Dollar AS Menguat di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Obligasi
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). . (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
08:56
18 Mei 2026

Dollar AS Menguat di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Obligasi

- Kurs dollar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan Senin (18/5/2026), di tengah kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi global.

Sentimen tersebut dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman, termasuk dollar AS.

Mengutip Reuters, Senin (18/5/2026), euro turun lebih dari 0,1 persen menjadi 1,1609 dollar AS. Poundsterling juga melemah lebih dari 0,1 persen ke level 1,3305 dollar AS.

Baca juga: Akankah Rupiah Menguat Setelah Menyentuh Rp 17.602 per Dollar AS? Ini Kata Ekonom UGM

Mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko turut tertekan. Dollar Australia melemah 0,4 persen menjadi 0,7121 dollar AS, sedangkan dollar Selandia Baru relatif stabil di level 0,5827 dollar AS.

Sementara itu, indeks dollar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama naik tipis menjadi 99,393.

Harga minyak melonjak

Penguatan dollar AS terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Harga minyak Brent naik lebih dari 1 persen hingga menembus 110 dollar AS per barel setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab dilaporkan diserang drone.

Arab Saudi juga melaporkan berhasil mencegat tiga drone, sementara negosiasi terkait konflik AS-Israel dengan Iran disebut masih menemui jalan buntu.

Baca juga: Dollar AS Menguat, Rupiah Termasuk Mata Uang Asia yang Paling Tertekan

Di saat bersamaan, Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia dilaporkan masih mengalami gangguan pengiriman.

Analis Barclays menilai kondisi tersebut membuka peluang lanjutan penguatan dollar AS dalam jangka pendek.

“Risiko pasar dan obligasi tampak memburuk, sementara kondisi untuk penguatan dollar AS semakin terbuka,” tulis Barclays dalam catatannya.

Barclays memperkirakan dollar AS dapat menguat sekitar 0,5 persen hingga 1 persen setiap kali harga minyak naik 10 persen.

Sementara itu, Capital Economics memperingatkan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menguras cadangan minyak global lebih cepat.

Lembaga tersebut memperkirakan harga minyak Brent berpotensi naik ke kisaran 130 dollar AS hingga 140 dollar AS per barel apabila gangguan distribusi berlanjut hingga akhir Juni.

Baca juga: Dollar AS Terus Naik, Perlu Ikut Beli atau Jangan FOMO?

Obligasi global tertekan

Kenaikan harga energi turut memicu aksi jual di pasar obligasi global karena investor khawatir inflasi akan kembali meningkat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan tinggi di level 4,607 persen, mendekati posisi tertinggi dalam setahun terakhir.

Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed berada di level 4,085 persen.

Investor menilai Federal Reserve berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menahan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Strategis valuta asing OCBC, Christopher Wong, mengatakan dollar AS masih berpeluang menguat apabila imbal hasil obligasi tetap tinggi dan pasar memperkirakan kebijakan The Fed akan lebih agresif.

Perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan data awal Purchasing Managers’ Indexes (PMI) AS.

Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kekhawatiran bank sentral AS terhadap inflasi yang masih bertahan tinggi serta ketahanan ekonomi AS di tengah kondisi keuangan yang ketat.

Baca juga: Akhiri Pekan, Rupiah Ditutup ke Level Rp 17.597 per Dollar AS

Bursa Asia melemah

Di pasar saham, mayoritas bursa Asia bergerak di zona merah pada awal pekan.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen, sedangkan indeks Nikkei Jepang melemah 0,4 persen setelah sebelumnya mencatat reli kuat.

Pasar saham Korea Selatan turun 2,1 persen seiring meredanya reli saham semikonduktor.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,4 persen dan Nasdaq melemah 0,5 persen menjelang laporan kinerja emiten teknologi Nvidia yang dinanti investor pekan ini.

Pelaku pasar menilai laporan keuangan Nvidia akan menjadi ujian bagi reli saham sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dalam beberapa bulan terakhir menopang penguatan Wall Street.

Tag:  #dollar #menguat #tengah #lonjakan #harga #minyak #tekanan #obligasi

KOMENTAR