Lipstick Effect di Indonesia, Bukan Tanda Konsumsi Masyarakat Kuat
Warga memilih pakaian lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026). Menurut pemilik toko pakaian modern, penjualan pakaian menjelang Lebaran 1447 Hijriah mengalami peningkatan dari hari biasa sebanyak 25 barang per hari menjadi 60-65 barang per hari dengan barang terlaris seperti pakaian, sandal, sepatu dan tas.(ANTARA FOTO/Yudi Manar)
12:40
19 Mei 2026

Lipstick Effect di Indonesia, Bukan Tanda Konsumsi Masyarakat Kuat

 Fenomena lipstick effect mulai tampak pada pola konsumsi masyarakat Indonesia di tengah tekanan ekonomi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan gejala ini terlihat dari pergeseran prioritas belanja masyarakat.

Masyarakat cenderung menahan pembelian aset besar, lalu beralih ke produk gaya hidup dengan harga lebih terjangkau.

"Dalam kondisi ekonomi penuh, biasanya masyarakat menahan pembelian besar seperti rumah, mobil, atau barang mahal, tetapi tetap membeli kemewahan kecil seperti skincare, kopi, parfum, atau produk gaya hidup yang harganya masih terasa terjangkau, ” ujar Yusuf saat dihubungi, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Mengenal Fenomena Lipstick Effect, Kenapa Orang Tetap Belanja saat Ekonomi Sulit?

Fenomena lipstick effect secara umum dikenal sebagai gejala psikologis dalam perilaku konsumsi. Tekanan ekonomi meningkat, tetapi keinginan mencari hiburan atau kepuasan pribadi tetap tinggi.

Yusuf menambahkan, ramainya belanja pada pos tersebut tidak bisa langsung dibaca sebagai tanda kondisi keuangan masyarakat aman.

“Itulah sebabnya beberapa kategori konsumsi kecil masih terlihat ramai meskipun tekanan ekonomi meningkat. Fenomena ini bukan berarti ekonomi masyarakat baik-baik saja,” kata dia.

Yusuf menilai perilaku belanja tersebut cenderung menjadi jalan pintas untuk memperoleh kepuasan emosional di tengah penurunan kemampuan finansial.

“Justru sering kali menjadi tanda bahwa masyarakat sedang mencari kompensasi psikologis di tengah tekanan daya beli,” tutur Yusuf.

Baca juga: Lipstick Effect Muncul, Konsumen Tetap Belanja Kecil di Tengah Tekanan Daya Beli

Gejala downtrading dan penggunaan paylater

Yusuf juga menyoroti munculnya strategi bertahan dari konsumen melalui penurunan kelas produk atau downtrading.

Strategi ini dilakukan agar konsumen tetap bisa mempertahankan kebiasaan belanja harian.

“Apalagi sekarang mulai terlihat gejala downtrading, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, kemasan kecil, atau memanfaatkan paylater untuk menjaga gaya hidup,” jelas dia.

Yusuf mengingatkan pemangku kebijakan dan pelaku pasar agar tidak keliru membaca data konsumsi mikro yang tampak aktif.

“Efek lipstik sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat,” tegas Yusuf.

Yusuf juga mengingatkan dampak jangka panjang bagi ketahanan finansial keluarga apabila stagnasi pendapatan dan tekanan ekonomi terus berlanjut tanpa perbaikan.

“Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras, konsumsi utang meningkat, dan daya tahan masyarakat semakin melemah,” ungkap dia.

Kelas menengah hadapi tekanan

Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia, Teguh Yudo Wicaksono, mengatakan lipstick effect merupakan fenomena kelas menengah yang sedang mengalami tekanan.

"Kita ketahui bahwa selama ini banyak kebijakan ekonomi yang membuat kelas menengah stagnan," ungkap dia.

Tekanan tersebut antara lain berasal dari ketidakpastian usaha dan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Ini membuat investor menahan untuk ekepansi," ucap dia.

Teguh menilai kondisi tersebut berdampak langsung kepada kelas menengah.

Kelas menengah akhirnya mengalihkan belanja barang mewah bernilai besar, seperti mobil dan rumah, ke barang mewah bernilai kecil.

"Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," ucap dia.

Beli barang mewah kecil saat ekonomi tertekan

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan tekanan ekonomi yang semakin besar biasanya diikuti kenaikan pengeluaran untuk barang kemewahan kecil, seperti lipstik atau parfum.

Masyarakat cenderung tetap membelanjakan uangnya untuk barang kecil yang dianggap bisa memperbaiki suasana hati, meski bukan kebutuhan utama.

Barang tersebut dipandang sebagai hadiah kecil untuk diri sendiri di tengah tekanan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau ketidakpastian ekonomi.

Bhima mengatakan kondisi ini biasanya muncul saat masyarakat mengalami tekanan ekonomi dan psikologis akibat pekerjaan, penurunan pendapatan, hingga sulitnya mencari lapangan kerja.

“Untuk menghibur diri dari tekanan pekerjaan yang semakin meningkat, banyak orang susah cari kerja, pendapatannya turun,” ungkap dia.

Bukan tanda penguatan daya beli

Bhima menilai tingginya antusiasme masyarakat terhadap produk viral, konser musik, dan barang gaya hidup tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda daya beli masyarakat kuat.

“Makanya konser musik juga laris, tapi itu bukan menandakan ekonomi sedang baik-baik aja, justru sebaliknya,” ucap Bhima.

Bhima mengingatkan fenomena tersebut bisa menjadi sinyal tekanan ekonomi yang lebih besar ke depan apabila masyarakat tidak mulai lebih bijak mengelola pengeluaran.

“Justru menandakan bahwa akan ada badai ekonomi yang segera datang,” terang Bhima.

“Ekonomi akan semakin tertekan, jadi daripada beli barang-barang yang sifatnya tersier seperti lipstick dan parfum, ya harusnya masyarakat bersiap dengan dana darurat dan kebutuhan pokok,” lanjut Bhima.

Asal usul lipstick effect

Efek lipstik merupakan konsep ekonomi yang menggambarkan kebiasaan konsumen membeli barang kecil yang memberi rasa nyaman saat kondisi keuangan sedang sulit.

Barang yang dibeli biasanya bukan kebutuhan utama, tetapi masih terasa terjangkau. Contohnya kosmetik, parfum, kopi, atau makan di luar setelah gajian.

Fenomena ini populer setelah Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Estée Lauder melihat penjualan lipstik meningkat saat ekonomi melemah.

Estée Lauder melaporkan kenaikan drastis penjualan lipstik setelah serangan teroris pada 11 September 2001.

Ekonom Juliet Schor pertama kali memperkenalkan istilah lipstick effect. Istilah ini merujuk pada perilaku konsumen yang membeli barang mewah dengan harga terjangkau, seperti kosmetik premium.

Forbes melaporkan pada 1 Juni 2022, istilah ini kemudian dikenal sebagai salah satu indikator perilaku konsumen saat resesi.

Efek lipstik selama bertahun tahun kerap dikaitkan dengan anggapan perempuan membeli produk kecantikan untuk menarik perhatian pasangan atau meningkatkan peluang kerja.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan kinerja yang lebih kompleks.

Ekonom California State University, San Bernardino, Yasemin Dildar, mengatakan peningkatan pembelian produk kecantikan saat ekonomi sulit lebih berkaitan dengan kebutuhan emosional.

“Itu hanyalah bentuk hiburan kecil,” kata Dildar, seperti dikutip dari Bloomberg (15/11/2025).

Riset Dildar pada periode resesi besar menunjukkan konsumen cenderung mengurangi pembelian barang mahal seperti tas, pakaian, atau perhiasan.

Konsumen kemudian menggantinya dengan produk yang lebih murah, tetapi tetap memberi rasa puas.

Antrean panjang untuk parfum dan jam tangan

Akun Instagram @localpridegarage memperlihatkan antrean panjang di kawasan Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta, setelah parfum lokal merek Mykonos viral di media sosial.

Sejumlah unggahan memperlihatkan anak anak hingga remaja rela mengantre berjam jam demi mendapatkan produk parfum yang sedang populer.

Tren itu diduga dipengaruhi konten kreator dan streamer media sosial yang ramai mengulas produk tersebut.

Ulasan tersebut memicu fenomena fear of missing out (FOMO) atau takut ketinggalan tren di kalangan anak muda dan remaja.

Peluncuran koleksi jam tangan saku terbaru hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch juga memicu kehebohan di berbagai negara, termasuk Indonesia, pada Sabtu (16/5/2026).

Banyak penggemar horologi rela mengantre sejak pagi buta di depan gerai Swatch di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, dan Pacific Place, Jakarta Selatan.

Mereka mengantre demi mendapatkan seri Royal Pop Collection.

Tag:  #lipstick #effect #indonesia #bukan #tanda #konsumsi #masyarakat #kuat

KOMENTAR