OJK: Suku Bunga Kredit Terus Turun Seiring BI Rate Melandai
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mencermati perkembangan transmisi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) terhadap suku bunga kredit perbankan.
Di tengah keputusan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada April 2026, OJK menilai tren penurunan suku bunga kredit masih berlangsung.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, rerata tertimbang suku bunga Kredit Rupiah pada Maret 2026 tercatat sebesar 8,76 persen.
Baca juga: Data Inflasi AS Jadi Penentu Suku Bunga The Fed, Rupiah Terdesak
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 8,80 persen maupun Maret 2025 yang berada di level 9,20 persen.
“OJK senantiasa mencermati tren penurunan suku bunga kredit yang terus berlangsung,” ujar Dian dalam jawaban tertulis Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, dikutip pada Senin (18/5/2026).
Menurut dia, penurunan suku bunga kredit terutama terjadi pada kredit produktif, baik Kredit Modal Kerja maupun Kredit Investasi.
Hal tersebut dinilai sejalan dengan penurunan biaya dana serta kebijakan penurunan BI Rate dalam setahun terakhir.
Baca juga: Bank Mandiri Perkirakan The Fed Tahan Suku Bunga hingga 2027, Bagaimana Dengan BI Rate?
“Penurunan suku bunga kredit terutama terjadi pada kredit produktif, baik Kredit Modal Kerja maupun Kredit Investasi, sejalan dengan penurunan biaya dana dan kebijakan penurunan BI Rate dalam setahun terakhir,” kata Dian.
Suku bunga DPK ikut menurun
Dian menjelaskan, penurunan BI Rate dari 5,75 persen pada Maret 2025 menjadi 4,75 persen pada Maret 2026 turut memengaruhi pergerakan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) rupiah.
Ilustrasi suku bunga, bunga kredit.
OJK mencatat rerata tertimbang suku bunga DPK Rupiah turun menjadi 2,66 persen.
“Selanjutnya, penurunan BI Rate dari 5,75 persen pada Maret 2025 menjadi 4,75 persen pada Maret 2026 turut memengaruhi penurunan rerata tertimbang suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) Rupiah menjadi 2,66 persen,” ujar Dian.
Baca juga: Pengangguran AS Tetap Rendah, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Makin Tipis
Meski demikian, OJK menilai transmisi penurunan BI Rate terhadap bunga kredit perbankan tidak terjadi secara instan.
Dian mengatakan, terdapat jeda waktu tertentu sebelum penurunan suku bunga acuan sepenuhnya tercermin pada bunga kredit yang diterapkan bank kepada nasabah.
“Perlu disampaikan bahwa transmisi penurunan BI Rate terhadap suku bunga kredit memerlukan jeda waktu tertentu,” kata dia.
Karena itu, OJK memperkirakan suku bunga kredit masih akan terus menyesuaikan mengikuti arah pergerakan BI Rate.
Baca juga: OJK Sebut Suku Bunga Kredit Bank Terus Menurun
“Oleh karena itu, suku bunga kredit diperkirakan akan terus menyesuaikan mengikuti pergerakan BI Rate,” ujar Dian.
Penyesuaian bunga kredit tergantung strategi masing-masing bank
Meski terdapat arah penurunan, OJK menilai kebijakan suku bunga kredit pada setiap bank akan berbeda-beda.
Menurut Dian, penyesuaian bunga kredit sangat dipengaruhi oleh strategi bisnis serta struktur biaya dana atau cost of fund (CoF) masing-masing bank.
“Namun demikian, penyesuaian suku bunga kredit pada masing-masing bank akan sangat bergantung pada strategi bisnis dan struktur biaya dana (cost of fund/CoF) masing-masing bank,” kata dia.
Ilustrasi kredit, kredit perbankan.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Prospek Suku Bunga Jadi Sorotan
Kondisi tersebut membuat transmisi kebijakan moneter ke sektor perbankan berjalan dengan kecepatan yang berbeda antarbank.
Bank dengan struktur pendanaan yang lebih efisien dinilai memiliki ruang lebih besar untuk menurunkan bunga kredit dibandingkan bank yang masih menghadapi biaya dana tinggi.
Di sisi lain, persaingan penghimpunan dana juga masih menjadi perhatian regulator.
OJK menyoroti praktik pemberian special rate atau bunga simpanan khusus kepada deposan tertentu yang dinilai dapat meningkatkan biaya dana perbankan.
Baca juga: Inflasi Tembus 4,6 Persen, Australia Naikkan Suku Bunga
“Selanjutnya, praktik pemberian special rate menyebabkan biaya dana perbankan lebih tinggi karena bank harus bersaing menawarkan suku bunga simpanan yang lebih besar kepada deposan tertentu,” ujar Dian.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat ruang penurunan bunga kredit menjadi lebih terbatas apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan pendanaan yang efisien.
OJK minta bank perbesar dana murah
Untuk menjaga ruang penurunan bunga kredit tetap terbuka, OJK meminta perbankan memperkuat strategi pendanaan, terutama dengan meningkatkan porsi dana murah atau current account saving account (CASA).
Dian mengatakan, peningkatan dana murah dapat membantu bank menekan biaya dana sehingga lebih leluasa dalam menyesuaikan suku bunga kredit.
Baca juga: Harga Emas Dunia Bangkit, Investor Disarankan Cermati Suku Bunga dan Inflasi
“Untuk itu, Bank perlu mengelola strategi pendanaan mereka, khususnya untuk meningkatkan porsi dana murah, sehingga akan menciptakan ruang bagi penurunan suku bunga kredit,” kata dia.
Dana murah selama ini menjadi salah satu komponen penting dalam struktur pendanaan perbankan karena memiliki biaya yang lebih rendah dibandingkan deposito berjangka.
Ilustrasi bank. Bank terbesar di dunia.
Dengan biaya dana yang lebih rendah, bank dinilai memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif.
Di tengah dinamika suku bunga global yang masih tinggi atau skenario high for longer yang kembali menguat, pengelolaan likuiditas dan struktur pendanaan menjadi faktor yang terus dicermati regulator.
OJK pun terus mengimbau perbankan agar menyesuaikan suku bunga kredit secara bertahap.
Penyesuaian tersebut, menurut Dian, tetap harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi pasar dan menjaga kesehatan rasio keuangan bank.
“OJK terus mengimbau perbankan agar secara bertahap menyesuaikan tingkat suku bunga kreditnya dengan tetap memperhatikan kondisi pasar dan menjaga rasio keuangan yang sehat,” ujar dia.
Penurunan bunga kredit banyak terjadi pada kredit produktif
OJK mencatat, penurunan bunga kredit dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak terjadi pada kredit produktif dibandingkan kredit konsumtif.
Baca juga: Mengapa Bank Lambat Turunkan Suku Bunga Kredit Saat BI Rate Rendah?
Kredit produktif yang meliputi Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi menjadi segmen yang paling terdampak dari penurunan biaya dana dan kebijakan pelonggaran moneter dalam setahun terakhir.
Menurut Dian, tren tersebut menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter mulai berjalan pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan aktivitas usaha dan investasi.
Penurunan bunga pada kredit produktif dinilai penting karena dapat memengaruhi biaya pembiayaan dunia usaha.
Dengan bunga kredit yang lebih rendah, pelaku usaha memiliki peluang memperoleh pembiayaan dengan biaya yang lebih ringan untuk mendukung ekspansi maupun investasi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Pasar Cermati Perang AS-Iran dan Arah Suku Bunga The Fed
Ilustrasi kredit, kredit UMKM.
Di sisi lain, perbankan juga tetap mempertimbangkan berbagai faktor dalam menentukan harga kredit, mulai dari profil risiko debitur, kondisi likuiditas, hingga strategi pertumbuhan kredit masing-masing bank.
Karena itu, laju penurunan bunga kredit tidak selalu seragam di seluruh sektor maupun seluruh bank.
OJK menilai proses penyesuaian masih akan terus berlangsung seiring pergerakan BI Rate dan dinamika biaya dana di industri perbankan.
Dalam periode satu tahun terakhir, BI Rate tercatat turun 100 basis poin dari 5,75 persen pada Maret 2025 menjadi 4,75 persen pada Maret 2026.
Baca juga: BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah
Pada periode yang sama, rerata tertimbang suku bunga Kredit Rupiah turun dari 9,20 persen menjadi 8,76 persen.
Sementara itu, rerata tertimbang suku bunga DPK Rupiah juga tercatat menurun menjadi 2,66 persen.
OJK menyatakan akan terus memantau perkembangan transmisi suku bunga tersebut di tengah kondisi pasar dan persaingan likuiditas perbankan.
Tag: #suku #bunga #kredit #terus #turun #seiring #rate #melandai