Pensiun Tenang Tanpa Merepotkan Anak, Ini Cara Hitung Dananya
Masa pensiun pada pekerja adalah keniscayaan. Untuk itu, persiapan keuangan menjadi pengetahuan yang krusial untuk dimiliki.
Persiapan masa pensiun yang matang juga akan mengurangi risiko ketergantungan lansia pada anak ketika sudah tidak bekerja kembali.
Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, perubahan terbesar saat memasuki masa pensiun adalah hilangnya penghasilan aktif.
Baca juga: Kesenjangan Pensiun di Indonesia: Pilihan atau Tekanan Finansial?
“Sementara kebutuhan hidup tetap berjalan bahkan cenderung meningkat karena faktor kesehatan,” kata dia kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan, agar tidak bergantung pada anak, calon pensiunan perlu membangun tiga pilar kemandirian finansial.
Pertama, Rista meminta lansia untuk memastikan pengeluaran lebih kecil dari penghasilan pasif.
Sumber penghasilan pasif ini dapat berasal dari dana pensiun perusahaan, BPJS Ketenagakerjaan, deposito, obligasi negara, properti sewa, hingga dividen investasi.
Baca juga: Indonesia Masuki Aging Population, 10 Provinsi Ini Punya Lansia Terbanyak
Rista juga mengingatkan, lansia atau pensiunan harus memiliki dana kesehatan yang terpisah.
“Jangan mencampur dana kesehatan dengan dana hidup harian,” imbuh dia.
Selain itu, pensiunan juga harus memastikan telah terbebas dari utang ketika pensiun. Seorang pensiunan idealnya sudah tidak memiliki cicilan rumah, cicilan kendaraan, utang konsumtif, dan paylater.
Cara hitung kebutuhan dana pensiun
Ilustrasi pensiun. Banyak pensiunan masih mengandalkan sokongan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk menghitung kebutuhan dana pensiun, Rista memiliki rumus sederhana, yakni Kebutuhan Dana Pensiun = Pengeluaran Bulanan × 12 × Lama Masa Pensiun.
Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Lansia Tembus 11,97 Persen
Sebagai ilustrasi, pengeluaran calon pensiunan saat ini adalah Rp 8 juta per bulan. Sementara itu, masa pensiun diperkirakan 20 tahun.
Dengan rumus yang sama, penghitungannya menjadi 8 juta x 12 x 20 = Rp 1,92 miliar.
Dengan demikian, dana pensiun yang dibutuhkan sekurang-kurangnya harus mencapai Rp 1,92 miliar.
Namun karena inflasi rata-rata jangka panjang Indonesia sekitar 3 sampai 5 persen per tahun, angka kebutuhan riil bisa mencapai Rp 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar atau lebih tergantung gaya hidup dan usia harapan hidup.
Baca juga: Kemenkeu: Biaya Hidup 80 Persen Lansia Bergantung pada Anak
Rista bilang, yang sering dilupakan adalah saat ini harapan hidup masyarakat Indonesia semakin panjang.
“Banyak orang pensiun di usia 55 sampai 60 tahun tetapi hidup hingga usia 75 sampai 85 tahun. Artinya dana pensiun harus mampu menopang kehidupan selama 20 sampai 30 tahun,” ucap dia.
Dengan rumus penghitungan yang serupa, perencana keuangan independen Andy Nugroho menjelaskan, angka yang dihasilkan tersebut merupakan estimasi yang kasar.
Pasalnya, setelah pensiun, bisa jadi terdapat pengeluaran yang berkurang.
Baca juga: Asabri Bikin Sekolah Lansia untuk Peserta Pensiun, Apa Kegiatannya?
“Atau justru bertambah, semisal biaya transport dan biaya kesehatan,” ungkap dia.
Sebagai ilustrasi Andy juga memberikan sebuah rumus penghitungan sederhana. Kebutuhan dana pensiun dapat dihitung dengan rumus berikut.
Kebutuhan dana pensiun = Total pengeluaran sehari-hari sebelum pensiun x 12 bulan x estimasi waktu hidup pasca pensiun.
Ilustrasi pensiun.
Sebagai ilustrasi, seorang pekerja memiliki pengeluaran sebulan senilai Rp 5 juta dengan estimasi waktu hidup yang dihitung dengan usia harapan hidup (71 tahun) - usia pensiun (56 tahun) atau sekitar 15 tahun.
Baca juga: Warga Asia Ingin Pensiun Layak, Bukan Sekadar Umur Panjang
Dengan rumus tersebut, maka jumlah uang untuk pensiun yang dibutuhkan sekitar Rp 900 juta.
Kiat tak bergantung pada anak ketika pensiun
Andy mengingatkan, agar pekerja dapat pensiun tanpa bergantung pada anak atau orang lain, sebaiknya dana pensiun dapat dipersiapkan sejak jauh hari.
Selain itu, pensiunan juga dapat tetap bekerja atau produktif mencari nafkah setelah pensiun.
Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menjalankan bisnis sendiri, atau bekerja di tempat lain yang masih dapat mempekerjakan lansia.
Baca juga: Laporan Manulife: Orang Indonesia Paling Optimistis Siapkan Dana untuk Masa Pensiun Panjang
Sementara itu, pekerja yang memiliki uang pensiun dapat memanfaatkan dana tersebut dengan optimal.
“Mengurangi pengeluaran-pengeluaran dan gaya hidup sehingga disesuaikan dengan nominal uang pensiun yang diterima,” ucap dia.
Pastikan transisi pendapatan aktif ke pasif berjalan mulus
Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku Melvin Mumpuni menjelaskan, agar purnatugas tidak menjadi beban bagi anak, fondasi utamanya adalah memastikan transisi yang mulus dari active income (gaji dari bekerja) menjadi passive atau portfolio income penghasilan dari aset dan investasi.
Menurut dia, untuk menghitung modal pensiun sebenarnya ada beberapa pendekatan teknis, bisa menggunakan beberapa metode.
Baca juga: Pensiun Tenang dan Aman: Ini Tips Cara Menyiapkan Dana Hari Tua Sejak Dini
Ilustrasi menabung dana pensiun.
“Kita dapat melakukan perhitungan dengan menggunakan kalkulator pensiun di website atau konsultasi dengan perencana keuangan,” ucap dia
Melvin berpesan, untuk merencanakan pensiun, pekerja harus memastikan kondisi keuangan sehat saat ini.
Artinya sebelum masuk pensiun pastikan pemasukan lebih besar dari pengeluaran, punya dana darurat, cicilan kalau bisa sudah mulai lunas, aset lebih besar dari utang dan punya asuransi.
Ketika calon pensiunan sudah memiliki modal, mulai alokasikan uang atau modal ke investasi atau aset produktif yang menghasilkan pemasukan rutin, misalnya deposito, surat berharga pemerintah, rumah kos dan lainnya.
Baca juga: Penghasilan Warga RI Turun Drastis saat Pensiun, Hanya 10-15 Persen dari Gaji
“Jika Anda belum memiliki modal yang cukup, mau tidak mau Anda perlu segera mempersiapkan modal tersebut,” ungkap dia.
Melvin mengingatkan, pensiun itu adalah perpindahan tahapan hidup (life stage) seseorang dan memang harus disiapkan dengan matang.
“Dengan demikian, sangat wajar jika banyak orang mengalami kesulitan untuk mempersiapkannya. Untungnya sekarang ini industri keuangan seperti bank, asuransi, sekuritas, manajer investasi dan perencana keuangan dapat membantu mempersiapkan pensiun,” tutup dia.
Sebagai informasi, Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Baca juga: 3 Strategi Keuangan ala Jeff Bezos untuk Siapkan Pensiun
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi, melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.
Kondisi tersebut menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia.
Jumlah lansia yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi keluarga yang menjadi garda terdepan dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan kelompok usia lanjut.
Tag: #pensiun #tenang #tanpa #merepotkan #anak #cara #hitung #dananya