RI Impor Hampir 15.000 Sapi Bunting, Kementan: Terbesar Sepanjang Sejarah
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun (kiri) dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
18:44
2 Juni 2026

RI Impor Hampir 15.000 Sapi Bunting, Kementan: Terbesar Sepanjang Sejarah

- Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut, Indonesia mengimpor 15.000 sapi bunting pada 2025.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun, mengatakan angka impor tersebut merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah.

“Teman-teman para peternak tahun lalu kita mengimpor sapi bunting itu sekitar hampir 15.000. Itu terbesarlah sepanjang sejarah kita mengimpor sapi,” kata Makmun dalam konferensi pers di Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Makmun mengatakan, impor tersebut bertujuan untuk menambah populasi sapi perah dalam negeri.

Baca juga: Kementan: Indonesia Butuh 1,4 Juta Sapi Perah untuk Swasembada Susu

Pihaknya menghitung, jika 14.000 ekor lebih sapi itu melahirkan dengan asumsi 50 persen jantan dan 50 persen betina, setidaknya terdapat 7.000 ekor sapi yang bisa terus beregenerasi di dalam negeri.

Adapun populasi sapi dalam negeri berkisar di angka 540.657 ekor dan sebanyak dua per tiga di antaranya merupakan betina.

“Nanti itu kan juga akan melahirkan, itu penambahan populasi setiap tahun ya hampir 100.000 lah,” ujar Makmun.

Meski demikian, jumlah tersebut masih jauh dari angka ideal agar Indonesia bisa mencapai swasembada susu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rata-rata produktivitas sapi perah dalam negeri hanya 12,5 liter per ekor dalam satu hari.

Sementara, di tempat sapi itu berasal mencapai 30 liter per hari.

Dengan produktivitas yang tergolong rendah, dibutuhkan populasi 2 juta ekor sapi agar swasembada susu terwujud.

“Kalau bisa naik menjadi 15 atau 20 maka tidak sampai 2 juta populasi yang kita perlukan,” tutur Makmun.

Menurutnya, saat ini produksi susu dalam negeri baru bisa mencukupi 25 persen kebutuhan nasional.

Artinya, 75 persen kebutuhan sapi dalam negeri ditopang susu impor.

Untuk meningkatkan produksi susu, selain dengan menambah populasi sapi, Kementan berupaya meningkatkan produktivitas susu perah.

Kualitas pakan baik makanan hijau maupun konsentrat ditingkatkan sehingga secara bertahap produktivitas bisa bertambah.

Selain itu, Kementan juga betul-betul memastikan kesehatan sapi dan mencegah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali terjadi.

“Sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK,” kata dia.

Dalam forum yang sama, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan saat ini kapasitas industri pengolahan susu untuk kemasan 115 dan 125 mililiter baru 2,39 miliar kemasan.

Sementara, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mewajibkan menu susu dua kali dalam sepekan pada 2026 membutuhkan 4,8 miliar kemasan.

“Baru 2,39 miliar atau 49,7 persen dari kebutuhan MBG secara keseluruhan,” kata Merri.

Baca juga: Penjualan Sapi Kurban Turun 51 Persen, Pedagang: Ekonomi Goyang

Tag:  #impor #hampir #15000 #sapi #bunting #kementan #terbesar #sepanjang #sejarah

KOMENTAR