Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Harga Barang dan Ekonomi?
Ilustrasi Rupiah Melemah(TOTO SIHONO)
14:24
3 Juni 2026

Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Harga Barang dan Ekonomi?

– Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan dan tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada hari ini, Rabu (3/6/2026).

Pada pukul 14.00 WIB, kurs rupiah terpantau di level Rp 17.957 per dollar AS, level terendah sepanjang sejarah.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, investor, hingga masyarakat karena nilai tukar memiliki keterkaitan langsung dengan harga barang, aktivitas perdagangan, investasi, hingga stabilitas sektor keuangan.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Salah Satu Sebab IHSG Merosot Tajam Rabu (3/6) Siang

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Dalam ilmu ekonomi, pelemahan nilai tukar atau depresiasi mata uang terjadi ketika nilai suatu mata uang menurun dibandingkan mata uang negara lain.

Ketika rupiah melemah terhadap dollar AS, masyarakat dan pelaku usaha membutuhkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh jumlah dollar AS yang sama.

Menurut Investopedia, mata uang yang lemah merupakan mata uang yang nilainya lebih rendah dibandingkan mata uang negara lain.

Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari inflasi yang tinggi, kondisi ekonomi yang melemah, defisit transaksi berjalan, hingga perubahan persepsi investor terhadap prospek ekonomi suatu negara.

Baca juga: IHSG Ambruk Nyaris 5 Persen, Rupiah Terkoreksi 7 Persen, Asing Kabur Rp 66,2 Triliun

Meski sering dipandang sebagai kabar buruk, pelemahan mata uang tidak selalu membawa dampak negatif.

Dalam kondisi tertentu, depresiasi nilai tukar justru dapat meningkatkan daya saing ekspor dan mendorong aktivitas ekonomi. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan memicu tekanan inflasi.

Mengapa rupiah melemah?

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Eddy Junarsin beberapa waktu lalu menjelaskan, pelemahan rupiah merupakan hasil kombinasi berbagai faktor ekonomi dan non-ekonomi.

Ilustrasi rupiah dan dollar ASTHINKSTOCKS Ilustrasi rupiah dan dollar AS

Secara teknis, salah satu penyebabnya adalah menurunnya surplus neraca perdagangan dibandingkan periode sebelumnya.

Baca juga: Rupiah Kian Terpuruk, Analis Sebut Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Ia menjelaskan, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus karena nilai ekspor tetap lebih besar dibandingkan impor. Namun, surplus tersebut semakin mengecil sehingga kemampuan menopang nilai tukar juga berkurang.

Di tingkat global, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi faktor yang memberikan tekanan terhadap rupiah.

Sebagai negara pengimpor minyak atau net importer, Indonesia harus mengeluarkan biaya yang lebih besar ketika harga minyak meningkat. Pada saat yang sama, suku bunga acuan AS masih relatif tinggi karena bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) belum menunjukkan keyakinan untuk segera menurunkannya.

Kondisi tersebut membuat banyak investor memilih menempatkan dananya di aset-aset yang dianggap lebih aman.

Baca juga: IHSG Terkoreksi 253,056 Poin Jelang Penutupan Sesi 1, Imbas Rupiah Anjlok?

“Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat,” kata Eddy.

Penjelasan tersebut sejalan dengan teori yang disampaikan Investopedia bahwa pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh tingkat inflasi, suku bunga, arus modal internasional, kondisi perdagangan, serta kepercayaan investor terhadap suatu negara.

Barang impor menjadi lebih mahal

Dampak yang paling cepat dirasakan dari pelemahan rupiah adalah meningkatnya biaya impor.

Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS, importir membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang yang sama dari luar negeri. Akibatnya, harga barang impor berpotensi meningkat.

Baca juga: Biang Kerok Rupiah Anjlok Sentuh Level di Atas Rp 17.900 per Dollar AS

Upaya pemerintah dalam menjaga pemulihan ekonomi diperkirakan akan berpengaruh terhadap membaiknya kinerja impor.pixabay.com Upaya pemerintah dalam menjaga pemulihan ekonomi diperkirakan akan berpengaruh terhadap membaiknya kinerja impor.

Mata uang yang lebih lemah membuat impor menjadi lebih mahal bagi konsumen domestik karena harga barang yang dibeli dari luar negeri harus dikonversi menggunakan kurs yang lebih tinggi.

Dalam konteks Indonesia, dampak ini tidak hanya dirasakan pada barang konsumsi impor. Banyak industri nasional masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, serta peralatan produksi yang didatangkan dari luar negeri.

Eddy mengatakan tidak semua sektor memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah.

“Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal,” ungkapnya.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah ke Dollar AS Rabu (3/6) Bank Mandiri, BCA, dan BNI

Peningkatan biaya produksi tersebut berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.

Ancaman inflasi dan daya beli masyarakat

Ketika harga barang impor meningkat, tekanan inflasi juga berpotensi ikut naik.

Depresiasi mata uang dapat menyebabkan kenaikan harga berbagai barang impor yang pada akhirnya berkontribusi terhadap inflasi domestik.

Inflasi yang meningkat akan mengurangi daya beli masyarakat karena jumlah uang yang sama hanya mampu membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

Baca juga: Rupiah Melemah, Warga Singapura Makin Rajin Belanja ke Jakarta

Hubungan antara inflasi dan nilai tukar juga bersifat dua arah. Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan mata uang melemah, sementara mata uang yang melemah juga dapat memperbesar tekanan inflasi melalui kenaikan harga impor.

Bagi rumah tangga, dampaknya dapat dirasakan pada berbagai kebutuhan yang memiliki kandungan impor tinggi atau menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Ilustrasi ekspor.UNSPLASH/ANDY LI Ilustrasi ekspor.

Ada peluang bagi eksportir

Di balik berbagai risiko tersebut, pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi sektor ekspor.

Mata uang yang lebih lemah membuat harga produk suatu negara menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga lebih kompetitif dibandingkan produk dari negara lain.

Baca juga: Rupiah Ditutup Rp 17.839 Per dollar AS, Apa Saja Sentimennya?

Eddy mengatakan kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Menurut dia, produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga berpotensi meningkatkan ekspor dan membuka lapangan kerja.

Selain itu, biaya produksi di dalam negeri juga menjadi relatif lebih murah bagi investor asing yang ingin menanamkan modal melalui penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI).

Manfaat lainnya adalah eksportir yang menerima pembayaran dalam dollar AS akan memperoleh nilai tukar yang lebih tinggi ketika pendapatan tersebut dikonversi ke rupiah.

Baca juga: Rupiah Melemah dan Biaya Operasional Naik, Lion Klaim Permintaan Penerbangan Masih Tinggi

Karena itu, sektor-sektor yang berorientasi ekspor umumnya menjadi pihak yang paling diuntungkan ketika nilai tukar domestik melemah.

Risiko bagi sektor perbankan

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada perdagangan dan harga barang, tetapi juga memengaruhi industri perbankan.

Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) Andi Estetiono menjelaskan, terdapat tiga risiko utama yang perlu diwaspadai perbankan ketika dollar AS menguat terhadap rupiah, yakni risiko likuiditas, risiko pasar, dan risiko kredit.

Risiko pertama adalah likuiditas valas.

Baca juga: IHSG Terbebani Rupiah, IPOT Rekomendasi Saham GGRM, ICBP, dan MAPI Pekan Ini

Ilustrasi rupiah dan dollar ASTHINKSTOCKS Ilustrasi rupiah dan dollar AS

Menurut Andi, masyarakat dapat merespons gejolak nilai tukar dengan mengalihkan simpanannya ke dollar AS atau aset lain yang dianggap lebih aman.

“Ini tergantung persepsi dan respons masyarakat terhadap kondisi saat ini. Yang jelas LDR Valas dan Rasio Likuiditas Valas Perbankan perlu dipantau ketat,” paparnya.

Risiko kedua adalah risiko pasar.

Apabila bank memiliki posisi valas terbuka, perubahan nilai tukar dapat menimbulkan kerugian akibat revaluasi aset dan kewajiban dalam mata uang asing.

Baca juga: DSI, B50, dan Mahalnya Menjaga Rupiah

Sementara itu, risiko ketiga berkaitan dengan kredit.

Nasabah yang memiliki pinjaman dalam dollar AS tetapi memperoleh pendapatan dalam rupiah akan menghadapi beban pembayaran yang lebih berat ketika rupiah melemah.

“Ini kan berat, ya. Artinya dia mendapatkan penghasilan rupiah, tapi harus mengangsur atau membayar dalam dollar AS. Sehingga ketiga risiko tersebut perlu dimitigasi oleh industri perbankan,” tutur Andi.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Baca juga: Rupiah Melemah, Bank Patok Kurs Jual Dollar AS hingga Rp 18.010

Langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, bank sentral akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur.

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis, Rabu.

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

Menurut dia, BI juga terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna mendukung stabilitas pasar keuangan.

Baca juga: Rupiah Pagi Ini Tertekan ke Rp 17.889 Per Dollar AS, Pelemahannya Hanya Kalah dari Won Korea

Selain itu, sejak 2 Juni 2026 BI memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25.000 dollar AS per pelaku per bulan.

Bank sentral juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Kerja sama tersebut telah dijalankan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

“Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar,” ujar Ramdan.

Baca juga: Aturan DHE SDA Beri Nafas bagi Rupiah, Risiko Global Masih Membayangi

Ia menambahkan, stabilitas rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar.

Perlu diantisipasi, tetapi tidak perlu panik

Eddy menilai tekanan terhadap rupiah saat ini masih bersifat jangka pendek. Namun, kondisi tersebut tetap perlu dikelola secara serius agar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar.

Ia mengingatkan, tekanan yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu destabilizing speculation, yakni kondisi ketika pelaku pasar bertindak berlebihan karena kepanikan sehingga justru memperparah pelemahan nilai tukar.

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.

“Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation,” ujarnya.

Baca juga: Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu

Sementara itu, Andi mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dalam menyikapi gejolak nilai tukar.

Menurut dia, pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) perlu terus melakukan pemantauan dan menjaga koordinasi kebijakan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

“Kalau saran saya ke masyarakat, meresponsnya dengan tenang dan bijak, tidak usah panik. Fokus pada pemenuhan kebutuhan bukan keinginan,” kata Andi.

Ia juga menilai diversifikasi menjadi salah satu prinsip penting dalam pengelolaan keuangan dan investasi ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.

Baca juga: Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama

“Jangan menyimpan telur dalam satu keranjang yang sama, kalau keranjangnya jatuh pecah semua telurnya,” pungkas Andi.

Tag:  #rupiah #melemah #dampaknya #bagi #harga #barang #ekonomi

KOMENTAR