Buntu soal Nuklir dan Selat Hormuz, AS Hentikan Perundingan Damai dengan Iran
Suasana menjelang negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).(AFP/POOL/JACQUELYN MARTIN)
12:40
12 April 2026

Buntu soal Nuklir dan Selat Hormuz, AS Hentikan Perundingan Damai dengan Iran

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyatakan negaranya meninggalkan perundingan damai dengan Iran. Keputusan diambil setelah tidak tercapai kesepakatan terkait komitmen pengembangan senjata nuklir.

Vance menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Pakistan, Minggu (12/4/2026) dini hari.

Ia menjelaskan, perundingan berlangsung selama 21 jam. Sejumlah diskusi substantif telah dilakukan, tetapi belum menghasilkan kesepakatan.

“Kami telah berunding selama 21 jam dan melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, kami belum mencapai kesepakatan,” ujar Vance dalam konferensi pers usai perundingan, dikutip dari CNBC.

Baca juga: Negosiasi AS-Iran Buntu, Pakistan Harap Gencatan Senjata Tetap Jalan

Vance menilai titik krusial terletak pada sikap Iran yang tidak bersedia menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir.

“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya,” katanya.

Ia menambahkan, syarat tersebut menjadi tujuan utama Presiden Donald Trump dalam negosiasi.

“Namun, mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” lanjutnya.

Selama proses negosiasi, Vance mengaku berkomunikasi intensif dengan sejumlah pejabat tinggi AS. Komunikasi dilakukan dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper.

“Kami terus berkomunikasi dengan tim karena kami bernegosiasi dengan itikad baik,” kata Vance, yang didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Pemerintah AS telah mengajukan proposal final. Proposal tersebut disebut sebagai penawaran terbaik.

“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah kerangka kesepahaman yang menjadi penawaran final dan terbaik kami. Kita lihat apakah pihak Iran akan menerimanya,” ucap Vance.

Baca juga: Tiga Supertanker Lintasi Selat Hormuz, Pasar Minyak Dapat Sinyal Positif

Media pemerintah Iran menyebut adanya perbedaan tajam dalam negosiasi. Perbedaan mencakup permintaan pemindahan material nuklir ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kantor berita Tasnim menyebut tuntutan AS sebagai berlebihan dan menghambat kesepakatan.

Perundingan berakhir beberapa hari setelah gencatan senjata dua pekan diumumkan. Gencatan tersebut masih dalam kondisi rapuh.

Pernyataan Vance tidak menjelaskan langkah selanjutnya setelah periode gencatan berakhir.

Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf juga membahas kelanjutan gencatan senjata dengan AS dan Pakistan. Upaya tersebut terhambat perbedaan sikap dan eskalasi serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan korban tewas telah melampaui 2.000 orang.

Situasi keamanan juga memanas di Selat Hormuz. Dua kapal perang AS melintasi jalur tersebut untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai.

CENTCOM menyatakan kapal tersebut menjalankan misi pembersihan ranjau laut yang dipasang Iran.

Dua kapal perusak, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, telah beroperasi di Teluk Arab.

“Kami telah memulai proses pembentukan jalur pelayaran baru dan akan segera membagikan rute aman ini kepada industri maritim untuk mendorong kelancaran arus perdagangan,” ujar Laksamana Brad Cooper.

Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi di selat tetap berjalan.

“Kami sedang menyapu selat tersebut. Tercapai atau tidaknya kesepakatan tidak membuat perbedaan bagi saya,” ujarnya.

Media Iran sebelumnya melaporkan kapal militer AS dipaksa berbalik arah saat melintasi selat. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan akan memberi respons keras terhadap kapal militer.

Hanya kapal nonmiliter yang diizinkan melintas dengan syarat tertentu.

Sumber Iran menyebut AS menyetujui pelepasan aset Iran yang dibekukan. Pejabat AS membantah laporan tersebut.

Data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker raksasa mulai melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Pergerakan ini menjadi indikasi awal pemulihan arus keluar kapal dari kawasan Teluk.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Kapal Serifos, Cospearl Lake, dan He Rong Hai tercatat melintasi jalur tersebut. Masing-masing memiliki kapasitas hingga 2 juta barel minyak.

Kapal Serifos membawa minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Kapal ini diperkirakan tiba di Malaysia pada 21 April.

Cospearl Lake mengangkut minyak dari Irak. He Rong Hai membawa minyak mentah dari Arab Saudi.

Dua kapal berbendera China tersebut disewa oleh Unipec, unit perdagangan Sinopec.

Tag:  #buntu #soal #nuklir #selat #hormuz #hentikan #perundingan #damai #dengan #iran

KOMENTAR