Investor Asing Angkat Kaki Buat IHSG Anjlok, Pemerintah Dinilai Lambat Merespons
Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk di Asia dinilai tidak lepas dari menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Pemerintah juga dinilai terlambat merespons kekhawatiran investor sehingga sentimen negatif terus membebani pasar saham.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan pemerintah dan regulator terlambat merespons penurunan kepercayaan di pasar.
Meski demikian, ia melihat mulai muncul sinyal positif dari upaya pemerintah membuka ruang komunikasi dengan pelaku industri pasar modal.
“Bisa dibilang begitu (pemerintah terlambat respon pasar), namun kabar baik dari kebijakan kita bisa lihat dari diskusi jajak pendapat yang diinisiasi MPR bersama para praktisi dari industri pasar modal pada Kamis lalu,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: IHSG Anjlok 4,20 Persen, Asing Lepas Saham Rp 3,7 Triliun
IHSG mengalami tekanan jual besar pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026).
Indeks anjlok 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,77.
Selama satu tahun terakhir, IHSG terkoreksi sekitar 20 persen.
Jika dihitung dari titik tertingginya, penurunan IHSG telah mencapai 38 persen.
Penurunan tersebut bahkan melampaui kedalaman koreksi saat pandemi Covid 19.
Arus keluar investor asing juga mencapai Rp 78 triliun dalam 12 bulan terakhir.
Kondisi tersebut mencerminkan erosi kepercayaan investor secara struktural.
Mayoritas indeks utama Asia juga ditutup di zona merah pada hari perdagangan yang sama.
Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,15 persen ke level 24.961,95.
Nikkei Jepang terkoreksi 1,31 persen ke posisi 66.588,12.
Shanghai Composite China melemah 0,74 persen ke level 4.027,74.
Faris mengatakan koreksi tajam IHSG tidak hanya dipicu faktor global.
Menurut dia, tekanan tersebut juga berkaitan dengan menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.
Salah satu isu yang menjadi perhatian besar investor adalah potensi penurunan status Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Bagi investor institusional global, status pasar memiliki dampak penting terhadap strategi investasi dan kepatuhan pengelolaan dana.
“Untuk institusi, tentu akan ada review apakah pasar Indonesia masih investible atau tidak. Sehingga, penurunan yang terjadi saat ini karena masih menunggu status dari pasar Indonesia apakah masih di emerging market atau tidak,” paparnya.
Baca juga: IHSG Anjlok 4,20 Persen ke 5.594, WIFI, JPFA, dan PGAS Ambles
Ketidakpastian tersebut membuat banyak investor institusi memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia sambil menunggu kejelasan.
Sebagian besar pengelola dana global memiliki ketentuan internal yang mengharuskan investasi ditempatkan pada negara dengan kriteria tertentu.
Kriteria tersebut mencakup status pasar dan tingkat kelayakan investasi.
“Tentu hal ini akan membuat investor institusi mengurangi eksposur mengingat ada faktor mandatory investment grade sebagai aspek kepatuhan, dengan dana kelolaan yang besar tidak heran jika hal tersebut membuat penurunan IHSG dari segi performa maupun likuiditas,” pungkas dia.
Faris menambahkan, keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap kepastian bisnis dan arah kebijakan.
Dibandingkan dengan sejumlah negara berkembang lain yang masih mampu menjaga stabilitas pasar saham, Indonesia dinilai menghadapi tingkat ketidakpastian lebih tinggi.
Kondisi itu membuat IHSG tertinggal dibandingkan sejumlah bursa negara berkembang lain yang mulai menikmati arus masuk modal saat sentimen global membaik.
“Selain ketidakpastian mengenai status market, dari sisi investor asing mengkhawatirkan kepastian bisnis yang tidak predictable. Sehingga pasar Indonesia tidak ikut serta dalam rally emerging market setelah sentimen Timur Tengah mereda,” lanjut Faris.
Meski tekanan pasar masih berlangsung, Faris menilai peluang memulihkan kepercayaan investor tetap terbuka.
Syaratnya, pemerintah mampu merespons berbagai kekhawatiran pasar secara cepat dan tepat.
Menurut dia, pasar saat ini membutuhkan kepastian arah kebijakan dan komunikasi yang lebih intensif dari pemerintah maupun regulator.
Faris mengaku belum mengetahui langkah konkret yang sedang disiapkan pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor.
Namun, ia menilai pemerintah harus mulai menanggapi berbagai isu yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.
“Langkah konkret yang sedang disiapkan pemerintah kita tidak tahu, tetapi pemerintah harusnya menanggapi apa yang menjadi kekhawatiran market dan MPR menginisiasi diskusi untuk mendengar masukan dari pelaku pasar,” imbuhnya.
Tag: #investor #asing #angkat #kaki #buat #ihsg #anjlok #pemerintah #dinilai #lambat #merespons