BUMN Berdikari Genjot Hilirisasi Ayam untuk Pasok Program MBG
Ilustrasi peternakan ayam, ayam broiler. (FREEPIK/TAWATCHAI07)
12:56
17 Mei 2026

BUMN Berdikari Genjot Hilirisasi Ayam untuk Pasok Program MBG

- BUMN peternakan PT Berdikari mendorong optimalisasi proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) demi menopang kebutuhan protein dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Optimalisasi HAT juga dilakukan dalam menghadapi dinamika pasar yang terjadi saat ini.

Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi mengatakan dengan ekosistem yang saling terhubung, peternak tidak lagi berjalan sendiri menghadapi dinamika pasar.

“Selain memperkuat swasembada pangan nasional, Proyek HAT juga menjadi langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” kata Maryadi dalam keterangan resmi, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga: Kadin Buka Suara soal Kabar Investor China Mau Bangun Peternakan Ayam Rp 1,4 T

Adapun kebutuhan bahan pangan untuk program MBG untuk standar penyajian ditetapkan sekitar 35 hingga 40 gram daging matang tanpa tulang per anak, atau setara sekitar 50 gram daging mentah.

Sementara itu, telur diberikan sebanyak satu butir dengan berat sekitar 60 gram dan disajikan tiga kali dalam sepekan.

Dalam praktiknya, satu dapur MBG yang melayani hingga 3.000 porsi per hari diperkirakan membutuhkan sekitar 350 hingga 400 kilogram daging ayam setiap hari.

Sementara itu, kebutuhan telur untuk mendukung kapasitas pelayanan tersebut berkisar antara 3.000 hingga 4.000 butir per hari.

Baca juga: Libatkan Praktisi dan Akademisi, BUMN Peternakan Kebut Proyek Hilirisasi Ayam

Dia mengatakan, program ini turut bertujuan memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia secara merata.

Ilustrasi peternakan ayam. PIXABAY/CINDY PARKS Ilustrasi peternakan ayam.

Selain itu juga, HAT diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri perunggasan nasional sekaligus meningkatkan produktivitas peternak rakyat.

“HAT diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri perunggasan nasional melalui ekosistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir,” ujar Maryadi.

Dia menegaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan semangat pemerintah dalam mempercepat swasembada pangan nasional melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2026.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab

Ditambah lagi, hadirnya ketentuan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 34 Tahun 2025 yang memberi arah sekaligus memastikan sektor pertanian dan peternakan nasional, bergerak berdasarkan tata kelola yang tertib dengan standar usaha yang terukur.

Turut mengawal jalannya Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT), General Manager Corporate Secretary & SR PT Berdikari, AS.

Hasbi Al-Islahi, juga memastikan setiap tahapan pembangunan bergerak dalam ritme yang terukur dan terarah.

“Berdikari semakin serius memastikan setiap tahapan Proyek HAT berjalan optimal, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga implementasi di lapangan, sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi peternak rakyat dan swasembada pangan nasional,” ujar Hasbi.

Baca juga: Kementan Cari Cara Simpan Kelebihan Stok Pangan Nasional, Ada Beras, Jagung, dan Daging Ayam

Untuk mendukung berjalan optimalnya HAT, PT Berdikari juga menggelar Focus Group Discussion (FGD), dan langsung menurunkan tim ke lapangan untuk menelusuri perkembangan proyek HAT di Malang.

“Berdikari bersama tim ahli turun langsung meninjau Proyek HAT di Malang,” ujar Maryadi.

Peninjauan tersebut turut dihadiri Direktur Pembibitan Berdikari guna memastikan proyek HAT kokoh dalam implementasi demi menyiapkan fondasi emas industri perunggasan nasional dari hulu hingga hilir.

“Kami memastikan setiap aspek Feasibility Study (FS) dan site plan selaras dengan realitas lapangan agar proyek berjalan matang, terukur, dan sesuai kebutuhan industri,” jelas Maryadi.

Ilustrasi telur ayam. UNSPLASH/LOUIS HANSEL Ilustrasi telur ayam.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok, Mentan Akan Cek dan Panggil Produsen Pakan

Dia bilang, rekomendasi dari tim pakar akan menjadi bekal penting agar program HAT berjalan sesuai regulasi, sehingga menjadi pilar baru ketahanan pangan berbasis protein hewani nasional.

“Proyek ini adalah ikhtiar besar perusahaan dalam membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi,” tegas Maryadi.

Sebagai informasi, program HAT yang dijalankan PT Berdikari menjadi salah satu proyek prioritas nasional di bawah koordinasi Kementerian Pertanian dalam upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun fondasi industri perunggasan nasional yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Program tersebut dirancang untuk mendorong pengembangan sektor peternakan ayam dari hulu hingga hilir, sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat pasokan pangan, serta menciptakan nilai tambah bagi industri peternakan dalam negeri.

Baca juga: Harga Ayam Hidup Turun ke Rp 18.000, Peternak Merugi

Dalam pelaksanaannya, proyek HAT dilakukan melalui sejumlah tahapan strategis.

Pada tahap awal, PT Berdikari menggandeng kalangan akademisi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna memperkuat riset serta mempercepat implementasi teknologi dan pengembangan industri perunggasan nasional.

Selanjutnya, perusahaan juga melakukan eksekusi langsung di lapangan dengan menerjunkan tim ke berbagai daerah untuk memastikan program berjalan sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah.

Langkah tersebut dilakukan agar pengembangan ekosistem perunggasan dapat berjalan lebih terukur dan terintegrasi.

Tag:  #bumn #berdikari #genjot #hilirisasi #ayam #untuk #pasok #program

KOMENTAR