IHSG Kamis (21/5) Turun 3,54 Persen, Pasar Respons Negatif Pembentukan BUMN Ekspor
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks anjlok 3,54 persen ke level 6.094,941, sekaligus menembus area psikologis 6.100.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mencatat pelemahan tajam itu menunjukkan tekanan pasar yang masih sangat besar, bahkan ketika mayoritas bursa saham Asia justru bergerak positif.
Menurutnya, tekanan utama datang dari sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), badan pengatur ekspor sumber daya alam (SDA), yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.
“Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Kamis sore.
Baca juga: IHSG Turun Usai BUMN Ekspor Dibentuk, Purbaya Yakin Valuasi Emiten Bisa Naik
Pasar Khawatirkan Nilai Tukar Rupiah
Sebagai informasi, pembentukan PT DSI merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA yang diterbitkan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam aturan tersebut, ekspor sejumlah komoditas strategis wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
Saat ini, Danantara Indonesia resmi menunjuk mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama DSI. Penunjukan eks petinggi perusahaan tambang itu dinilai menjadi langkah awal pemerintah memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam.
Hendra juga menilai kekhawatiran investor diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berada di atas Rp 17.600 per dollar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun tercatat telah mencapai lebih dari Rp 51 triliun.
“Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dollar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp 51 triliun,” paparnya.
Baca juga: Skema Ekspor Batu Bara hingga CPO Lewat BUMN, Emiten Berisiko Tertekan Margin
Faktor global
Dari eksternal, pasar juga masih dibayangi sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, setelah risalah Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi AS yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Akibat kondisi tersebut, sektor berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan paling besar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko di pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, ia mencatat bahwa posisi IHSG masih berada dalam tren bearish yang kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang solid. Penurunan tajam hingga menembus area support penting di level 6.200 dan 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih sangat tinggi.
Saat ini area 6.000 menjadi support psikologis yang krusial. Jika level tersebut kembali ditembus, IHSG berpotensi lanjutkan pelemahan menuju area 5.880-5.900 sebagai support berikutnya.
Sementara itu, resistance jangka pendek berada di kisaran 6.120-6.250. Indeks baru akan memiliki peluang technical rebound yang lebih meyakinkan apabila mampu kembali bertahan di atas area 6.200 dengan dukungan volume beli yang meningkat.
Namun untuk sementara, pergerakan indeks masih cenderung berada dalam fase panic selling dan high volatility sehingga investor perlu lebih selektif dan disiplin dalam mengelola risiko investasi.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak menurun dan sempat menyentuh angka tertinggi di 6.378,811, sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh posisi terendah di 6.080,954.
Tekanan pasar terlihat merata di berbagai sektor saham, tercermin dari jumlah saham yang turun sebanyak 663 saham, hanya 88 saham yang menguat, dan 69 saham bergerak stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp 17,737 triliun dengan volume perdagangan sebesar 35,176 miliar saham dan frekuensi transaksi 2,13 juta kali. Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turun menjadi Rp 10.576 triliun.
Bursa Asia Mayoritas Hijau
Sementara itu, mayoritas bursa saham di Asia bergerak bervariasi. Sejumlah indeks utama di kawasan mencatat penguatan signifikan, meski pasar China dan Hong Kong masih berada di zona merah.
Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melonjak 3,14 persen ke level 61.684,14 atau naik 1.879,73 poin.
Kinerja positif juga terjadi pada indeks Kospi Korea Selatan yang melesat 8,42 persen ke posisi 7.815,59, setelah naik 606,64 poin.
Sementara itu, indeks Taiwan Weighted juga menguat 3,37 persen ke posisi 41.368,21 atau naik 1.347,39 poin.
Di sisi lain, tekanan masih membayangi pasar saham China. Indeks Shanghai Composite turun 2,04 persen ke level 4.077,277 atau melemah 84,908 poin. Indeks Shenzhen Component juga terkoreksi 2,07 persen menjadi 15.247,27 setelah turun 322,709 poin.
Pelemahan turut terjadi pada indeks Hang Seng Hong Kong yang turun 1,03 persen ke level 25.386,52 atau terkoreksi 264,60 poin.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura bergerak relatif stagnan dengan pelemahan tipis 0,01 persen ke level 5.044,54. Bursa Malaysia juga ditutup melemah setelah indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 0,37 persen menjadi 1.711,39.
Adapun indeks Nifty 50 India bergerak terbatas dengan kenaikan tipis 0,01 persen ke posisi 23.660,90.
Tag: #ihsg #kamis #turun #persen #pasar #respons #negatif #pembentukan #bumn #ekspor