''Panem et Circenses'': Kuasa Roti dan Sirkus
Kapuspenkum Kejagung Harli Siregar (ketiga kiri) bersama (dari kiri) Kasubdit TPK dan TPPU Direktorat Penuntutan Arif Budiman, Kabid Humedmas M. Irwan Datuiding, Direktur Penyidikan Jampidsus Abdul Qohar Affandi, Direktur Penuntutan Jampidsus Sutikno, dan Kajari Jakarta Pusat Safrianto Zuriat Putra menyampaikan keterangan dalam konferensi pers perkembangan penanganan perkara dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Tindak Pidana Korupsi (TPK) dalam kegiatan usaha perkebunan kel
13:38
8 Juni 2026

''Panem et Circenses'': Kuasa Roti dan Sirkus

DUA ribu tahun lalu, penyair satir Romawi bernama Juvenal meratapi runtuhnya idealisme warga dunia dalam karyanya, Satire X. Ia memperkenalkan istilah Panem et Circenses atau "Roti dan Sirkus".

Fenomena ini menggambarkan bagaimana Kekaisaran Romawi menjinakkan nalar kritis publik dengan dua resep instan: membagikan gandum gratis (panem) dan menyuguhkan hiburan berdarah di Colosseum (circenses).

Selama perut kenyang dan pikiran terhibur oleh sirkus, rakyat tidak akan peduli pada korupsi elite, pemangkasan hak politik, atau salah urus negara.

Romawi tidak runtuh dalam semalam karena invasi asing, melainkan karena kebangkrutan moral internal akibat candu populisme murah.

Matahari sejarah berputar, tapi watak kekuasaan sering kali berulang. Jika ditarik ke dalam sosiologi politik kontemporer Indonesia, gejala Panem et Circenses ini mulai mengonfirmasi kehadirannya melalui rangkaian kebijakan dan visualisasi ruang publik yang paradoks.

Kita menyaksikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran ratusan triliun rupiah meluncur di tengah bayang-bayang pelemahan kurs rupiah yang fluktuatif terhadap dolar AS.

Pada saat yang sama, masyarakat disuguhi tontonan penegakan hukum melalui pemberitaan masif yang memamerkan gunungan uang tunai sitaan dari koruptor kakap, kontroversi pesta adat komunal di daerah yang sarat kepentingan politik, hingga drama korupsi pejabat yang silih berganti memenuhi layar gawai kita.

Problem fundamentalnya bukan terletak pada baik atau buruknya program bantuan sosial seperti MBG, melainkan pada pergeseran esensi kebijakan publik itu sendiri.

Baca juga: Ketika Pasar Menghukum, Negara Tidak Boleh Panik

Ketika pemenuhan kebutuhan dasar rakyat bertransformasi menjadi komoditas politik untuk mengamankan popularitas, dan penegakan hukum bergeser menjadi tontonan media yang menghibur, kita sedang menghadapi risiko pelemahan karakter bangsa secara struktural.

Masyarakat perlahan dikondisikan untuk menjadi penonton pasif yang responsnya sekadar reaktif terhadap stimulus instan, sementara daya kritis terhadap isu-isu makro seperti ketahanan fiskal jangka panjang, penurunan kualitas demokrasi, dan reformasi birokrasi yang substansial kian tergerus.

Candu Ilusi Populis

Program Makan Bergizi Gratis secara konseptual memiliki tujuan mulia untuk menekan angka tengkes (stunting) demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Namun, seperti dinukil dari riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), efektivitas program populis berskala masif sangat bergantung pada disiplin fiskal dan akuntabilitas tata kelola.

Di tengah dinamika global yang menekan nilai tukar rupiah, pembiayaan program yang tidak produktif secara langsung berisiko menciptakan ilusi kesejahteraan.

Jika tidak dikelola dengan transparansi tinggi, program ini berpotensi sekadar menjadi "roti" penenang publik yang mengalihkan perhatian dari urgensi penguatan sektor industri dan penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas.

Bahaya laten dari strategi "roti" kian nyata ketika bersanding dengan aspek "sirkus" di ruang publik kita.

Fenomena Kejaksaan Agung yang kerap memamerkan tumpukan uang tunai miliaran rupiah hasil sitaan kasus korupsi, seperti dalam kasus komoditas timah baru-baru ini, menciptakan ambivalensi psikologis.

Sisi positifnya, hal itu adalah bukti kerja nyata aparat penegak hukum. Namun di sisi lain, visualisasi tersebut menjadi tontonan spektakuler yang menutupi kenyataan pahit bahwa sistem pencegahan korupsi kita masih sangat rapuh.

Rakyat dibuat terkesima oleh angka-angka fantastis, layaknya penonton Colosseum yang bersorak melihat gladiator menumbangkan lawannya, tanpa menyadari bahwa uang yang dipamerkan itu adalah hak pembangunan mereka yang telah dijarah.

Kondisi ini berpengaruh ketika upaya membongkar realitas justru terdistraksi oleh konflik internal, seperti yang terekam dalam dinamika pascarilis film dokumenter Pesta Babi produksi Watchdoc.

Film yang sejatinya diniatkan untuk membawa pengalaman dan persoalan masyarakat Papua ke ruang publik ini justru berujung pada laporan polisi oleh figur di dalam lingkaran perjuangan itu sendiri.

Baca juga: Dari Piring Anak hingga Izin Tinggal: Ketika Negara Diperdagangkan

Mengutip analisis sosiologis mengenai gerakan sosial, tantangan terbesar perubahan sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari fase integrasi internal ketika komitmen goyah akibat perbedaan kepentingan atau tekanan baru.

Ketika gerakan pembongkar ketidakadilan terbelah menjadi drama hukum pidana, substansi perjuangan martabat Papua berisiko tenggelam, bergeser menjadi komoditas tontonan visual baru yang menghibur penonton di media sosial tanpa menyelesaikan akar masalah.

Memperkuat Fondasi Fiskal

Kritik atas fenomena Panem et Circenses modern ini tidak boleh berhenti pada retorika pesimisme.

Indonesia membutuhkan jalan keluar yang konstruktif agar terhindar dari lubang kebangkrutan moral dan finansial seperti Romawi Kuno.

Kritik atas fenomena Panem et Circenses modern ini tidak boleh berhenti pada retorika pesimisme.

Indonesia membutuhkan jalan keluar yang konstruktif agar terhindar dari lubang kebangkrutan moral dan finansial seperti Romawi Kuno.

Solusi pertama yang membumi adalah menggeser eksekusi program MBG dari proyek pengadaan terpusat menjadi gerakan desentralisasi melalui "Dapur Komunitas Rakyat" berbasis rukun tetangga (RT) atau desa.

Alih-alih mengandalkan korporasi besar atau birokrasi digital yang kaku, pengelolaan dapur gizi diserahkan langsung kepada kelompok ibu-ibu lokal, dasawisma, dan koperasi desa dengan sistem swakelola terpadu.

Model gotong royong ini secara otomatis memotong rantai birokrasi yang rawan pungutan liar, sekaligus menciptakan rasa nyaman dan aman psikologis bagi anak-anak karena makanan dimasak langsung oleh lingkungan terdekat mereka dengan standar kearifan lokal.

Pendekatan kerakyatan ini secara organik akan mewajibkan pemenuhan bahan baku pangan bersumber dari pekarangan warga, peternak mandiri, dan kelompok tani kecil di desa tersebut melalui sistem kontrak sosial.

Setiap rupiah APBN yang dikucurkan tidak lagi mengalir ke rantai pasok industri besar, melainkan berputar sepenuhnya di dalam ekosistem ekonomi mikro desa, menciptakan lapangan kerja domestik, dan menghidupkan kembali lumbung pangan komunitas.

Dengan mendemokrasikan anggaran langsung ke dapur-dapur rakyat, kita tidak hanya berhasil menyajikan makanan bergizi secara transparan, tetapi juga mengubah program yang semula rawan menjadi alat suap politik konsumtif menjadi mesin penggerak kedaulatan pangan yang mandiri dan partisipatif di tingkat akar rumput.

Baca juga: Korupsi MBG: Membaca Kekecewaan Presiden Prabowo

Selanjutnya, pemerintah harus memperkuat kebijakan makroekonomi dengan fokus pada hilirisasi industri bernilai tambah tinggi untuk memperkuat posisi rupiah secara fundamental, bukan sekadar mengandalkan intervensi moneter jangka pendek dari Bank Indonesia.

Penguatan pertahanan ekonomi jangka panjang harus ditempatkan di atas kepentingan elektoral yang sifatnya temporal.

Pemerintah bersama DPR perlu memperketat batas defisit anggaran yang dialokasikan untuk program populis nontenaga kerja guna memastikan bahwa ruang fiskal untuk pembangunan infrastruktur konektivitas dan peningkatan mutu pendidikan vokasi tetap terjaga di atas 20 persen.

Pada sektor penegakan hukum dan moralitas publik, institusi seperti Kejaksaan Agung dan KPK harus mengubah strategi komunikasi publiknya.

Alih-alih mengedepankan drama pamer uang sitaan secara teatrikal, fokus utama media harus digeser pada transparansi proses pemulihan aset (asset recovery) secara digital yang dapat diakses publik, serta penguatan sistem pencegahan korupsi yang terintegrasi di kementerian dan lembaga.

Ketika penegakan hukum diukur berdasarkan keberhasilan pencegahan sistemik, bukan lagi pada banyaknya drama penangkapan dan tontonan sitaan, maka ruang publik kita akan bersih dari "sirkus politik" yang mengaburkan substansi keadilan.

Pada akhirnya, keberlanjutan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa pandai pemimpinnya menyediakan jatah pangan instan dan hiburan visual bagi rakyatnya.

Jika Indonesia ingin benar-benar mencapai cita-cita emasnya pada tahun 2045, kita harus berani beralih dari politik akrobatik menuju politik substantif.

Rakyat tidak boleh selamanya diposisikan sebagai konsumen "roti dan sirkus" yang pasif.

Dengan memperkuat fondasi fiskal, mendisiplinkan moralitas elite penegak hukum, dan mendidik masyarakat untuk mengawal kebijakan jangka panjang, kita sedang memastikan bahwa masa depan republik ini tidak akan berakhir tragis seperti puing-puing Kekaisaran Romawi.

Tag:  #panem #circenses #kuasa #roti #sirkus

KOMENTAR