KAI Targetkan Akuisisi INKA Rampung November, Integrasi Dimulai Tahun Depan
Penampakan rangkaian KRL terbaru buatan PT INKA yang sedang menjalani uji sertifikasi di Stasiun Pasar Minggu pada Senin (19/1/2026). (Kompas.com/Dian Erika)
07:04
4 Juni 2026

KAI Targetkan Akuisisi INKA Rampung November, Integrasi Dimulai Tahun Depan

- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan proses akuisisi PT Industri Kereta Api (INKA) dapat diselesaikan pada November 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya integrasi kedua perusahaan yang mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan, penandatanganan akuisisi diharapkan dapat terlaksana sesuai roadmap yang telah disusun bersama.

"Roadmap kami di tahun 2026 ini, kita harapkan di bulan November penandatanganan akuisisi INKA itu sudah terjadi. Sehingga 2027, roadmap yang kita sudah buat bersama-sama bisa mulai dikerjakan, termasuk engagement dengan technology partner atau principal, plus juga persiapan untuk bisnis MRO," kata Gede dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026) seperti dikutip dari Antara.

Baca juga: KAI Percepat Pengembangan Peron Stasiun Bogor untuk KRL 12 Rangkaian

Menurut Gede, Danantara telah memberikan mandat kepada KAI dan INKA pada 18 Mei 2026 untuk melakukan proses uji tuntas (due diligence) serta kajian menyeluruh terkait integrasi kedua perusahaan.

Kajian tersebut difokuskan untuk memperkuat kepastian pasokan sarana perkeretaapian, meningkatkan efisiensi operasional, membangun sinergi jangka panjang, serta mendukung perbaikan fundamental bisnis INKA.

Gede menjelaskan, kebutuhan sarana perkeretaapian KAI dalam lima tahun mendatang telah dipetakan secara rinci. Kebutuhan tersebut mencakup sekitar 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 kereta penumpang, dan 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk wilayah Jabodetabek.

Selain untuk memenuhi kebutuhan armada, integrasi KAI dan INKA juga didorong oleh berbagai tantangan yang selama ini muncul dalam proses pengadaan sarana perkeretaapian.

Menurut Gede, integrasi diharapkan mampu meningkatkan ketepatan waktu pengiriman dan kualitas produk kereta yang dipasok kepada operator.

"Dengan adanya integrasi KAI dan INKA, kita harapkan KAI dan INKA bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang, bukan hanya per tahun atau jangka pendek, sehingga semua persiapan R&D maupun manufaktur INKA itu bisa direncanakan dari awal sampai akhir," ujarnya.

Ia menambahkan, kepastian pesanan jangka panjang akan memberikan ruang bagi INKA untuk memperkuat investasi manufaktur sekaligus memperbaiki rantai pasok.

Potensi Pendapatan INKA Capai Rp 33,9 Triliun 

KAI memperkirakan integrasi dengan INKA akan memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan keuangan perusahaan manufaktur kereta api nasional tersebut.

"Dari kondisi yang ada, order yang kira-kira sudah kita amankan buat INKA lima tahun ke depan itu sekitar Rp18,9 triliun. Sedangkan bisnis MRO atau recurring income itu sekitar Rp3 triliun per tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan itu sekitar Rp15 triliun," kata Gede.

Dengan demikian, total potensi pendapatan yang dapat diperoleh INKA dalam lima tahun ke depan mencapai sekitar Rp 33,9 triliun, yang berasal dari kontrak pengadaan sarana dan bisnis maintenance, repair, and overhaul (MRO).

Gede mengatakan, KAI menargetkan pada 2029 INKA dapat berkembang menjadi perusahaan manufaktur kereta api yang lebih sehat secara finansial sekaligus memiliki bisnis MRO yang kuat dan berkelanjutan.

Belajar dari Rusia, Jepang, dan China

Dalam menyusun skema integrasi, KAI melakukan benchmarking terhadap sejumlah negara yang telah menerapkan model integrasi antara operator dan produsen kereta api.

Di Rusia, operator kereta nasional Russian Railways mengakuisisi perusahaan manufaktur Transmashholding untuk menyelaraskan pengembangan produk dan roadmap penelitian.

Sementara di Jepang, Japan Railways (JR) mengakuisisi penuh Japan Transport Engineering Company (J-TREC), sehingga memungkinkan pengendalian desain sarana sejak tahap awal sekaligus penerapan konsep design for maintenance.

Menurut Gede, model yang diterapkan Rusia dan Jepang terbukti mampu meningkatkan efisiensi biaya pengadaan, memberikan kepastian perencanaan jangka panjang, serta mengarahkan riset dan pengembangan sesuai kebutuhan operator.

"Dari kondisi Rusia dan Jepang sendiri, kita yakin bahwa integrasi KAI dan INKA itu akan bisa memberikan manfaat positif bagi kedua belah pihak," ujarnya.

Gede juga menyinggung keberhasilan China membangun industri perkeretaapian nasional melalui CRRC Group. Menurut dia, kesuksesan tersebut didukung kebijakan yang mewajibkan produsen global menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan lokal.

"Jadi kami harapkan dengan adanya integrasi KAI dan INKA, diikuti juga oleh support dari principal-principal kuat yang kita syaratkan jika ingin menyuplai sarana ke KAI harus membuat kerja sama strategis. Bukan hanya kerja sama pengadaan, jadi transfer teknologi, transfer fasilitas, dan lain sebagainya dengan INKA," kata Gede.

Baca juga: INKA Ekspor 3 Platform Lokomotif ke Australia

Tag:  #targetkan #akuisisi #inka #rampung #november #integrasi #dimulai #tahun #depan

KOMENTAR