Cadangan Devisa Malaysia Turun, Investor Tetap Optimistis pada Ringgit
Ilustrasi mata uang ringgit Malaysia. (SHUTTERSTOCK/FOCAL POINT)
08:20
26 Mei 2026

Cadangan Devisa Malaysia Turun, Investor Tetap Optimistis pada Ringgit

- Cadangan devisa Malaysia mengalami penurunan tipis pada pertengahan Mei 2026.

Bank Negara Malaysia (BNM) melaporkan posisi cadangan internasional negara itu berada di level 129,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.295,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.728 per dollar AS.

Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir April 2026 yang tercatat sebesar 129,7 miliar dollar AS atau setara Rp 2.299,3 triliun.

Baca juga: Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 527 Gram Emas ke Malaysia

Ilustrasi uang ringgit Malaysia. Ringgit Malaysia tercatat sebagai mata uang terkuat di Asia di awal 2026.PIXABAY/SQUIRREL_PHOTOS Ilustrasi uang ringgit Malaysia. Ringgit Malaysia tercatat sebagai mata uang terkuat di Asia di awal 2026.

Dalam pernyataannya, BNM menyebutkan bahwa posisi cadangan devisa tersebut masih memadai untuk menopang kebutuhan eksternal negara.

"Posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 4,6 bulan impor barang dan jasa, serta setara 0,9 kali total utang luar negeri jangka pendek," tulis BNM, dikutip dari Bernama, Selasa (26/5/2026).

Penurunan cadangan devisa Malaysia terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan internasional. Meski turun tipis, level cadangan devisa Malaysia saat ini masih berada di kisaran tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Dikutip dari The Edge Malaysia, posisi cadangan devisa terbaru itu tetap menjadi level terkuat sejak 2014.

Baca juga: Malaysia Nego 500.000 Ton Beras RI Seharga Rp 8 Triliun

Cadangan devisa adalah salah satu indikator penting yang digunakan untuk mengukur ketahanan eksternal suatu negara.

Besarnya cadangan devisa mencerminkan kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang, membiayai impor, serta memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri.

Komponen cadangan devisa Malaysia

BNM merinci komponen utama cadangan devisa Malaysia per 15 Mei 2026 terdiri dari cadangan mata uang asing sebesar 113,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.012,1 triliun.

Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia. UNSPLASH/NOUR BETAR Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia.

Selain itu, terdapat posisi cadangan di Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 1,3 miliar dollar AS atau setara Rp 23 triliun.

Baca juga: Malaysia Cemas Kebijakan Baru Ekspor Sawit RI Picu Gejolak Harga

Malaysia juga memiliki special drawing rights (SDR) sebesar 5,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 104,6 triliun.

Adapun cadangan emas tercatat sebesar 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 113,5 triliun. Sementara aset cadangan lainnya mencapai 2,4 miliar dollar AS atau setara Rp 42,5 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan mayoritas cadangan devisa Malaysia masih ditopang oleh aset dalam bentuk mata uang asing.

Cadangan devisa lazim digunakan bank sentral untuk menjaga kestabilan pasar keuangan dan melakukan intervensi apabila terjadi tekanan terhadap mata uang domestik.

Baca juga: Biaya Pupuk dan BBM Naik, Peremajaan Sawit Malaysia Melambat

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara berkembang di Asia cenderung menjaga level cadangan devisa tetap tinggi untuk mengantisipasi gejolak pasar global, terutama akibat perubahan arah suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, dan ketidakpastian perdagangan internasional.

Cadangan devisa Malaysia turun tipis dibanding akhir April 2026

Sebelumnya, pada 30 April 2026, posisi cadangan devisa Malaysia tercatat sebesar 129,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.299,3 triliun.

Pada saat itu, BNM menyatakan posisi cadangan devisa cukup untuk membiayai 4,7 bulan impor barang dan jasa serta setara 0,9 kali total utang luar negeri jangka pendek.

Dengan demikian, penurunan yang terjadi pada pertengahan Mei relatif terbatas, yakni sekitar 200 juta dollar AS atau setara Rp 3,5 triliun.

Baca juga: AS Bongkar Dugaan Penggelapan Dana Rp 354 Miliar di Telekom Malaysia

Meski demikian, penurunan tersebut turut mencerminkan dinamika arus modal dan kebutuhan stabilisasi pasar keuangan di tengah ketidakpastian global.

Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia. PIXABAY/PEXELS Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia.

Sepanjang 2026, pergerakan cadangan devisa Malaysia menunjukkan fluktuasi moderat.

Pada pertengahan April 2026, posisi cadangan devisa tercatat sebesar 128,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.283,4 triliun. Angka itu meningkat dibandingkan posisi akhir Maret yang berada di level 126,6 miliar dollar AS.

Kemudian pada akhir April 2026, cadangan devisa kembali meningkat menjadi 129,7 miliar dollar AS sebelum turun tipis menjadi 129,5 miliar dollar AS pada pertengahan Mei 2026.

Baca juga: Amran: Malaysia Mau Impor 500.000 Ton Beras RI

Pergerakan tersebut menggambarkan bagaimana bank sentral terus mengelola cadangan devisa untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar ringgit.

Ringgit menguat di tengah dinamika global

Di tengah fluktuasi pasar global, mata uang ringgit Malaysia kembali menunjukkan penguatan terhadap dollar AS pada perdagangan akhir Mei 2026.

Mata uang ringgit menguat terhadap dollar AS seiring membaiknya sentimen pasar global.

Penguatan tersebut dipicu harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.

Baca juga: BI dan Bank Negara Malaysia Perkuat Kerja Sama, Stabilitas Finansial Jadi Fokus

Kepala ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd Mohd Afzanizam Abdul Rashid mengatakan, indikator makroekonomi Malaysia yang relatif membaik turut menopang pergerakan ringgit.

Menurut dia, surplus transaksi berjalan yang meningkat serta defisit fiskal yang menyempit pada kuartal I 2026 menunjukkan risiko Malaysia menjadi negara dengan twin deficit masih rendah.

Selain itu, ringgit juga ditopang oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Pada perdagangan 25 Mei 2026, ringgit dilaporkan ditutup lebih tinggi terhadap dollar AS didorong optimisme pasar atas potensi tercapainya kesepakatan AS-Iran.

Baca juga: PM Malaysia Sebut Hanya Negaranya di Asia Tenggara yang Tak Batasi BBM

Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia. PIXABAY/WALKERSSK Ilustrasi pemandangan kota Kuala Lumpur, Malaysia.

Harapan meredanya tensi geopolitik global mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti dollar AS.

Penguatan ringgit turut menjadi faktor penting yang menopang persepsi investor terhadap stabilitas eksternal Malaysia.

Di tengah kondisi tersebut, cadangan devisa yang tetap tinggi dinilai memberikan ruang lebih besar bagi Bank Negara Malaysia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.

Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen penting yang menopang stabilitas ringgit ketika terjadi tekanan di pasar valuta asing.

Baca juga: Gejolak Energi Global, Malaysia Dorong Biodiesel dan Penghematan BBM

Dengan cadangan devisa yang tetap berada di atas 129 miliar dollar AS, BNM dinilai masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan meredam gejolak nilai tukar.

Penguatan ringgit juga turut membantu memperbaiki persepsi investor terhadap ketahanan eksternal Malaysia.

Di sisi lain, level cadangan devisa yang tinggi memberikan sinyal bahwa Malaysia masih memiliki bantalan yang memadai untuk menghadapi potensi arus keluar modal maupun tekanan eksternal lainnya.

Ketidakpastian global bayangi pasar keuangan

Di tengah tekanan global, posisi cadangan devisa menjadi salah satu bantalan utama bagi negara-negara berkembang.

Baca juga: Pemerintah Siapkan 500.000 Pekerja Migran, Malaysia Masih Tujuan Terbesar

Bank sentral biasanya menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan pergerakan mata uang domestik ketika terjadi gejolak di pasar keuangan internasional.

Malaysia sendiri menghadapi tantangan dari dinamika suku bunga global, pergerakan dollar AS, hingga perubahan arus modal asing.

Dalam tinjauan ekonominya sebelumnya, BNM menyebut ringgit berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi akibat ketidakpastian kebijakan global dan fluktuasi arus modal.

Ilustrasi suku bunga, bunga kredit. Media Asing Soroti Kenaikan Suku Bunga di Indonesia di Tengah Melemahnya RupiahFREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga, bunga kredit. Media Asing Soroti Kenaikan Suku Bunga di Indonesia di Tengah Melemahnya Rupiah

BNM menilai arus masuk asing yang didorong penyempitan selisih suku bunga dapat membantu menopang ringgit.

Baca juga: Bulog Jajaki Beli Kantong Beras dari Malaysia

Namun, suku bunga tinggi di AS dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven dollar AS tetap menjadi faktor yang membebani mata uang negara berkembang.

Tekanan terhadap mata uang domestik bukan hanya terjadi di Malaysia. Sejumlah negara di Asia juga menghadapi tantangan serupa seiring menguatnya dollar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah.

Langkah tersebut dilakukan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level terendah baru terhadap dollar AS.

Baca juga: Perdagangan Malaysia Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Ditopang Ekspor

Fungsi strategis cadangan devisa

Cadangan devisa memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian suatu negara.

Selain digunakan untuk membiayai impor dan memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri pemerintah, cadangan devisa juga menjadi instrumen penting bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ketika terjadi tekanan terhadap mata uang domestik, bank sentral dapat menggunakan cadangan devisa untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Ketersediaan cadangan devisa yang memadai juga sering menjadi indikator kesehatan eksternal suatu negara di mata investor global.

Baca juga: Tak Hanya RI, Malaysia Juga Lirik Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi

Karena itu, rasio kecukupan cadangan devisa terhadap impor dan utang luar negeri jangka pendek menjadi indikator yang diperhatikan pelaku pasar.

Ilustrasi impor.SHUTTERSTOCK/AUN PHOTOGRAPHER Ilustrasi impor.

Dalam kasus Malaysia, posisi cadangan devisa saat ini dinilai masih cukup aman karena mampu membiayai impor lebih dari empat bulan.

Selain itu, level cadangan devisa Malaysia juga hampir setara dengan total utang luar negeri jangka pendek negara tersebut.

BNM secara berkala memperbarui data cadangan devisa sebanyak dua kali dalam sebulan untuk memberikan gambaran terkini mengenai posisi eksternal negara.

Baca juga: Subsidi Energi Malaysia Bengkak pada April 2026, Tembus Rp 30 Triliun

Data pemerintah Malaysia menunjukkan cadangan devisa negara itu terus berada di atas level 120 miliar dollar AS sepanjang beberapa tahun terakhir.

Posisi tersebut menjadikan Malaysia sebagai salah satu negara dengan bantalan eksternal relatif kuat di kawasan Asia Tenggara.

Mayoritas berbentuk cadangan mata uang asing

Dari keseluruhan cadangan devisa Malaysia, porsi terbesar masih berasal dari cadangan mata uang asing.

Nilainya mencapai 113,5 miliar dollar AS atau sekitar 87 persen dari total cadangan devisa.

Baca juga: Dirut Bulog Sebut Malaysia Mau Impor Beras dari RI 200.000 Ton

Sementara itu, cadangan emas hanya menyumbang sekitar 6,4 miliar dollar AS.

Komposisi tersebut mencerminkan strategi pengelolaan cadangan devisa yang menempatkan likuiditas dan fleksibilitas sebagai prioritas utama.

Aset dalam bentuk mata uang asing lebih mudah digunakan untuk intervensi pasar maupun pembayaran kewajiban internasional dibandingkan aset lain seperti emas.

Di sisi lain, kepemilikan emas tetap dipertahankan sebagai bagian dari diversifikasi aset cadangan.

Baca juga: Malaysia Siap Genjot Transisi Energi di Tengah Krisis Pasokan

Ilustrasi mata uang.PEXELS/KARTHIKEYAN PERUMAL Ilustrasi mata uang.

Selain emas dan valuta asing, Malaysia juga memiliki SDR yang merupakan aset cadangan internasional yang diterbitkan IMF.

SDR dapat digunakan negara anggota IMF untuk memperoleh mata uang asing guna memenuhi kebutuhan likuiditas internasional.

Keberadaan SDR dan posisi cadangan di IMF menjadi bagian penting dari struktur cadangan devisa modern yang dimiliki banyak bank sentral di dunia.

Cadangan devisa masih jadi perhatian investor

Pergerakan cadangan devisa terus menjadi perhatian investor dan pelaku pasar karena berkaitan langsung dengan stabilitas makroekonomi.

Baca juga: Tak Cuma RI, Harga Plastik di Malaysia Juga Naik 40 Persen

Negara dengan cadangan devisa besar umumnya dinilai memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi gejolak eksternal.

Sebaliknya, penurunan tajam cadangan devisa dalam waktu singkat kerap dianggap sebagai sinyal meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal dan nilai tukar.

Meski cadangan devisa Malaysia turun tipis pada pertengahan Mei 2026, levelnya masih berada di kisaran tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

BNM menegaskan posisi cadangan saat ini masih memadai untuk mendukung kebutuhan pembiayaan eksternal negara serta menjaga stabilitas pasar keuangan.

Baca juga: Ternyata, Bensin RI Banyak Impor dari Singapura dan Malaysia

Dengan posisi tersebut, Malaysia masih memiliki ruang untuk menghadapi volatilitas global yang dipicu perubahan kebijakan moneter negara maju, pergerakan harga komoditas, maupun ketidakpastian geopolitik internasional.

Tag:  #cadangan #devisa #malaysia #turun #investor #tetap #optimistis #pada #ringgit

KOMENTAR