Hold atau Serok? Investor Ritel Dihadapkan Dilema IHSG Imbas Perundingan AS-Iran Gagal
Ilustrasi saham. (PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV)
06:40
13 April 2026

Hold atau Serok? Investor Ritel Dihadapkan Dilema IHSG Imbas Perundingan AS-Iran Gagal

Ketidakpastian global kembali menghantui pasar saham domestik. Kegagalan perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu tekanan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini, Senin (13/4/2926).

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar, terutama investor ritel, perlu lebih waspada dalam mengambil posisi ketika berinvestasi di pasar modal.

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai investor ritel sebaiknya mengarahkan portofolio pada saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi di tengah kondisi pasar yang sangat dipengaruhi sentimen geopolitik.

“Sebaiknya investor ritel fokus untuk saham fundamental kuat dan likuid. Pasar saat ini sangat sensitif terhadap geopolitik,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (12/4/2026).

Baca juga: IHSG Bisa Terkoreksi Imbas Gagalnya Perundingan AS-Iran, Ritel Disarankan Cermati Saham-saham Ini

Dalam situasi saat ini, pasar menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan global, khususnya konflik geopolitik yang dapat memicu perubahan cepat pada arus modal. Selama ketegangan belum mereda, IHSG berpotensi dalam tren melemah atau bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tekanan jual masih dominan.

Meski demikian, potensi pelemahan yang terjadi secara luas di mayoritas saham justru membuka peluang bagi investor ritel untuk mulai melakukan akumulasi. Strategi pembelian bertahap menjadi relevan, sehingga investor ritel tidak langsung masuk di satu harga, tetapi menyebar pembelian di beberapa level harga.

Pendekatan tersebut membantu mengelola volatilitas sekaligus mempersiapkan posisi ketika pasar kembali stabil.

“Selama konflik belum mereda, IHSG akan cenderung melemah. Karena saham mayoritas harganya melemah, bisa dilakukan pembelian bertahap,” paparnya.

Ia menilai batalnya perundingan Amerika Serikat dan Iran berpotensi menekan IHSG di awal pekan karena memicu kembali sikap risk-off dari investor global. Investor cenderung mengurangi eksposur di aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

Baca juga: Perundingan AS dan Iran Gagal, Apa Dampaknya Bagi IHSG?

Jika ketegangan berlanjut dan mendorong kenaikan harga minyak, volatilitas pasar akan meningkat dan tekanan terhadap IHSG bisa berlanjut. Secara umum, pergerakan pasar ke depan masih akan dipengaruhi sentimen geopolitik yang tinggi.

“Batalnya perundingan AS dan Iran berpotensi membuat IHSG tertekan di awal pekan, karena memicu kembali risk-off dari investor global. volatilitas akan tinggi jika harga minyak naik, tekanan bisa berlanjut. Secara umum, perdagangan kedepan masih terpengaruh dengan sentimen geopolitik,” paparnya.

Lebih jauh, bila eskalasi konflik memanas, sektor energi berpotensi diuntungkan seiring kenaikan harga komoditas. Namun, di sisi lain, mayoritas sektor seperti manufaktur, transportasi, dan perbankan berisiko tertekan karena lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi global dan mengganggu stabilitas pasar.

“Tetapi mungkin hampir semua sektor dapat terdampak negatif, seperti manufaktur, transportasi, perbankan dan lainnya. Karena kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi global dan mengganggu pasar,” tukas Reydi.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, melihat tekanan pasar berpotensi merata ke seluruh emiten. Ketidakpastian yang meningkat dinilai membuat arah pasar semakin sulit diprediksi.

“Semua emiten mungkin akan terkena dampaknya karena hal ini memberikan ketidakpastian baru dan rasa khawatir perang akan berkepanjangan,” ungkap Nico kepada Kompas.com.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, ia menilai fleksibilitas menjadi kunci bagi investor ritel. Strategi trading jangka pendek (hit and run) dinilai lebih relevan untuk menghindari risiko terjebak dalam koreksi yang dalam.

Ketika kondisi pasar belum pasti, investor ritel pada dasarnya memiliki tiga pilihan, yaitu masuk, menahan posisi, atau keluar dari pasar, tergantung pada profil risiko dan strategi masing-masing.

Namun, dalam situasi volatilitas tinggi, pendekatan yang lebih disarankan adalah strategi jangka pendek seperti hit and run.

Strategi itu memungkinkan investor memanfaatkan pergerakan harga saham dalam waktu singkat tanpa harus terpapar risiko perubahan arah pasar yang tiba-tiba. Dengan tidak menahan posisi terlalu lama, investor dapat menghindari potensi kerugian yang lebih besar akibat fluktuasi yang ekstrem.

“Ketika situasi dan kondisi dirasa belum pasti, masuk, hold atau keluar semua pilihan investor ritel. Namun dari sisi kami, menyarankan untuk hit and run, agar tidak terjebak dalam volatilitas pasar,” lanjut Nico.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis dan sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #hold #atau #serok #investor #ritel #dihadapkan #dilema #ihsg #imbas #perundingan #iran #gagal

KOMENTAR