Emiten Grup Djarum SUPR Lebih Pilih Cabut dari Bursa Ketimbang Free Float
PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), emiten telekomunikasi milik grup Djarum mengumumkan rencana untuk melakukan go private sekaligus delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Aksi korporasi inidilakukan setelah SUPR gagal memenuhi ketentuan minimum free float bursa.
Mengutip dokumen keterbukaan informasi, Kamis, 21 Mei 2026, manajemen memastukan perseroan akan mengubah status dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup.
"Perseroan memutuskan untuk mengajukan Rencana Go Private dan Delisting," tulis manajemen.
Sebagai informasi, saham SUPR telah disuspensi BEI sejak 30 April 2025 akibat tidak memenuhi ketentuan minimum free float. Bahkan, perdagangan saham SUPR kembali dihentikan sementara efektif mulai 6 April 2026. Adapun, harga saham SUPR saat disuspensi berada di level Rp 43.850.
Djarum GroupAdapun, kepemilikan saham publik SUPR masih minim yang hanya 0,09 persen. Sementara mayoritas saham atau 97,33 persen saham masih dipegang oleh PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).
Untuk diketahui, Protelindo merupakan anak usaha dari PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) yang merupakan emiten menara telekomunikasi milik Grup Djarum.
Dalam aksi korporasi ini, Protelindo selaku pemegang saham pengendali akan melaksanakan penawaran tender sukarela atau voluntary tender offer (VTO) kepada pemegang saham publik.
Perseroan menawarkan harga VTO mencapai Rp 45.000 per saham, di mana nilai ini lebih tinggi dibanding harga saham terkini.
Manajemen menjelaskan, pemegang saham publik yang tidak menjual sahamnya dalam tender offer tetap akan menjadi pemegang saham perusahaan tertutup setelah proses delisting rampung.
Namun, nasib delisting ini akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang rencananya digelar pada 20 Mei 2026 di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta.
Jika pemegang saham merestui, maka masa tender offer diperkirakan berlangsung mulai 15 Juni hingga 14 Juli 2026. Sementara, delisting dari Bursa Efek Indonesia diproyeksikan efektif pada 10 Maret 2027.
Dari sisi kinerja keuangan, perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,32 triliun pada 2025, naik dibanding tahun sebelumnya Rp 974,3 miliar. Total aset perseroan juga mencapai Rp 10,15 triliun.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Tag: #emiten #grup #djarum #supr #lebih #pilih #cabut #dari #bursa #ketimbang #free #float