Proyeksi IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat ke 3,1 Persen pada 2026
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.(THINKSTOCKS)
21:28
14 April 2026

Proyeksi IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat ke 3,1 Persen pada 2026

— Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dalam laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru.

Tekanan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, serta lonjakan harga energi menjadi faktor utama yang membayangi pemulihan ekonomi dunia.

Dalam laporan terbarunya, Selasa (14/4/2026), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 sebesar 3,1 persen.

Baca juga: ADB: Guncangan Energi dan Perdagangan Bayangi Pertumbuhan Ekonomi Asia

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya dan juga melambat dari realisasi pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 3,4 persen.

IMF menilai, kondisi ekonomi global yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda stabilisasi kini kembali menghadapi tekanan baru.

Konflik geopolitik dinilai mengganggu momentum pemulihan yang sempat terbentuk pascapandemi Covid-19 dan normalisasi kebijakan moneter global.

Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebutkan bahwa konflik yang terjadi telah menghentikan momentum ekonomi global dan meningkatkan tekanan inflasi secara signifikan.

Baca juga: Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Akselerasi, Kuartal I Jadi Penentu

Tekanan dari energi dan inflasi

Salah satu dampak paling nyata dari konflik global adalah lonjakan harga energi, terutama minyak dan gas.

Gangguan terhadap jalur distribusi energi utama dunia, termasuk Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga yang kemudian merambat ke inflasi global.

IMF memperkirakan inflasi global akan meningkat menjadi sekitar 4,4 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Ilustrasi inflasi.FREEPIK/VWALAKTE Ilustrasi inflasi.

Kenaikan harga energi ini tidak hanya berdampak pada negara maju, tetapi juga sangat membebani negara berkembang, khususnya yang bergantung pada impor energi.

Baca juga: Harga Energi Naik, Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Berisiko Terpangkas

IMF menilai negara-negara tersebut menghadapi tekanan ganda berupa lonjakan biaya impor dan pelemahan mata uang.

Dalam skenario dasar, IMF mengasumsikan konflik akan mereda dalam jangka pendek. Namun, jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap ekonomi global diperkirakan akan jauh lebih dalam.

IMF bahkan memperingatkan dalam skenario yang lebih buruk, pertumbuhan ekonomi global dapat turun hingga sekitar 2 persen. Ini adalah level yang biasanya terkait dengan kondisi resesi global.

Ketimpangan dampak antarnegara

Laporan WEO IMF menunjukkan, dampak perlambatan ekonomi tidak merata di seluruh dunia.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 7,83 Persen, Tertinggi dalam 16 Tahun

Negara maju relatif lebih tahan terhadap guncangan, sementara negara berkembang menghadapi tekanan yang lebih besar.

Amerika Serikat, misalnya, masih diproyeksikan tumbuh sekitar 2,3 persen pada 2026, didukung oleh statusnya sebagai eksportir energi dan kekuatan sektor teknologi.

Sebaliknya, negara-negara berkembang dan berpendapatan rendah menghadapi risiko yang lebih tinggi.

IMF menyoroti negara-negara pengimpor energi akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh lonjakan harga komoditas.

Baca juga: BBM Non-Subsidi Diprediksi Naik: Ilusi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan emerging markets diperkirakan melambat menjadi sekitar 3,9 persen, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,2 persen.

Di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, dampaknya bahkan lebih signifikan dengan proyeksi pertumbuhan hanya sekitar 1,9 persen pada 2026.

Ilustrasi harga minyak dunia.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.

Sementara itu, beberapa negara pengekspor energi justru mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak.

Namun demikian, IMF menilai keuntungan tersebut tidak cukup untuk mengimbangi tekanan global yang lebih luas.

Baca juga: Mudik dan Lebaran Angkat Asa Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 di Atas 5 Persen

Risiko stagflasi mengemuka

IMF juga memperingatkan potensi munculnya kondisi stagflasi, yakni kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang lemah dan inflasi yang tinggi.

Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar bagi pembuat kebijakan di berbagai negara.

Dalam situasi tersebut, bank sentral menghadapi dilema antara menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi. IMF menilai kebijakan moneter kemungkinan perlu tetap ketat jika tekanan inflasi tidak mereda.

“Risiko penurunan tetap sangat tinggi,” tulis IMF dalam laporan WEO.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Pelit Lapangan Kerja

Selain itu, IMF juga mengingatkan penggunaan stimulus fiskal secara luas berpotensi memperburuk tekanan inflasi, sehingga kebijakan fiskal perlu lebih terarah dan selektif.

Skenario global: dari moderat hingga krisis

Dalam laporan WEO, IMF menyusun beberapa skenario untuk menggambarkan kemungkinan arah ekonomi global ke depan, bergantung pada durasi dan intensitas konflik.

Dalam skenario dasar, pertumbuhan global diperkirakan tetap berada di kisaran 3,1 persen dengan asumsi konflik mereda dalam waktu dekat dan harga energi stabil.

Namun, dalam skenario yang lebih buruk, IMF memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam hingga mendekati 100 dollar AS per barrel atau lebih, yang akan mendorong inflasi global dan menekan pertumbuhan.

Baca juga: Purbaya dan Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Kuat

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. FREEPIK/PIKISUPERSTAR Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Dalam skenario ekstrem, gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global dapat memicu krisis energi yang lebih luas, bahkan berpotensi menyeret ekonomi dunia ke jurang resesi.

Pemulihan yang tertahan

Sebelum eskalasi konflik terbaru, IMF mencatat ekonomi global sebenarnya menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Inflasi mulai menurun di sejumlah negara dan aktivitas ekonomi perlahan menguat.

Namun, perkembangan terbaru mengubah arah tersebut. IMF menilai pemulihan ekonomi global kini tertahan oleh kombinasi faktor eksternal yang sulit diprediksi, termasuk ketegangan geopolitik dan volatilitas harga komoditas.

Dalam laporan sebelumnya, IMF sempat memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global yang relatif stabil di kisaran 3,1 persen hingga 3,2 persen, mencerminkan pemulihan yang moderat namun berkelanjutan.

Baca juga: Pemerintah Harap Lebaran Angkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Kini, proyeksi tersebut kembali direvisi dengan mempertimbangkan risiko baru yang muncul.

Tantangan kebijakan global

IMF menekankan pentingnya koordinasi kebijakan global dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Ketidakpastian yang tinggi menuntut respons kebijakan yang hati-hati dan terukur.

Lembaga tersebut juga menyoroti perlunya menjaga stabilitas sistem keuangan global, terutama di tengah meningkatnya volatilitas pasar dan potensi arus modal keluar dari negara berkembang.

Selain itu, IMF mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran kepada kelompok masyarakat rentan yang terdampak kenaikan harga energi dan pangan.

Baca juga: Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

Dalam konteks ini, IMF menilai kebijakan subsidi yang luas cenderung tidak efisien dan berpotensi membebani anggaran negara, sehingga perlu digantikan dengan bantuan yang lebih terarah.

Arah ekonomi global ke depan

Secara keseluruhan, laporan WEO terbaru IMF menggambarkan ekonomi global yang berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Prospek pertumbuhan tetap ada, tetapi dibayangi oleh risiko yang signifikan.

Perkembangan konflik geopolitik, stabilitas harga energi, serta respons kebijakan global akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah ekonomi dunia dalam beberapa tahun ke depan.

IMF menegaskan, meskipun skenario dasar masih menunjukkan pertumbuhan positif, risiko penurunan tetap dominan dan memerlukan kewaspadaan dari seluruh pemangku kebijakan global.

Tag:  #proyeksi #pertumbuhan #ekonomi #global #melambat #persen #pada #2026

KOMENTAR