Anak Sudah Dewasa, Mengapa Keuangan Lansia Masih Tertekan?
Kondisi finansial lansia Indonesia tetap rentan meskipun usia anak sudah dewasa.
Fenomena tersebut semakin sering terjadi di Indonesia.
Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, banyak orang tua mengira setelah anak bekerja, kondisi keuangan akan lebih ringan.
Baca juga: Cara Mengelola Dana Darurat untuk Lansia, Hindari 5 Kesalahan Ini
Ilustrasi lansia.
"Faktanya tidak selalu demikian," kata dia kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Ia menambahkan, penyebab utama dari fenomena tersebut adalah dana pensiun yang terlalu kecil.
Apalagi sebagian besar masyarakat masih mengandalkan pesangon dan BPJS Ketenagakerjaan.
"Padahal dana tersebut sering habis dalam beberapa tahun pertama pensiun," imbuh dia.
Baca juga: Mengapa Dana Darurat Penting bagi Lansia di Era Aging Population?
Inflasi gerus daya beli
Rista juga mengingatkan, setiap tahunnya salah satu faktor yang tidak boleh dilupakan oleh pensiunan atau lansia adalah adanya inflasi.
Kondisi ini juga patut diperhitungkan oleh pekerja yang sedang menyiapkan kehidupan setelah masa kerja.
Sebagai ilustrasi, ketika biaya hidup saat ini mencapai Rp 10 juta per bulan dan inflasi diasumsikan sebesar 5 persen, maka 10 tahun lagi kebutuhan yang sama bisa mendekati Rp 16 juta per bulan.
Hal tersebut masih harus dibarengi dengan biaya kesehatan yang terus meningkat seiring usia yang bertambah.
Baca juga: Indonesia Masuki Aging Population, 10 Provinsi Ini Punya Lansia Terbanyak
Ilustrasi
Usia lanjut kerap kali identik dengan penyakit seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.
Biaya perawatan untuk penyakit tersebut dapat mencapai ratusan juta rupiah.
Di sisi lain, kondisi finansial lansia juga kerap kali masih menghadapi tekanan karena membantu anak yang sudah dewasa, tetapi belum mandiri secara keuangan.
Rista mengungkapkan, banyak pensiunan masih membiayai cucu, membantu cicilan rumah anak, dan menjadi ATM keluarga.
Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Lansia Tembus 11,97 Persen
"Akibatnya, dana pensiun terkuras lebih cepat," ungkap dia.
Evaluasi pengeluaran tiap bulan
Untuk dapat mengatur kondisi finansial, lansia harus melakukan evaluasi pengeluaran setiap tahun.
Rista mengingatkan, lansia harus mempertahankan sebagian dana pada instrumen yang mampu mengalahkan inflasi.
"Jangan menaruh seluruh dana di tabungan biasa," ungkap dia.
Baca juga: Kemenkeu: Biaya Hidup 80 Persen Lansia Bergantung pada Anak
Ia mengimbau lansia untuk tetap memiliki penghasilan tambahan bila memungkinkan.
Rista juga meminta pensiunan untuk menetapkan batas bantuan kepada anak agar dana pensiun tidak habis.
"Jangan sampai menjadi beban anak karena terlalu banyak berkorban untuk anak," tutur Rista.
Perubahan gaya hidup lansia
Sementara itu, Perencana keuangan independen Andy Nugroho menjelaskan, keadaan finansial lansia juga sangat dipengaruhi dengan kesadaran untuk mengubah gaya hidup setelah purnatugas.
Ilustrasi pensiun. Tips menyiapkan dana pensiun. Dana pensiun. Dana hari tua. Cara mengumpulkan dana hari tua.
Baca juga: Gen Z dan Lansia: Dua Kutub, Satu Nasib
Keuangan yang selalu tertekan meskipun anak sudah dewasa dapat terjadi jika pensiunan memiliki gaya hidup yang berlebihan.
"Sehingga membuat pengeluaran menjadi lebih besar," ungkap dia.
Andy mengatakan, meskipun anak sudah dewasa dan bekerja, kerap kali pendapatan atau income yang didapatkan belum sebanding dengan kebutuhan hidupnya.
Faktor lain seperti inflasi juga merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang menekan kondisi finansial lansia.
Baca juga: Jumlah Lansia Bekerja di Korsel Tembus Rekor Tertinggi Tahun Ini
Perlu menabung sejak lama
Untuk menghadapi faktor-faktor tersebut lansia perlu menabung dan berinvestasi dari jauh hari.
"Untuk mengamankan jumlah dana pensiun yang diperlukan," ujar Andy.
Ketika kondisi tidak dapat dihindari, Andy menyarankan lansia dapat mengupayakan untuk bekerja secara aktif.
Dengan demikian, masih terdapat income untuk terus dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Baca juga: Asabri Bikin Sekolah Lansia untuk Peserta Pensiun, Apa Kegiatannya?
Sementara itu, lansia yang tidak mampu mengikuti program asuransi kesehatan swasta diharapkan tetap memiliki asuransi negara.
"Pastikan status kepesertaan BPJS terus aktif," ucap dia.
Faktor inflasi dalam dana pensiun
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno mengatakan, tekanan pada kondisi finansial lansia kerap kali dipengaruhi oleh absennya penghitungan inflasi dalam menghitung keperluan dana pensiun.
Ilustrasi pensiun. Banyak pensiunan masih mengandalkan sokongan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.
Rata-rata inflasi secara nasional memang berada di kisaran 3 sampai 4 persen tiap tahunnya.
Baca juga: Populasi Jepang Turun 14 Tahun Berturut-turut, Jumlah Lansia Sentuh Rekor Tertinggi
Meski demikian, kenaikan biaya pada sektor tertentu seperti kesehatan dan pendidikan dinilai kerap melampaui angka inflasi tersebut.
Kondisi ekonomi ini berisiko membuat para lansia rentan secara finansial lantaran dana pensiun yang terkumpul kerap kali tidak mencukupi kebutuhan hidup, sekalipun anak-anak mereka sudah beranjak dewasa.
Dengan kata lain, ketidakcukupan dana pensiun tersebut sering disebabkan oleh kekeliruan dalam proses perencanaan di masa lalu.
"Kenapa bisa tidak cukup? Karena kita mungkin tidak memasukkan asumsi inflasi ke dalam biaya hidup pensiun kita saat persiapan pensiun. Kemudian juga inflasinya bisa terakumulasi," kata Mike.
Baca juga: Potensi Pasar Nutrisi Lansia di Indonesia: Peluang dan Tantangan
Mike mengilustrasikan dampak akumulasi tersebut terhadap penurunan nilai riil uang seiring berjalannya waktu.
"Maksudnya begini, kalau kita saat ini inflasi itu 4 persen. Berarti 10 tahun lagi akumulasinya bisa membuat nilai uang kita turun 30 sampai 35 persen. Jadi kalau uang Rp 5 juta saat ini, 10 tahun lagi nilainya mungkin tinggal 3,5 atau Rp 3,3 juta," kata dia.
Pengeluaran tak terduga dan beban finansial masa lalu
Mike mengungkapkan, selain faktor penurunan nilai mata uang akibat inflasi, ketergerusan tabungan di usia senja juga dipicu oleh munculnya pengeluaran tak terduga serta beban finansial masa lalu yang belum terselesaikan.
"Kemudian bisa juga dana pensiun tidak cukup karena risiko kesehatan yang tak terduga. Ada penyakit kritis atau kecelakaan, jadi terpaksa dipakai buat biaya recovery," ucap dia.
Baca juga: 1 dari 7 Pekerja di Jepang adalah Lansia, Capai Rekor Tertinggi
Ilustrasi mengelola keuangan saat resesi.
"Bisa juga begini, kita pensiun tetapi masih ada kewajiban cicilan utang. Nah, kewajiban cicilan utang ini bisa KPR, bisa motor. Umumnya sih kalau KPR sudah harusnya selesai, tetapi bisa jadi selain KPR si lansia ini pensiun juga masih punya kewajiban utang sisa. Nah, itu yang bisa menggerus dana pensiunnya," jelas dia.
Menghadapi risiko finansial ini, Mike menyarankan para lansia untuk lebih ketat dan berhati-hati dalam membelanjakan atau menarik dana pensiun yang mereka miliki.
Salah satu metode yang dianjurkan adalah pembatasan penarikan tahunan agar sisa dana dapat terus dikembangkan.
"Ya berarti kita harus hati-hati dalam kita menarik menggunakan dana pensiun kita. Kalau dalam perencanaan keuangan itu ada 4 persen rule of 4 persen. Artinya gini, kita itu tiap tahun itu hanya boleh dibatasi maksimal mengambil dana pensiun kita itu 4 persen saja, sehingga yang 96 persen itu kita investasikan lagi, dan demikian selanjutnya di tahun-tahun berikutnya. Jadi tiap tahun itu hanya mengambil 4 persen saja," tutur Mike.
Baca juga: Jumlah Lansia di China Terus Meningkat, Permintaan Minyak Goreng Dunia Bakal Menurun
Dia mencontohkan, jika seseorang memiliki dana pensiun sebesar Rp 500 juta, maka batas penarikan maksimal dengan skema ini adalah Rp 20 juta per tahun, atau sekitar Rp 1,6 juta per bulan.
"Sehingga kita punya dana pensiun itu Rp 500 juta dikurang Rp 20 juta kan berarti tinggal Rp 480 juta. Nah, itu yang diinvestasikan lagi. Investasinya juga pilih-pilih yang bisa memberikan return bisa memberikan yield begitu, bisa memberikan yield di atas inflasi sehingga pokok investasinya itu tidak diambil. Kita hanya mendapatkan bunga atau mendapatkan hasil investasinya saja," tambah dia.
Kombinasi alokasi aset investasi
Terkait instrumen investasi, Mike menekankan pentingnya strategi kombinasi alokasi aset yang disesuaikan dengan tingkat usia, di mana portofolio harus bergeser menjadi lebih konservatif seiring bertambahnya umur seseorang.
Ilustrasi investasi. Surat Berharga Negara. SBN 2026. Sukuk Tabungan. Sukuk Wakaf. Obligasi Negara Ritel. SBN Ritel 2026. Savings Bond Ritel. Jadwal SBN 2026. Cara beli SBN Ritel 2026.
"Mesti kombinasi, kombinasinya biasanya begini, semakin kita usia tua berarti harus semakin konservatiflah begitu, ya usia pensiun kan memang sudah tua tetapi kan awal-awal kita itu mungkin kita bisa bagi usia misalnya 60 ke 65 misalnya. 60 ke 65 kita 40 persennya ke reksa dana, 60 persennya ke obligasi atau deposito, begitu," jabar dia.
Baca juga: Di DPR, Tangis Risma Pecah Saat Mendengar Kisah Lansia Sebatang Kara Tak Dapat Bansos
Porsi penataan aset ini kemudian harus diubah ketika lansia memasuki usia yang lebih tua guna menyeimbangkan antara aspek pertumbuhan nilai (growth) dan keamanan aset (safety).
"Kalau usia 70 plus, 20 persennya itu ke saham atau reksa dana, 80 persennya ke obligasi atau deposito, begitu. Jadi harus ada porsi yang well balance mengikuti risiko dari usianya. Di mana harus ada alokasi yang bisa membuat dananya itu bertumbuh sesuai inflasi dan harus juga ada alokasi yang membuat dia itu bisa memberikan yield atau pendapatan tetap begitu," papar Mike.
Atur diversifikasi sumber pendapatan pasif
Lebih lanjut, Mike mengungkapkan, diversifikasi sumber pendapatan pasif (passive income) juga dinilai krusial guna menopang biaya hidup di masa tua, seperti pemanfaatan properti rental hingga instrumen surat utang negara.
"Bisa kita diversifikasi untuk passive income source-nya. Contoh misalnya dari properti rental, lalu dari dividen saham, dari saham yang bisa memberikan dividen memang. Jadi passive income-nya itu bisa terdiversifikasi dengan lebih baik lagi, dari properti rental, ada dividen saham, ada pendapatan dari kupon obligasi atau sukuk, ada pendapatan dari deposito. Kombinasi ini diharapkan bisa menghasilkan pendapatan investasi di atas inflasi. Itu yang digunakan sebenarnya untuk apa? Untuk membiayai biaya hidup pensiun, begitu," terang dia.
Baca juga: Pensiun Tenang Tanpa Merepotkan Anak, Ini Cara Hitung Dananya
Di sisi lain, Mike mewanti-wanti para lansia agar segera menyelesaikan seluruh beban utang mereka sebelum memasuki masa purnabakti, mengingat ketiadaan pendapatan aktif berisiko menyulitkan proses pembayaran cicilan.
"Kalau lansianya sudah tergantung sudah ada utang. Nah, ini 1 tahun sebelum pensiun sebaiknya itu lunasi dulu semua utangnya, jadi karena kita pensiun kan sudah tidak ada income, sudah tidak ada penghasilan, berarti kita kan tidak punya kemampuan untuk membayar cicilan, karena membayar cicilan itu kan harus dari pendapatan yang sifatnya rutin," tegas dia.
Terakhir, Mike mendorong adanya penyesuaian gaya hidup serta pemanfaatan berbagai fasilitas khusus lansia yang disediakan oleh pemerintah maupun fasilitas publik.
"Nah, jika masih ada utang, prioritaskan pelunasan di 5 tahun pertama, bagaimana caranya supaya pelunasannya itu lebih cepat begitu. Hindari utang baru di masa pensiun," pungkas dia.
Tag: #anak #sudah #dewasa #mengapa #keuangan #lansia #masih #tertekan