Saham INCO Merah, Ritel Masih Layak Serok?
Ilustrasi aturan free float saham. (SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO)
14:00
8 Mei 2026

Saham INCO Merah, Ritel Masih Layak Serok?

- Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bergerak di zona merah pada penutupan sesi satu perdagangan Jumat (8/5/2026). Tekanan itu terjadi saat aksi ambil untung investor setelah saham emiten nikel tersebut sebelumnya mencatatkan penguatan sejak awal tahun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INCO turun 350 poin atau 5,56 persen ke level Rp 5.950 per saham.

Saham dibuka di area Rp 6.300, sebelum terus mengalami tekanan jual sepanjang sesi perdagangan.

Baca juga: Saham INCO, BRMS, dan BREN Ambles, IHSG Ditutup Merah di Sesi I

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Pergerakan saham INCO sempat menyentuh posisi terendah di Rp 5.925, sebelum bergerak konsolidatif di kisaran Rp 5.950 hingga akhir sesi satu perdagangan siang ini.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target harga tetap di level Rp 7.400 per saham, meski kinerja operasional perseroan pada kuartal I-2026 mengalami tekanan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Farras Farhan, mengatakan target harga tersebut didasarkan pada valuasi 21 kali price to earnings (P/E) dan 10,5 kali EV/EBITDA untuk proyeksi tahun 2026.

“Kami mempertahankan rekomendasi BUY dengan TP tetap di Rp 7.400, berdasarkan valuasi 21,0x P/E dan 10,5x EV/EBITDA 2026F,” ujar Farras dalam rilis terbarunya, Jumat.

Baca juga: Harga Nikel Tertekan, INCO Andalkan Strategi Keberlanjutan

Meski saham INCO telah mengungguli kinerja IHSG sebesar 34,3 persen secara year to date (YTD), valuasinya dinilai masih menarik.

Saat ini, saham INCO diperdagangkan pada level 12,5 kali forward P/E 2026, mendekati minus satu standar deviasi rerata dua tahun terakhir.

Mirae Asset masih melihat potensi pertumbuhan laba INCO didorong peningkatan penjualan bijih nikel, seiring persetujuan RKAB dan pertumbuhan permintaan high-pressure acid leach (HPAL).

Ilustrasi nikel, penambangan nikel.SHUTTERSTOCK/EVGHENY_V Ilustrasi nikel, penambangan nikel.

Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain volatilitas harga nikel, keterlambatan persetujuan RKAB, kenaikan biaya input produksi, hingga potensi implementasi windfall tax.

Baca juga: Jurus ADRO dan INCO Hadapai Transisi Energi dan Harga Komoditas

Kinerja keuangan dan operasional INCO

INCO mencatat pelemahan volume penjualan nickel matte sebesar 13.727 ton atau turun 19,7 persen secara tahunan (year on year/YoY) dan turun 25,5 persen secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ).

Meski begitu, berhasil diimbangi kenaikan average selling price (ASP) menjadi 14.214 dollar AS per ton.

ASP tersebut naik 19,1 persen secara tahunan dan tumbuh 15,5 persen dibanding kuartal-I 2025.

Selain itu, perseroan juga mencatat ekspansi margin yang mendukung peningkatan profitabilitas.

Baca juga: Bos INCO Blak-blakan: RI Kaya Nikel, tapi Teknologi Dikuasai China

Pendapatan bersih INCO tercatat 253 juta dollar AS atau naik 22,3 persen secara tahunan, meski turun 11,3 persen dibanding kuartal I-2025.

Sementara itu, EBITDA melonjak menjadi 80 juta dollar AS atau tumbuh 51,5 persen secara tahunan dan naik 83,1 persen secara kuartalan.

Kondisi tersebut mendorong margin EBITDA perseroan naik ke level 32 persen.

Laba bersih INCO juga meningkat menjadi 44 juta dollar AS atau tumbuh 100,1 persen secara tahunan dan naik 145,2 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Baca juga: Respons Anak Buah Bahlil soal Permintaan Tambahan Kuota Bijih Nikel INCO

Meski demikian, capaian laba tersebut masih berada di bawah ekspektasi akibat pelemahan volume penjualan terkait aktivitas maintenance.

Pasca kuartal I-2026, proyeksi volume penjualan high-grade nickel matte (HGNM) disesuaikan menjadi 70,5 ribu ton atau turun 4 persen secara tahunan.

Namun, proyeksi penjualan bijih nikel untuk 2026 tetap dipertahankan di level 9,3 juta wet metric ton (wmt).

Kuatnya ASP bijih nikel sebesar 59 dollar AS per wmt didorong tingginya permintaan smelter serta implementasi skema harga HPM baru.

Baca juga: Kepemilikan Asing di Vale Indonesia (INCO) Menguat, Saham Lokal Tergerus

Namun, kenaikan harga sulphuric acid dan bahan bakar mulai menekan biaya operasional smelter sehingga harga saat ini dinilai tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Karena itu, proyeksi pendapatan 2026 direvisi menjadi 1,4 miliar dollar AS atau turun 2,2 persen.

Sementara proyeksi EBITDA dipangkas menjadi 439 juta dollar AS atau turun 8,2 persen, dengan margin EBITDA diperkirakan berada di level 31,3 persen.

 

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #saham #inco #merah #ritel #masih #layak #serok

KOMENTAR