BPS: 5 dari 100 Angkatan Kerja Masih Menganggur
Pencari kerja antre memasuki aula saat Job Fair Kudus 2025 di Gedung Hraha Mustika, Desa Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar bursa kerja yang menghadirkan 20 perusahaan dengan total 1.401 lowongan pekerjaan bagi penyandang disibilitas, lulusan perguruan tinggi dan SMA sebagai upaya penyerapan tenaga kerja serta menekan angka pengangguran. (ANTARA FOTO/Nirza)
13:16
5 Mei 2026

BPS: 5 dari 100 Angkatan Kerja Masih Menganggur

– Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen.

Angka ini menunjukkan adanya penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus mencerminkan dinamika pasar tenaga kerja di tengah pertumbuhan angkatan kerja nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang, terdapat 7,24 juta orang yang belum terserap pasar kerja.

Baca juga: Pengangguran Turun ke 4,68 Persen, BPS Catat 7,24 Juta Orang Masih Tak Bekerja

Sejumlah pencari kerja antre saat Bursa Kerja 2025 di Plaza Jambu Dua, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/10/2025). Lembaga keuangan global Morgan Stanley mencatat tingkat pengangguran usia 15?24 tahun di Indonesia mencapai 17,3 persen dan angka ini termasuk salah satu yang tertinggi di kawasan Asia. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah Sejumlah pencari kerja antre saat Bursa Kerja 2025 di Plaza Jambu Dua, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/10/2025). Lembaga keuangan global Morgan Stanley mencatat tingkat pengangguran usia 15?24 tahun di Indonesia mencapai 17,3 persen dan angka ini termasuk salah satu yang tertinggi di kawasan Asia.

“Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 adalah 4,68 persen. Dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang, terdapat 7,24 juta di antaranya belum terserap pasar kerja sehingga menjadi penganggur," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

"Jumlah pengangguran secara absolut turun 0,035 juta orang pada periode Februari 2025 sampai Februari 2026," imbuh dia.

Penurunan jumlah pengangguran ini terjadi seiring peningkatan jumlah penduduk bekerja.

Dalam periode yang sama, jumlah penduduk bekerja bertambah 1,896 juta orang, mencerminkan adanya tambahan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi.

Baca juga: Pengangguran Jatim Turun 3,71 Persen, Ekonomi Ikut Terdorong

Dinamika angkatan kerja dan partisipasi

Berdasarkan data Sakernas Februari 2026, jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang, meningkat 1,862 juta orang dibandingkan Februari 2025.

Sementara itu, jumlah penduduk usia kerja mencapai 219,54 juta orang, menunjukkan tren peningkatan yang konsisten seiring pertumbuhan populasi.

Ilustrasi pekerja.Dok. Freepik/pressfoto Ilustrasi pekerja.

Baca juga: Pasar Tenaga Kerja AS Melemah, Pengangguran Naik ke 4,4 Persen

Namun demikian, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 70,56 persen, turun tipis 0,04 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini menunjukkan proporsi penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi relatif stagnan.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, partisipasi laki-laki dalam angkatan kerja masih jauh lebih tinggi dibanding perempuan.

TPAK laki-laki tercatat sebesar 84,57 persen, meningkat dari 84,34 persen pada Februari 2025.

Baca juga: PHK di AS Turun Tajam, tapi Klaim Tunjangan Pengangguran Tak Berubah

Sebaliknya, TPAK perempuan turun dari 56,70 persen menjadi 56,41 persen pada Februari 2026.

Perbedaan ini mencerminkan adanya kesenjangan partisipasi ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang masih menjadi karakteristik pasar tenaga kerja Indonesia.

Struktur pengangguran dan tren penurunan

Secara umum, TPT Februari 2026 sebesar 4,68 persen mengalami penurunan sebesar 0,08 persen poin dibandingkan Februari 2025.

Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar lima orang yang menganggur.

Baca juga: Anak Muda Terdidik jadi Pengangguran, Perlu Investasi untuk Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas

Jika dilihat dalam rentang waktu lebih panjang, tren ini menunjukkan penurunan bertahap dari 4,82 persen pada Februari 2024 menjadi 4,76 persen pada Februari 2025, dan kembali turun menjadi 4,68 persen pada Februari 2026.

Dari sisi jenis kelamin, tingkat pengangguran laki-laki tercatat sebesar 4,88 persen, lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar 4,36 persen.

Ilustrasi pengangguran, lulusan SMK sumbang pengangguran terbanyak.SHUTTERSTOCK/MMD CREATIVE Ilustrasi pengangguran, lulusan SMK sumbang pengangguran terbanyak.

Keduanya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 0,10 persen poin dan 0,05 persen poin.

Sementara itu, jika dilihat berdasarkan wilayah, tingkat pengangguran di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan.

Baca juga: Kala Tingkat Pengangguran Turun Namun Separuh Pekerja Indonesia Masih Alami Ketidaksesuaan Pendidikan dan Pekerjaan

TPT di perkotaan sebesar 5,60 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 3,20 persen. Keduanya sama-sama mengalami penurunan sebesar 0,13 persen poin dibandingkan Februari 2025.

Pengangguran menurut kelompok umur

Distribusi pengangguran berdasarkan kelompok umur menunjukkan pola yang relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Kelompok usia muda 15 sampai 24 tahun mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni sebesar 16,36 persen pada Februari 2026.

Sebaliknya, kelompok usia 60 tahun ke atas memiliki tingkat pengangguran paling rendah, yaitu sebesar 1,89 persen.

Baca juga: BPS: Tingkat Pengangguran Turun, Jumlah yang Menganggur 7,35 Juta Orang

Kelompok usia produktif utama, yakni 25 sampai 59 tahun, mencatat TPT sebesar 2,93 persen dan menjadi satu-satunya kelompok umur yang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam pasar tenaga kerja masih berada pada kelompok usia muda yang baru memasuki dunia kerja.

Pengangguran menurut tingkat pendidikan

BPS juga mencatat adanya variasi tingkat pengangguran berdasarkan pendidikan. Pada Februari 2026, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatat TPT tertinggi sebesar 7,74 persen.

ilustrasi pengangguran PHK. Kemenperin menegaskan gelombang PHK di industri manufaktur saat ini hanyalah sisa dampak relaksasi impor 2024, dan tidak menggambarkan kondisi industri yang tengah ekspansif.

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya ilustrasi pengangguran PHK. Kemenperin menegaskan gelombang PHK di industri manufaktur saat ini hanyalah sisa dampak relaksasi impor 2024, dan tidak menggambarkan kondisi industri yang tengah ekspansif.

Sementara itu, tingkat pengangguran terendah terdapat pada kelompok berpendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 2,32 persen.

Baca juga: Global Risks Report 2026: WEF Ingatkan Ancaman Pengangguran di Negara Berkembang, Termasuk Indonesia

Untuk lulusan pendidikan tinggi, TPT tercatat sebesar 6,13 persen untuk Diploma IV, S1, S2, dan S3.

Angka ini menunjukkan, pengangguran tidak hanya terjadi pada kelompok berpendidikan rendah, tetapi juga pada tenaga kerja terdidik.

Dari sisi distribusi, pengangguran masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), yang mencapai 28,00 persen dari total pengangguran pada Februari 2026.

Sebaliknya, lulusan Diploma I/II/III memiliki proporsi pengangguran paling kecil, yakni sekitar 2,48 persen.

Baca juga: Gen Z Dinilai Tak Siap Masuk Dunia Kerja, Pengangguran Meningkat?

Penyerapan tenaga kerja dan sektor dominan

Penurunan tingkat pengangguran tidak terlepas dari peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi oleh tiga sektor utama, yaitu pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri.

Ketiga sektor ini secara kumulatif menyerap 60,29 persen tenaga kerja nasional.

Baca juga: Pengangguran Gen Z Terdidik Tinggi, CSIS Sebut Pendidikan Belum Jawab Kebutuhan Industri

Secara rinci, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 28,78 persen tenaga kerja, diikuti perdagangan sebesar 17,95 persen, serta industri sebesar 13,57 persen.

Dominasi sektor-sektor tersebut menunjukkan struktur ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada sektor primer dan sektor perdagangan.

Status pekerjaan dan sektor informal

ilustrasi tenaga kerja. Dok. Freepik/tirachardz ilustrasi tenaga kerja.

Jika dilihat dari status pekerjaan, sebagian besar penduduk bekerja berada pada sektor informal.

Pada Februari 2026, jumlah pekerja informal mencapai 87,74 juta orang atau sekitar 59,42 persen dari total pekerja.

Baca juga: Pengangguran Sarjana Masih Tinggi, PKSS–Unsri Perkuat Kolaborasi Serap Lulusan

Sementara itu, pekerja formal berjumlah 59,93 juta orang atau sekitar 40,58 persen.

Meskipun secara absolut jumlah pekerja formal meningkat, secara persentase justru sedikit menurun dibandingkan Februari 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja masih banyak terjadi di sektor informal, yang umumnya memiliki tingkat perlindungan tenaga kerja yang lebih rendah.

Jam kerja dan setengah pengangguran

BPS juga mencatat karakteristik penduduk bekerja berdasarkan jam kerja.

Baca juga: Pengusaha Minta UMP 2026 Pertimbangkan Pengangguran dan Tekanan Industri

Pada Februari 2026, sebanyak 66,77 persen pekerja tergolong sebagai pekerja penuh waktu, yaitu mereka yang bekerja minimal 35 jam per minggu.

Sementara itu, sisanya sebesar 33,23 persen merupakan pekerja tidak penuh, yang terdiri dari pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran.

Tingkat setengah pengangguran tercatat sebesar 7,27 persen, turun 0,74 persen poin dibandingkan Februari 2025.

Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam kualitas jam kerja, meskipun sebagian tenaga kerja masih bekerja di bawah jam kerja normal.

Baca juga: Apindo: Hampir 67 Persen Pengangguran Gen Z

Di sisi lain, tingkat pekerja paruh waktu tercatat sebesar 25,97 persen, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,16 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Ilustrasi pengangguran. Provinsi dengan pengangguran tertingi 2025.SHUTTERSTOCK/LUNA VANDOORNE Ilustrasi pengangguran. Provinsi dengan pengangguran tertingi 2025.

Definisi dan pengukuran pengangguran

BPS mendefinisikan pengangguran sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja, tetapi sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.

Sementara itu, seseorang dikategorikan bekerja apabila melakukan kegiatan dengan tujuan memperoleh penghasilan atau keuntungan setidaknya satu jam dalam seminggu terakhir, sesuai standar International Labour Organization (ILO).

Definisi ini menjadi dasar dalam penghitungan TPT sebagai indikator utama untuk mengukur tingkat pengangguran di suatu negara.

Baca juga: Mengakhiri Pengangguran

Keterkaitan dengan indikator ketenagakerjaan lain

Selain TPT, indikator ketenagakerjaan lain juga memberikan gambaran kondisi pasar tenaga kerja secara lebih komprehensif.

Salah satunya adalah rata-rata upah buruh yang pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,29 juta rupiah.

Perbedaan upah juga terlihat berdasarkan jenis kelamin, di mana rata-rata upah buruh laki-laki sebesar Rp 3,55 juta, lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar Rp 2,80 juta.

Dari sisi sektor, upah tertinggi terdapat pada lapangan usaha aktivitas keuangan dan asuransi sebesar Rp 5,05 juta, sedangkan terendah pada sektor jasa lainnya sebesar Rp 2,00 juta.

Baca juga: Data BPS: Pengangguran Turun 4.092 Orang, Pekerja Paruh Waktu Naik 1,66 Juta

Data ini menunjukkan, kondisi ketenagakerjaan tidak hanya dilihat dari jumlah pengangguran, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tercermin dari tingkat upah dan jenis pekerjaan.

Perubahan klasifikasi lapangan usaha

Dalam publikasi Februari 2026, BPS juga mulai menerapkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025, yang menggantikan KBLI 2020 secara bertahap.

Perubahan ini mencakup penyesuaian kategori lapangan usaha untuk mengakomodasi perkembangan ekonomi, termasuk transformasi digital dan munculnya model bisnis baru.

Dengan pembaruan ini, data ketenagakerjaan diharapkan dapat menggambarkan struktur ekonomi secara lebih akurat dan relevan dengan kondisi terkini.

Baca juga: Jumlah Pengangguran RI Turun Jadi 7,46 Juta Orang, TPT Agustus 2025 Sentuh 4,85 Persen

Secara keseluruhan, data Februari 2026 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran mengalami penurunan, seiring peningkatan jumlah penduduk bekerja.

Namun, dinamika pasar tenaga kerja masih ditandai oleh tingginya pengangguran usia muda, dominasi sektor informal, serta perbedaan partisipasi dan upah berdasarkan jenis kelamin dan pendidikan.

Tag:  #dari #angkatan #kerja #masih #menganggur

KOMENTAR