Inflasi Mei 2026 Naik, Tekanan Harga Meluas ke Perumahan hingga Transportasi
Ilustrasi inflasi.(FREEPIK/VWALAKTE)
16:48
2 Juni 2026

Inflasi Mei 2026 Naik, Tekanan Harga Meluas ke Perumahan hingga Transportasi

Samuel Sekuritas Indonesia menilai kenaikan inflasi mulai menunjukkan tekanan harga dan biaya yang makin meluas ke berbagai sektor.

Tekanan tersebut tidak lagi hanya berasal dari sektor pangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat inflasi utama Indonesia naik menjadi 3,08 persen secara tahunan atau year on year pada Mei 2026.

Angka itu naik dari 2,42 persen secara tahunan pada April 2026. Inflasi Mei 2026 juga menjadi yang tertinggi sejak September 2025.

Baca juga: BPS: Impor RI Tembus Rp 1.545 T hingga April 2026, Apa yang Paling Banyak Masuk?

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, realisasi inflasi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 2,97 persen.

Namun, angka tersebut secara umum sejalan dengan perkiraan Samuel Sekuritas Indonesia sebesar 3,09 persen.

Menurut Harry, kondisi itu menunjukkan kenaikan tekanan harga terbaru sebagian besar telah diantisipasi pasar.

Inflasi juga masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Kenaikan inflasi terutama didorong lonjakan inflasi pangan.

Inflasi pangan naik menjadi 4,94 persen secara tahunan dari sebelumnya 3,06 persen secara tahunan.

Level itu menjadi yang tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

Harga komoditas pangan utama yang lebih tinggi ikut mendorong kenaikan inflasi.

Biaya distribusi dan logistik yang masih tinggi di beberapa wilayah juga memberi kontribusi besar terhadap kenaikan tersebut.

Baca juga: Emas Perhiasan Deflasi 2,67 Persen, Tekan Inflasi Mei 2026

Tekanan harga meluas

Selain pangan, tekanan inflasi juga mulai meluas ke sektor lain.

Kenaikan harga lebih tinggi terlihat pada sektor perumahan, transportasi, kesehatan, restoran, perabot rumah tangga, komunikasi, rekreasi, dan pendidikan.

“Besarnya peningkatan tersebut menunjukkan bahwa inflasi bukan lagi hanya cerita tentang fluktuasi harga pangan, tetapi mencerminkan kenaikan biaya yang meluas, sejalan dengan depresiasi rupiah,” ujar Harry dalam risetnya, Selasa (2/6/2026).

Tren tersebut juga terlihat dari kenaikan inflasi inti. Inflasi inti naik menjadi 2,59 persen secara tahunan pada Mei 2026.

Pada April 2026, inflasi inti berada di level 2,44 persen secara tahunan.

Capaian Mei menjadi level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Samuel Sekuritas menilai kenaikan inflasi inti lebih banyak dipicu gangguan dari sisi pasokan dibandingkan tarikan permintaan.

Penilaian itu mempertimbangkan kondisi lapangan kerja yang masih lemah.

Samuel Sekuritas juga melihat adanya bukti anekdotal soal meningkatnya perdagangan barang murah dalam pola belanja konsumen di lapangan.

Sementara itu, inflasi bulanan naik menjadi 0,28 persen secara month to month pada Mei 2026.

Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan kenaikan 0,13 persen pada April 2026.

Realisasi itu juga jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,14 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga meningkat lebih cepat dari perkiraan sepanjang Mei 2026.

BI diminta waspada

Samuel Sekuritas menilai data inflasi terbaru perlu menjadi peringatan dini bagi Bank Indonesia.

Tekanan dapat memburuk, terutama di tengah depresiasi rupiah yang masih berlanjut.

Samuel Sekuritas menilai kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen belum mampu menstabilkan rupiah.

Karena itu, bank sentral perlu terus menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dan risiko inflasi impor dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi.

Samuel Sekuritas memperkirakan inflasi akan tetap tinggi di kisaran 3,0 persen sampai 3,3 persen secara tahunan dalam beberapa bulan mendatang.

Harga pangan berpotensi tetap menghadapi tekanan musiman.

Risiko tersebut muncul seiring prediksi kemunculan El Nino.

Biaya transportasi dan logistik yang lebih tinggi juga dapat menjaga risiko kenaikan inflasi jika perang Iran berlanjut.

“Kami berharap pemerintah dapat memperbaiki kondisi pasokan pangan domestik dengan memberikan langkah-langkah stabilisasi untuk membantu mencegah lonjakan inflasi yang signifikan dalam beberapa bulan mendatang,” ucap Harry.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "Inflasi Melonjak, Alarm Kenaikan Biaya Semakin Meluas", Klik untuk baca: https://investasi.kontan.co.id/news/inflasi-melonjak-alarm-kenaikan-biaya-semakin-meluas.

Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

Tag:  #inflasi #2026 #naik #tekanan #harga #meluas #perumahan #hingga #transportasi

KOMENTAR