AS dan Iran Masih Buntu soal Selat Hormuz, Harga Minyak Kian Memanas
- Amerika Serikat (AS) dan Iran masih belum menemukan titik temu terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Meski Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz harus dibuka untuk pelayaran internasional, belum ada langkah konkret yang berhasil dicapai untuk mewujudkannya.
Iran menegaskan arus pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal setelah konflik dengan AS dan Israel berakhir. Namun, Teheran tetap ingin mempertahankan kontrol tertentu atas jalur tersebut.
Baca juga: Iran Ternyata Sita Kapal China di Selat Hormuz Saat KTT Trump-Xi, Ada Apa?
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan keamanan pelayaran akan dipulihkan ketika situasi kawasan kembali stabil.
“Secara alami, ketika kondisi ketidakamanan saat ini selesai, navigasi di Selat Hormuz akan kembali normal,” ujar Pezeshkian seperti dikutip kantor berita Mehr.
Ia menambahkan Iran akan menerapkan mekanisme pengawasan dan kontrol yang efektif di Selat Hormuz sesuai hukum internasional. Meski demikian, Iran tetap menyatakan terbuka terhadap penyelesaian diplomatik.
Jalur minyak dunia nyaris lumpuh
Ancaman Iran terhadap kapal-kapal di Teluk Persia membuat ekspor minyak dari kawasan kaya energi itu nyaris terhenti.
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga energi global sekaligus memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi dengan AS.
Baca juga: Terjepit di Selat Hormuz, Oman Jadi Samsak Geopolitik Iran dan AS
Sebagai respons, AS memperketat blokade terhadap ekspor minyak Iran guna menekan ekonomi Teheran dan memaksa negara itu menerima syarat perdamaian dari Washington.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali untuk pelayaran internasional.
Pernyataan itu muncul ketika AS dan China berupaya menunjukkan kesamaan sikap terkait konflik Timur Tengah dalam pertemuan Trump dan Xi pekan ini, meski Beijing berulang kali mengkritik serangan AS-Israel terhadap Iran.
Dalam perjalanan pulang dari China, Trump mengatakan dirinya juga membahas kemungkinan pencabutan sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak mentah Iran.
“Saya akan membuat keputusan dalam beberapa hari ke depan,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
Baca juga: Jalan Tol Digital Tersembunyi di Selat Hormuz, Potensi Mesin Cuan dan Kekuatan Baru Iran?
AS dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan sanksi terhadap perusahaan China yang membeli minyak Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran. Namun, pemerintah China disebut meminta perusahaan-perusahaannya mengabaikan sanksi tersebut.
Trump bahkan mengklaim tiga kapal tanker China yang melintasi Selat Hormuz pekan ini dapat mengangkut minyak Iran karena mendapat izin dari AS.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan lebih dari 30 kapal telah diizinkan melintas sejak Rabu malam.
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Harga minyak melonjak
Ketidakpastian di Selat Hormuz membuat pasar minyak global semakin ketat. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 50 persen sejak perang pecah.
Pelaku pasar khawatir konflik AS dan Iran akan kembali memanas setelah kunjungan Trump ke China gagal menghasilkan kemajuan berarti terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Di sisi lain, pergerakan kapal tanker yang sempat membaik awal pekan ini kembali melambat karena pemilik kapal masih berhati-hati terhadap risiko keamanan di kawasan.
Baca juga: Lawan Blokade Selat Hormuz, UEA Percepat Proyek Pipa Minyak West-East
Bloomberg Economics menilai situasi saat ini semakin tidak berkelanjutan.
“Negosiasi mengalami kebuntuan, kekerasan masih terjadi secara sporadis, dan biaya ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz terus meningkat,” tulis analis pertahanan Bloomberg Economics, Becca Wasser.
Ia menilai ancaman konflik terbuka masih besar di tengah belum adanya kesepakatan nyata antara kedua pihak.
Negosiasi nuklir juga tersendat
Selain isu pelayaran, pembicaraan mengenai program nuklir Iran juga belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Iran mengungkapkan pembahasan mengenai cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ditunda ke tahap negosiasi berikutnya karena dianggap sangat rumit.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan keputusan penundaan itu telah disepakati bersama pihak AS.
Baca juga: Tegang dengan Iran, UEA Kebut Bangun Pipa Minyak Hindari Selat Hormuz
Trump sendiri menyebut AS siap mengirim pasukan untuk mengambil uranium Iran “pada waktu yang tepat”, meski sebelumnya ia mengakui langkah tersebut lebih bersifat simbolis.
Cadangan uranium Iran hingga kini masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya mencapai kesepakatan damai.
Di tengah ketegangan itu, Pakistan kembali berupaya menjadi mediator. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu pejabat Iran di Teheran untuk membahas peluang melanjutkan negosiasi damai AS-Iran.
Sementara itu, AS juga mengumumkan Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari guna membuka ruang perundingan lanjutan di kawasan.
Tag: #iran #masih #buntu #soal #selat #hormuz #harga #minyak #kian #memanas