Purbaya Buka Suara soal Kekhawatiran Fiskal RI: S&P Tak Persoalkan MBG
DPR RI usai rapat bersama sejumlah menteri pada Sabtu (6/6/2026) pagi di Gedung DPR RI, Jakarta.(KOMPAS.com/Rahel)
11:52
6 Juni 2026

Purbaya Buka Suara soal Kekhawatiran Fiskal RI: S&P Tak Persoalkan MBG

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sumber kekhawatiran lembaga pemeringkat global terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Purbaya mengatakan, dalam pertemuan terbarunya dengan S&P Global Ratings, lembaga tersebut tidak mempersoalkan dampak program MBG terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut dia, S&P lebih mencermati sentimen negatif yang berkembang di pasar keuangan domestik.

“Waktu saya ketemu S&P terakhir, dia tidak meributkan itu sebetulnya, cuma dia merebutkan sentimen, mempertanyakan atau mengkhawatirkan sentimen negatif yang ada di market, itu saja,” ujar Purbaya saat konferensi pers di Gedung DPR/MPR RI, Sabtu (6/6/2026).

Baca juga: Purbaya Sebut Rupiah Lemah Tekan Pedagang Tahu Tempe

Dalam satu tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 20 persen. Jika dihitung dari titik tertingginya, penurunan IHSG mencapai 38 persen.

Koreksi tersebut melampaui kedalaman penurunan saat pandemi Covid 19. Arus keluar investor asing juga mencapai Rp 78 triliun dalam 12 bulan terakhir.

Kondisi itu mencerminkan turunnya kepercayaan investor asing terhadap pasar modal domestik.

Salah satu titik yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan interim freeze pada 28 Februari 2026.

Keputusan tersebut menyoroti persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia di hadapan komunitas investasi global.

Baca juga: Purbaya Bakal ke China dan Inggris untuk Promosikan Surat Utang RI

Pada saat yang sama, lembaga pemeringkat Moody's, Fitch, dan S&P juga mencermati kondisi fiskal Indonesia.

Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi itu berpotensi menambah tekanan pada belanja fiskal dan mendorong inflasi dari sisi biaya.

Selain itu, kurs rupiah telah melemah sekitar 8 persen secara year to date (YTD). Pelemahan tersebut turut memperkuat persepsi risiko di kalangan investor institusional global.

Meski demikian, Purbaya memastikan program MBG dirancang fleksibel.

Pemerintah, kata dia, tetap memiliki ruang melakukan penyesuaian dan efisiensi anggaran sesuai kebutuhan.

“Itu kan program fleksibel, MBG kan fleksibel. lihat sendiri kan, Presiden amat fleksibel. Dimana ketika diperlukan efisiensi, efisiensi dilakukan,” beber Purbaya.

Purbaya mengatakan pemerintah telah memberi keyakinan kepada lembaga pemeringkat global, pelaksanaan program prioritas tetap sejalan dengan upaya menjaga disiplin anggaran.

Ia menegaskan pemerintah masih optimistis defisit APBN tetap berada pada kisaran 2 persen sampai 3 persen.

“Termasuk program-program itu nggak dipertanyakan karena kita bisa yakinkan bahwa dengan program itu pun, defisit bisa kita pertahankan di 2-3 persen,” lanjut Purbaya.

Pemerintah juga disebut memiliki ruang kebijakan untuk mengantisipasi berbagai risiko eksternal.

Risiko tersebut termasuk lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi menambah tekanan terhadap APBN.

“Dan kalau kepepet misalnya harganya minyak yang tinggi, itu bisa dikendalikan sesuai dengan yang dibutuhkan,” pungkasnya.

Purbaya mengatakan salah satu kesalahpahaman yang sempat muncul adalah anggapan program MBG dan sejumlah program prioritas lain bersifat kaku.

Menurut dia, pemerintah telah menjelaskan kepada S&P, program tersebut memiliki fleksibilitas dalam pelaksanaannya.

Dengan begitu, program prioritas dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan fiskal negara.

Purbaya menegaskan tidak ada alasan untuk meragukan kondisi fiskal Indonesia.

Ia memastikan pemerintah mampu memantau perkembangan ekonomi, menyesuaikan kebijakan jika diperlukan, dan menjaga program prioritas tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan negara.

“Jadi kan tadinya anggapannya MBG enggak fleksibel, yang lain enggak fleksibel, saya kasih ke S&P yang ini bisa di-adjust, yang ini bisa di-adjust, jadi nggak usah takut tentang kondisi fiskal kita,” ungkap Purbaya.

Tag:  #purbaya #buka #suara #soal #kekhawatiran #fiskal #persoalkan

KOMENTAR