Presdir PTRO Borong Saham Saat Harga Naik, Analis: Investor Ritel Jangan FOMO
Emiten pertambangan milik Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO).(DOKUMENTASI PETROSEA)
08:12
15 April 2026

Presdir PTRO Borong Saham Saat Harga Naik, Analis: Investor Ritel Jangan FOMO

- Presiden Direktur (Presdir) PT Petrosea Tbk Michael melakukan pembelian saham perusahaan, di tengah reli harga saham emiten berkode PTRO ini.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis Selasa (14/4/2026), Michael membeli  57.500 saham PTRO dengan harga Rp 5.400 per saham.

Dengan demikian, nilai transaksi yang dikeluarkan mencapai Rp 310,50 juta.

Aksi tersebut dilakukan pada 13 April 2026 dengan tujuan investasi.

Baca juga: Bos OJK Pamer Bukti Pasar Saham RI Makin Transparan, Percaya Diri Bersaing di Level Global

Seiring transaksi ini, kepemilikan saham Michael di PTRO meningkat menjadi sekitar 2,13 juta saham atau setara 0,0211 persen dari total modal ditempatkan dan disetor.

Sebelumnya, ia memiliki sekitar 2,07 juta saham atau 0,0206 persen.

Untuk diketahui, harga saham PTRO menguat signifikan dengan kenaikan 650 poin atau 10,83 persen ke level 6.650 pada penutupan perdagangan Selasa.

Sejak awal sesi, saham PTRO langsung melesat dari area 6.000 dan sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.800.

Namun, setelah mencapai puncak tersebut, harga mengalami konsolidasi dan bergerak sideways di kisaran 6.600-6.700 hingga penutupan.

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai aksi pembelian saham PTRO oleh Presiden Direktur merupakan sinyal positif yang mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap valuasi dan prospek bisnis perseroan.

Langkah tersebut diyakini tidak semata-mata dipandang sebagai upaya mendorong harga saham, melainkan indikasi bahwa pihak internal melihat harga saat ini masih berada pada level yang menarik atau bahkan relatif undervalued.

“Aksi Presdir membeli saham PTRO menurut saya menunjukkan sinyal kepercayaan manajemen terhadap valuasi dan prospek perusahaan, bukan sekadar pancingan untuk menggoreng harga,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam.

Menurutnya, dalam praktik pasar, insider buying kerap direspons sebagai sinyal optimisme dari manajemen, karena mereka dinilai memiliki pemahaman lebih dalam terhadap kondisi dan arah kinerja perusahaan.

Insider buying biasanya dibaca pasar sebagai indikasi bahwa harga saat ini dianggap masih menarik atau undervalued oleh internal,” paparnya.

Namun demikian, Reydi mengingatkan bahwa nilai transaksi pembelian yang dilakukan masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar PTRO, sehingga dampak langsung terhadap pergerakan harga saham cenderung terbatas.

Bagi investor yang sudah memiliki saham PTRO, kondisi itu dapat menjadi dasar untuk mempertahankan posisi sambil mencermati perkembangan lanjutan, terutama apakah terdapat aksi akumulasi tambahan dari manajemen maupun perbaikan kinerja fundamental.

Sementara bagi investor yang belum masuk, keputusan investasi sebaiknya tidak didorong oleh euforia semata.

Pendekatan yang lebih rasional tetap diperlukan dengan mempertimbangkan valuasi, tren kinerja, serta momentum pasar secara keseluruhan.

“Untuk investor, kalau sudah pegang kecenderungan bisa hold, sambil lihat peluang ke depan yaitu apakah ada akumulasi lanjutan atau perbaikan kinerja. Kalau belum punya, jangan langsung FOMO hanya karena insider buying. Tetap lihat valuasi, tren kinerja, dan momentum,” beber Reydi.

Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai aksi pembelian saham oleh manajemen puncak dengan menggunakan dana pribadi mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap prospek perusahaan ke depan.

Aksi tersebut menjadi sinyal bahwa internal perusahaan melihat adanya potensi pertumbuhan yang masih terbuka.

Baca juga: Happy Hapsoro Hengkang dari Minna Padi Investama, Saham PADI Menguat

Lebih jauh, Nafan mencatat meskipun harga saham PTRO telah mengalami kenaikan, hal ini tidak serta-merta menjadi alasan untuk ritel keluar dari posisi.

Justru strategi yang lebih bijak tetap mempertahankan kepemilikan saham atau hold, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko secara disiplin.

“Itu yang paling penting walaupun sebenarnya PTRO ini kan harganya seharusnya sudah naik kan, jadi lebih baik saran saya hold, hold dan jangan lupa untuk tetap menggunakan risk management, itu penting,” ucap Nafan saat dihubungi Kompas.com.

Ia juga mengingatkan agar investor ritel tidak terjebak dalam euforia atau fear of missing out (FOMO). Keputusan investasi seharusnya tetap didasarkan pada analisis yang komprehensif, mencakup valuasi, fundamental, serta kondisi sektoral.

Dalam hal ini, kinerja PTRO sangat dipengaruhi oleh dinamika industri pertambangan dan konstruksi, khususnya yang berkaitan dengan permintaan energi.

Dengan demikian, meskipun sinyal dari manajemen memberikan sentimen positif, investor tetap perlu menjaga keseimbangan antara optimisme dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi.

“Yang penting jangan FOMO aja, yang penting jangan FOMO, tetap cermati fundamental dan sektoral PTRO yang sangat dipengaruhi oleh industri pertambangan dan construction, khususnya konsumsi energi ya kan seperti itu,” lanjut Nafan.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #presdir #ptro #borong #saham #saat #harga #naik #analis #investor #ritel #jangan #fomo

KOMENTAR