayanan kesehatan yang belum bisa menjangkau seluruh masyarakat di Aceh Tamiang karena beberapa wilayah masih sulit dijangkau.

Alhasil, anak yang sedang sakit tidak bisa langsung ditangani, sehingga sebagian anak datang dalam kondisi yang cukup berat, atau bahkan mereka tidak bisa ke rumah sakit.

Fasilitas dan layanan yang terbatas

“Ruang pelayanan dan perawatan kami, dari emergency sampai rawat inap, belum sepenuhnya ideal, dengan keterbatasan,” kata dr. Arifin.

Para dokter anak pun terus beradaptasi dalam mencoba menjaga keselamatan pasien, sekaligus mencoba meningkatkan kualitas pelayanan.

Alur rujukan lambat

Selanjutnya adalah alur rujukan. Jarak yang jauh, akses kendaraan terbatas, dan antrean di rumah sakit rujukan, membuat proses rujukan berjalan lambat.

Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).kompas.com / Nabilla Ramadhian Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Minggu (28/12/2025).

Penurunan gizi anak

Menurut dr. Arifin, gizi anak menjadi masalah yang sering luput dari perhatian khalayak. Padahal, dalam situasi pascabencana, kualitas dan keamanan makanan anak sering menurun.

Gangguan gizi, pola makan yang tidak sesuai dengan usia, dan cara pemberian makanan yang kurang higienis pun terjadi.

“Ini dapat memperberat penyakit seperti tadi, diare atau ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) sehingga kalaupun tidak akan berkontribusi terhadap penyebab, itu bisa memperlambat pemulihan anak dalam sakitnya,” ucap dr. Arifin.

Terbatasnya air bersih dan sanitasi buruk

Sulitnya akses air bersih di pengungsian, serta sanitasi yang buruk, memang termasuk kendala eksternal. Namun, ini juga menjadi perhatian para dokter anak karena bisa menyebabkan penyakit.

Sebab, para dokter tidak hanya bertugas dalam mengobati, tetapi juga mencegah anak untuk masuk ke dalam siklus sakit karena kurang gizi.

“Jadi, pencegahan sama pentingnya dengan pengobatan,” tegas dr. Arifin.

Tag:  #kondisi #penanganan #pasien #anak #rsud #aceh #tamiang #pascabanjir

KOMENTAR