IHSG Turun 28 Persen dan Asing Kabur Rp 64 T Sepanjang 2026, Peluang Bangkit Mulai Terlihat?
Ilustrasi bursa efek Indonesia (BEI). (SHUTTERSTOCK/HARYANTA.P)
09:12
3 Juni 2026

IHSG Turun 28 Persen dan Asing Kabur Rp 64 T Sepanjang 2026, Peluang Bangkit Mulai Terlihat?

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 28,35 persen sejak awal 2026 atau year to date (YTD). Bersamaan dengan koreksi indeks, investor asing membukukan jual bersih (net sell) senilai Rp 64,82 triliun secara YTD.

Peluang penguatan pasar saham domestik masih terbuka.

Meredanya tekanan rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI), kondisi inflasi yang tetap terkendali, serta munculnya sinyal teknikal positif menjadi faktor yang berpotensi menopang IHSG.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat tekanan jual yang sebelumnya muncul akibat proses rebalancing indeks MSCI mulai menunjukkan tanda mereda.

Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 1,11 Persen pada 6.195, Saham CUAN Melejit

Kondisi itu tergambar dari kembali masuknya minat beli ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor perbankan dan kelompok usaha konglomerasi.

Setelah beberapa hari mengalami tekanan karena penyesuaian portofolio investor institusi global, saham-saham unggulan tersebut kembali menjadi penopang utama pergerakan indeks.

“Tekanan jual dari rebalancing indeks MSCI terpantau mulai mereda. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan emiten konglomerasi kembali menjadi motor penggerak utama IHSG setelah mengalami tekanan beberapa hari sebelumnya,” ujar Nafan, Rabu (3/6/2026).

Di sisi domestik, data inflasi Indonesia pada Mei 2026 yang tetap berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan.

Inflasi yang terkendali menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga masih dapat dikelola dengan baik, sehingga Bank Indonesia memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang stabil tanpa harus mengambil langkah pengetatan yang agresif.

Selain itu, inflasi yang terjaga juga mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif kuat, sehingga aktivitas konsumsi domestik sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang sehat.

“Hasil perilisan data inflasi Indonesia per Mei 2026 masih berada dalam rentang target fundamental yang aman, memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas kebijakan moneter, sekaligus mencerminkan daya beli masyarakat yang solid,” paparnya.

Meskipun demikian, penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 pada 89,1 juta dollar AS sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir, menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG.

Di sisi lain, para pelaku pasar mulai mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru dari sentimen rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang.

Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa pekan terakhir kembali memanas, sementara operasi militer Israel di Lebanon berpotensi mengganggu upaya gencatan senjata yang selama ini dijaga oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik kawasan tersebut.

Eskalasi ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama apabila konflik meluas dan berdampak pada jalur distribusi minyak dunia.

Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau US Nonfarm Payrolls (NFP) periode Mei 2026 yang akan diumumkan pada akhir pekan ini.

Data tersebut menjadi salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kekuatan pasar tenaga kerja AS.

Hasil rilis NFP akan mempengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Apabila data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan suku bunga dapat meningkat.

“Adapun ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir serta operasi militer Israel di Lebanon, mengancam gencatan senjata diantara berbagai pihak yang bertikai tersebut. Di sisi lain, perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan karena akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed kedepannya,” ucap Nafan.

Secara teknikal, ia menjelaskan terbentuknya pola upward bar membuka peluang terjadinya fase bullish consolidation pada pergerakan IHSG.

Sinyal tersebut juga didukung sejumlah indikator teknikal yang menunjukkan kondisi pasar mulai membaik.

Arah IHSG

Lantas, bagaimana arah IHSG saat ini?

Secara teknikal, Nafan mencatat peluang penguatan IHSG terbuka setelah terbentuknya pola upward bar yang mengindikasikan mulai munculnya kembali dominasi tekanan beli di pasar.

Pola tersebut sering kali menjadi sinyal awal bahwa indeks sedang memasuki fase bullish consolidation, yaitu periode konsolidasi sehat setelah penguatan yang berpotensi menjadi landasan untuk melanjutkan tren naik berikutnya.

Optimisme tersebut diperkuat oleh sejumlah indikator teknikal.

Indikator Relative Strength Index (RSI) saat ini berada pada kondisi oversold atau jenuh jual, yang menunjukkan bahwa tekanan jual sebelumnya sudah cukup berlebihan dan membuka peluang terjadinya rebound.

Sementara itu, indikator Stochastics K-D juga mulai memberikan sinyal positif yang mencerminkan perbaikan momentum pergerakan harga dalam jangka pendek.

“Secara teknikal, setelah pola upward bar terbentuk, maka harapan terjadinya fase bullish consolidation terbuka lebar. Berdasarkan indikator, RSI menunjukkan oversold atau jenuh jual, dan Stochastics K-D menunjukkan sinyal positif,” lanjut dia.

Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor ritel disarankan lebih selektif dalam memilih saham.

Perhatian dapat diarahkan pada emiten-emiten yang memiliki fundamental kuat dan didukung kinerja bisnis yang solid.

Selain itu, saham-saham yang masih diperdagangkan pada valuasi relatif murah dibandingkan prospek pertumbuhan maupun nilai wajarnya juga menarik untuk dicermati.

Untuk IHSG jangka pendek, area 6.081-6.060 menjadi level penopang atau support. Sementara level 6.262-6.387 menjadi area resistance.

Baca juga: IHSG Mendadak Anjlok di Akhir Sesi Kemarin, Saham Perbankan Ditinggal Asing?

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #turun #persen #asing #kabur #sepanjang #2026 #peluang #bangkit #mulai #terlihat

KOMENTAR