Emiten Grup Djarum IBST Optimalkan 3.200 Menara dan 19.500 Km Serat Optik
Ilustrasi serat optik, fiber optic, jaringan serat optik. (PIXABAY/BRUNO)
19:16
5 Juni 2026

Emiten Grup Djarum IBST Optimalkan 3.200 Menara dan 19.500 Km Serat Optik

Emiten menara telekomunikasi Grup Djarum, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), memperkuat strategi optimalisasi aset infrastruktur.

Saat ini, perseroan mengelola lebih dari 3.200 menara telekomunikasi dan hampir 19.500 kilometer jaringan serat optik.

Direktur IBST Doni Wilaga Kusuma mengatakan, fokus utama perseroan saat ini adalah meningkatkan utilisasi dan produktivitas aset, baik pada bisnis menara maupun jaringan serat optik.

"Fokus utama Perseroan saat ini adalah meningkatkan utilisasi dan produktivitas aset yang telah dimiliki. Untuk bisnis menara, kami terus mendorong peningkatan kolokasi dan penambahan penyewa pada lokasi-lokasi yang sudah ada," ujar Doni secara virtual, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Emiten Grup Djarum, SUPR Mulai Persiapkan Tahapan Go Private

Doni mengatakan, IBST juga memperluas monetisasi jaringan serat optik melalui berbagai layanan konektivitas.

"Sementara untuk bisnis serat optik, kami berupaya meningkatkan monetisasi jaringan melalui layanan connectivity, backhaul, metro-E, leased line, serta berbagai solusi berbasis serat optik lainnya," katanya.

Menurut Doni, sinergi dengan Protelindo Group dan iForte Group membuka peluang lebih besar untuk meningkatkan pemanfaatan aset secara terintegrasi.

"Selain itu, dengan adanya sinergi bersama Protelindo Group dan iForte Group beserta anak-anak perusahaan lainnya, Perseroan memiliki peluang yang lebih besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset secara terintegrasi, memperluas basis pelanggan, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan infrastruktur yang dimiliki," jelasnya.

Baca juga: Emiten Grup Djarum SUPR Bakal Delisting, Apa Peluang dan Risiko bagi Investor Ritel?

Dari sisi keuangan, IBST mencatat peningkatan profitabilitas sepanjang 2025.

Direktur IBST Suciratin mengatakan, bergabungnya perseroan ke Protelindo Group menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA), serta margin perusahaan.

"Bergabungnya Perseroan ke dalam Protelindo Group memberikan banyak manfaat strategis, baik dari sisi operasional, keuangan, maupun pengembangan bisnis,” kata dia.

“Perseroan memperoleh akses terhadap skala usaha yang lebih besar, penerapan best practice yang lebih luas, serta berbagai peluang sinergi yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing," ujarnya.

Suciratin mengatakan, dampak sinergi tersebut mulai terlihat pada perbaikan profitabilitas dan struktur keuangan perusahaan sepanjang tahun lalu.

"Dampak positifnya mulai terlihat pada perbaikan profitabilitas dan penguatan struktur keuangan Perseroan sepanjang tahun 2025,” jelasnya.

“Tercermin dengan adanya peningkatan EBITDA margin dari 67,2 persen pada tahun 2024 menjadi 90,7 persen pada tahun 2025," ujar Suciratin.

IBST juga melihat peluang pertumbuhan dari bisnis non-menara, terutama layanan berbasis serat optik dan konektivitas.

Direktur IBST Catherine Sembiring Pelawi mengatakan, kontribusi bisnis non-menara telah mencapai sekitar 26 persen terhadap total pendapatan perusahaan.

"Saat ini, bisnis non tower IBST menyumbang sekitar 26 persen dari total pendapatan perusahaan, terdiri dari FTTT sebesar 24 persen, FTTH 1 persen, dan connectivity 1 persen," ujarnya.

FTTT merupakan fiber to the tower, sedangkan FTTH merupakan fiber to the home.

Catherine mengatakan, perseroan akan terus memperkuat kapasitas jaringan menara dan serat optik serta meningkatkan pemanfaatannya.

"Kedepannya, Perseroan dan manajemen akan berupaya untuk meningkatkan aset tower dan fiber optic serta meningkatkan utilisasinya seperti tenancy ratio dan utilization ratio," tegas Catherine.

Sebagai informasi, IBST melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 31 Agustus 2012 melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Saat itu, harga IPO IBST ditetapkan Rp 1.000 per saham.

Pada hari pertama perdagangan, saham IBST melonjak 50 persen atau naik Rp 500 hingga ditutup di level Rp 1.500 per saham.

IBST bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi.

Bisnis utama perseroan mencakup penyediaan menara telekomunikasi dan layanan pendukung jaringan nirkabel.

Sejak menjadi perusahaan terbuka, IBST berkembang menjadi salah satu pemain infrastruktur telekomunikasi yang mendukung kebutuhan konektivitas operator seluler di Indonesia.

Tag:  #emiten #grup #djarum #ibst #optimalkan #3200 #menara #19500 #serat #optik

KOMENTAR