Indeks Harga Pangan Global Dekati Level Tertinggi 3 Tahun
Ilustrasi pangan, bahan pangan, harga pangan.(PIXABAY/GERD ALTMANN)
11:44
8 Juni 2026

Indeks Harga Pangan Global Dekati Level Tertinggi 3 Tahun

Harga pangan dunia kembali bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah sempat mereda dari puncaknya pada 2022, indeks harga pangan global yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menunjukkan tren peningkatan sejak awal 2026.

Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi berbagai faktor, mulai dari gejolak geopolitik, kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga perubahan prospek produksi sejumlah komoditas pangan utama dunia.

Baca juga: Stok Beras Bulog 5,3 Juta Ton, Distribusi SPHP dan Bantuan Pangan Dikebut

Momen warga saat membeli cabai di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (22/5/2026).Momen warga saat membeli cabai di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (22/5/2026). Momen warga saat membeli cabai di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (22/5/2026).

Berdasarkan data terbaru FAO, Food Price Index (FFPI) pada Mei 2026 berada di level 130,8 poin. Angka ini memang turun tipis 0,2 persen dibandingkan April 2026 yang direvisi menjadi 131 poin.

Namun secara tahunan, indeks tersebut masih 2,9 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski masih berada di bawah puncak tertinggi yang tercatat pada Maret 2022, level tersebut merupakan salah satu yang tertinggi sejak Januari 2023.

FFPI merupakan indikator yang digunakan FAO untuk mengukur perubahan bulanan harga internasional dari sekeranjang komoditas pangan yang diperdagangkan secara global.

Baca juga: Bulog Sudah Salurkan 315.000 Ton Beras SPHP dan 19 Juta Bantuan Pangan

Indeks ini mencakup lima kelompok komoditas utama, yakni serealia, minyak nabati, daging, produk susu, dan gula.

Pergerakan indeks tersebut menjadi salah satu acuan penting untuk melihat arah harga pangan dunia karena mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan global.

Kenaikan harga terjadi sejak awal tahun

Kondisi Pasar Kebalen di Kota Malang, Jawa Timur sepi pembeli menandakan daya beli masyarakat menurun saat harga kebutuhan pokok merangkak naik pada Kamis (21/5/2026).KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO Kondisi Pasar Kebalen di Kota Malang, Jawa Timur sepi pembeli menandakan daya beli masyarakat menurun saat harga kebutuhan pokok merangkak naik pada Kamis (21/5/2026).

Sepanjang 2026, indeks harga pangan global menunjukkan tren yang relatif meningkat.

Pada Maret 2026, FFPI tercatat sebesar 128,5 poin atau naik 2,4 persen dibandingkan Februari. Kenaikan tersebut menjadi peningkatan bulanan kedua secara berturut-turut.

Baca juga: Wamentan: Jualan Bahan Pangan Pokok Tak Bisa Ugal-ugalan Ambil Untung 

Seluruh kelompok komoditas mengalami kenaikan harga dengan tingkat yang berbeda-beda, mulai dari serealia, minyak nabati, daging, produk susu, hingga gula.

Memasuki April 2026, kenaikan masih berlanjut. FAO mencatat indeks mencapai 130,7 poin, meningkat 1,6 persen dibandingkan Maret dan menjadi kenaikan bulanan ketiga secara berturut-turut. 

Menurut FAO, lonjakan harga terutama dipicu kenaikan harga minyak nabati, disusul kenaikan harga serealia dan beras.

Meski pada Mei 2026 terjadi koreksi tipis, level indeks tetap bertahan di kisaran tinggi. Kondisi ini menunjukkan tekanan pada pasar pangan global belum sepenuhnya mereda.

Baca juga: Warteg Jakarta Menjerit: Omzet Anjlok, Harga Pangan Melangit

Harga energi menjadi faktor penting

Salah satu faktor yang berulang kali disebut FAO sebagai pendorong kenaikan harga pangan global adalah meningkatnya harga energi.

Dalam laporan Maret 2026, FAO menyebut kenaikan indeks harga pangan tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental pasar, tetapi juga respons terhadap kenaikan harga energi yang terkait dengan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pengaruh harga energi terlihat jelas terutama pada komoditas minyak nabati dan gula.

Pada Maret 2026, indeks harga minyak nabati FAO mencapai 183,1 poin atau naik 5,1 persen dibandingkan Februari. Kenaikan tersebut merupakan peningkatan bulanan ketiga secara beruntun.

Ilustrasi minyak goreng. SHUTTERSTOCK/ISEN STOCKER Ilustrasi minyak goreng.

Baca juga: Bantuan Pangan Tak Harus Beras, Pemerintah Buka Opsi Telur dan Daging

Harga minyak sawit internasional bahkan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Menurut FAO, kenaikan harga minyak mentah mendorong peningkatan permintaan bahan baku biofuel sehingga memperkuat harga minyak nabati dunia.

Kondisi serupa berlanjut pada April. Indeks harga minyak nabati kembali meningkat 5,9 persen dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.

FAO menyebut kenaikan harga minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapa dipicu prospek peningkatan permintaan dari sektor biofuel yang didukung harga minyak mentah yang lebih tinggi.

Baca juga: Irigasi Rawa Merauke Hampir Tuntas, Dukung Ketahanan Pangan

Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, mengatakan kenaikan harga energi memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak nabati global.

“Minyak nabati mengalami kenaikan harga yang lebih kuat, sebagian besar didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi, yang meningkatkan permintaan bahan bakar nabati dan memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak nabati," terang Torero.

Dampak harga energi juga terlihat pada komoditas gula. Pada Maret, indeks harga gula FAO melonjak 7,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan ini antara lain dipengaruhi oleh ekspektasi Brasil sebagai eksportir gula terbesar dunia akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk produksi etanol di tengah tingginya harga minyak.

Baca juga: Inflasi Tahunan Mei Tembus 3,08 Persen, Pangan dan Emas Jadi Pendorong Utama

Konflik geopolitik menambah tekanan

Selain energi, konflik geopolitik menjadi faktor lain yang memengaruhi harga pangan global.

FAO dalam beberapa laporannya menyoroti dampak konflik di kawasan Timur Tengah terhadap pasar pangan dunia. 

Ilustrasi pertanian, petani.PIXABAY/HARTONO SUBAGIO Ilustrasi pertanian, petani.

Gangguan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz meningkatkan ketidakpastian pasar energi dan pupuk, yang kemudian berdampak pada biaya produksi pertanian.

Pada April 2026, FAO menyatakan kenaikan indeks harga pangan dunia dipengaruhi oleh tingginya biaya energi dan gangguan yang muncul akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Kementan: Mafia Pangan Ambil Kesempatan Saat Ada Kebijakan Besar

Meski demikian, FAO menilai sistem pangan global masih menunjukkan ketahanan karena pasokan serealia dunia masih relatif memadai.

Namun tekanan tersebut belum sepenuhnya hilang. Pada Mei 2026, harga serealia global meningkat lebih dari 2,6 persen dibandingkan April.

Harga gandum naik untuk bulan keempat berturut-turut, didorong prospek panen ekspor yang lebih kecil di sejumlah negara serta kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk yang terkait dengan konflik yang berlangsung. Harga jagung juga menguat akibat meningkatnya permintaan impor dan pasokan yang lebih ketat.

Laporan lain juga menunjukkan konflik di Timur Tengah telah mengganggu jalur pelayaran penting dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Baca juga: APTRI: Gula Harus Masuk Bantuan Pangan, Petani Butuh Kesejahteraan

Kenaikan biaya energi tersebut kemudian merembet ke biaya transportasi dan distribusi pangan, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan harga pangan global.

Komoditas serealia kembali menguat

Salah satu perkembangan penting pada 2026 adalah menguatnya harga serealia dunia.

Pada Maret, indeks harga serealia FAO mencapai 110,4 poin atau naik 1,5 persen dibandingkan Februari. Kenaikan terjadi pada hampir seluruh kelompok serealia utama kecuali beras. 

Harga gandum internasional meningkat 4,3 persen karena kekhawatiran terhadap kondisi kekeringan di Amerika Serikat serta potensi berkurangnya area tanam di Australia.

Baca juga: Pemerintah Tambah Bantuan Pangan di Masa El Nino, Isinya Beras 10 Kg

ilustrasi gandumiStockphoto/ALEAIMAGE ilustrasi gandum

Pada April, indeks harga serealia kembali naik 0,8 persen. FAO mencatat harga gandum dunia meningkat akibat kekhawatiran terhadap kekeringan di sejumlah wilayah Amerika Serikat dan potensi curah hujan yang lebih rendah dari normal di Australia.

Tekanan semakin kuat pada Mei ketika harga serealia naik lebih dari 2,6 persen secara bulanan dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2024.

Menurut FAO, kenaikan harga gandum dipengaruhi prospek hasil panen yang lebih rendah dari perkiraan di negara-negara eksportir utama serta meningkatnya biaya produksi pertanian.

Pergerakan harga serealia menjadi perhatian karena kelompok komoditas ini merupakan sumber pangan utama bagi sebagian besar populasi dunia.

Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat: Harga Pangan hingga Risiko PHK

Minyak nabati masih menjadi penyumbang utama volatilitas

Mengutip Reuters, meski pada Mei 2026 harga minyak nabati turun 4,6 persen dibandingkan April, level harga komoditas tersebut masih lebih dari 20 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan pada Mei terutama dipicu melemahnya harga minyak sawit dan minyak kedelai setelah sebelumnya mengalami kenaikan tajam selama beberapa bulan.

Sebelumnya, minyak nabati menjadi salah satu penyumbang terbesar kenaikan indeks harga pangan global sepanjang kuartal I dan awal kuartal II 2026.

FAO mencatat harga minyak sawit internasional sempat mencapai level tertinggi sejak 2022, didukung permintaan biofuel yang meningkat serta prospek produksi yang lebih rendah dari perkiraan di Malaysia.

Baca juga: FAO Peringatkan Lonjakan Harga Pangan dalam 12 Bulan, Imbas Krisis Selat Hormuz

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak nabati menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif terhadap perubahan harga energi dan perkembangan geopolitik global.

Daftar harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional berdasarkan data PIHPS.Kompas.com/Priska Birahy Daftar harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional berdasarkan data PIHPS.

Risiko ke depan masih membayangi

Di tengah stabilisasi tipis pada Mei 2026, sejumlah risiko masih membayangi pasar pangan global.

FAO memperkirakan produksi serealia dunia musim 2026/2027 berpotensi menurun sekitar 2 persen. Penurunan diperkirakan terjadi pada berbagai jenis serealia utama.

Selain itu, berbagai laporan juga menyoroti potensi gangguan cuaca dan meningkatnya biaya produksi pertanian akibat harga energi yang tinggi. Konflik yang berkepanjangan berpotensi memperbesar tekanan terhadap harga pupuk, biaya transportasi, dan rantai pasok pangan global.

Baca juga: IMF Ingatkan Risiko Subsidi Energi dan Pangan Berlebihan

Di sisi lain, FAO menilai pasar pangan global masih ditopang oleh stok dan pasokan dari musim sebelumnya yang relatif memadai. Faktor tersebut sejauh ini membantu membatasi lonjakan harga yang lebih tajam pada sejumlah komoditas utama, khususnya serealia.

Data terbaru FAO menunjukkan, meski indeks harga pangan dunia turun tipis pada Mei, harga pangan global masih bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. 

Pergerakan harga energi, kondisi produksi pertanian, serta perkembangan konflik geopolitik menjadi faktor yang terus menentukan arah harga pangan dunia dalam beberapa bulan mendatang.

Tag:  #indeks #harga #pangan #global #dekati #level #tertinggi #tahun

KOMENTAR