Ekspor Indonesia Naik 21,98 Persen pada April 2026, Ditopang Nikel dan CPO
Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada April 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai 25,30 miliar dollar AS atau tumbuh 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, lonjakan ekspor terutama ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas yang tumbuh 23,36 persen secara tahunan menjadi 24,15 miliar dollar AS.
Baca juga: Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.
"Pada April 2026 nilai ekspor mencapai 25,30 miliar dollar AS atau naik 21,98 persen dibandingkan April 2025. Nilai ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 23,36 persen dengan nilai 24,15 miliar dollar AS," jelas Pudji dalam konferensi pers rilis BPS, Selasa (2/6/2026).
Menurut Pudji, peningkatan ekspor didorong oleh sejumlah komoditas unggulan Indonesia.
Kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati, yang didominasi produk minyak sawit dan turunannya, mencatat kenaikan 66,59 persen dan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 5,91 persen terhadap kenaikan total ekspor.
Selain itu, ekspor nikel dan barang turunannya melonjak 75,52 persen dengan andil 2,17 persen.
Baca juga: China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Kenaikan juga terjadi pada kelompok mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya yang tumbuh 57,90 persen dan menyumbang 1,47 persen terhadap pertumbuhan ekspor.
Secara sektoral, industri pengolahan menjadi motor utama ekspor Indonesia.
Dari total ekspor nonmigas sebesar 24,15 miliar dollar AS pada April 2026, sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 20,59 miliar dollar AS.
"Kenaikan nilai ekspor nonmigas utamanya terjadi pada sektor industri pengolahan yang naik secara year on year sebesar 29,07 persen," kata Pudji.
Ilustrasi minyak kelapa sawit.
Baca juga: Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman
Peningkatan tersebut didorong oleh ekspor produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, barang perhiasan dan barang berharga, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.
Sementara itu, sepanjang Januari-April 2026, total nilai ekspor Indonesia mencapai 92,15 miliar dollar AS atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ekspor nonmigas selama empat bulan pertama tahun ini mencapai 87,74 miliar dollar AS atau tumbuh 6,28 persen.
Sebaliknya, ekspor migas tercatat turun 8,30 persen menjadi 4,41 miliar dollar AS.
Baca juga: Pengusaha Minta Operasional DSI Transparan, Jangan Tambah Beban Biaya Ekspor
BPS juga mencatat China masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia.
Nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai 22,76 miliar dollar AS sepanjang Januari-April 2026 atau meningkat 20,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain China, Amerika Serikat dan India masih menjadi tiga besar pasar ekspor Indonesia.
Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 44,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional pada empat bulan pertama 2026.
Baca juga: Pengusaha Kompak Minta Pemerintah Jamin Kepastian Hukum dalam Tata Kelola Ekspor SDA
Di tengah penguatan ekspor, BPS mencatat harga sejumlah komoditas global juga mengalami kenaikan.
Harga komoditas energi meningkat 66,58 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan batu bara.
Sementara harga logam mulia naik 58,61 persen dibandingkan April tahun lalu.
Tag: #ekspor #indonesia #naik #2198 #persen #pada #april #2026 #ditopang #nikel