Rupiah Kian Terpuruk, Analis Sebut Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
11:44
3 Juni 2026

Rupiah Kian Terpuruk, Analis Sebut Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp 17.900 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Analis menilai pelemahan dipicu kondisi di Timur Tengah.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari belum meredanya konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran.

Kondisi tersebut membuat investor global tetap memburu dollar AS sebagai aset aman (safe haven) sehingga nilai tukar dollar AS meningkat.

"Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: IHSG Terkoreksi 253,056 Poin Jelang Penutupan Sesi 1, Imbas Rupiah Anjlok?

Selain memperkuat dollar AS, konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Menurut Ariston, kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena Indonesia masih membutuhkan impor energi yang dibayar menggunakan dollar AS.

Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dollar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dollar AS per barrel.

"Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia," ucapnya,

Ariston menilai prospek penguatan rupiah sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global, terutama peluang tercapainya perdamaian antara AS dan Iran.

Menurutnya, selama kondisi di Timur Tengah masih bergejolak, rupiah masih berpotensi bergerak melemah. Bahkan dia memperkirakan rupiah bakal tembus Rp 18.000 per dollar AS pada perdagangan pekan ini.

"Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres," kata Ariston.

Baca juga: Biang Kerok Rupiah Anjlok Sentuh Level di Atas Rp 17.900 per Dollar AS

Ariston bilang, rupiah bisa saja menguat asalkan konflik di Timur Tengah selesai. Selanjutnya barulah pemerintah bisa membereskan sentimen negatif seputar kebijakan ekonomi pemerintah untuk mendorong penguatan rupiah.

"Kuncinya di perdamaian AS Iran untuk memicu pelemahan dollar AS," tukasnya.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong juga mengatakan gal yang sama. Kombinasi penguatan dollar AS akibat konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor yang mendorong rupiah melemah hingga menembus level Rp 17.900 per dollar AS hari ini.

Ditambah dari dalam negeri, sentimen pasar juga belum sepenuhnya pulih. Lukman mengungkapkan, investor asing masih cenderung menghindari Surat Berharga Negara (SBN) meski Indonesia baru saja mencatatkan surplus neraca perdagangan pada April 2026.

Selain itu, pelaku pasar masih mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke depan, yang membuat investor asing belum agresif kembali masuk ke pasar obligasi domestik.

"Pergerakan rupiah hari ini di kisaran 17.850-18.000 per dollar AS," kata Lukman kepada Kompas.com, Rabu.

Sebagai informasi, berdasarkan data Boomberg pukul 10.13 WIB, mata uang Garuda di pasar spot melemah 0,49 persen ke posisi Rp 17.926 per dollar AS.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak melemah terhadap dollar AS pada perdagangan pagi ini. Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam.

Setelah rupiah, pelemahan terbesar terjadi pada ringgit Malaysia yang turun 0,25 persen. Selanjutnya, baht Thailand melemah 0,09 persen, yuan China turun 0,05 persen, dan peso Filipina terkoreksi 0,02 persen.

Tag:  #rupiah #kian #terpuruk #analis #sebut #konflik #timur #tengah #jadi #pemicu #utama

KOMENTAR