Perang Iran Dorong Tren Kendaraan Listrik di Asia
Ilustrasi mobil listrik. (PIXABAY/MENNO DE JONG)
17:04
11 April 2026

Perang Iran Dorong Tren Kendaraan Listrik di Asia

- Perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran disebut mendorong tren penggunaan kendaraan atau mobil listrik semakin massif.

Perang di kawasan Teluk itu menutup Selat Hormuz, perairan yang menjadi jalur utama distribusi minyak bumi negara-negara Asia Barat, termasuk Iran.

Manajer Riset Lembaga think tank energi global Ember, Sam Butler-Sloss, mengatakan krisis energi akibat perang di Iran mirip seperti perang Ukraina yang memaksa negara-negara Uni Eropa mengurangi ketergantungan pada gas.

“(Penutupan Selat) Hormuz akan mendorong Asia untuk mengurangi ketergantungan pada minyak tetapi dengan teknologi yang bahkan lebih murah,” kata Butler-Sloss, sebagaimana dikutip dari CNBC, Sabtu (11/4/2026).

Baca juga: Kolaborasi BYD dan KFC di China: Cas Mobil Listrik Sekaligus Makan, Cuma 9 Menit

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat, pada 2023 tingkat penggunaan energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas mencapai 80 persen dari total konsumsi energi global.

Namun, lonjakan harga minyak dunia akibat perang membuat konsumen beralih pada teknologi berbasis listrik yang lebih murah.

Dorongan transisi ini menurutnya terjadi di berbagai negara di seluruh dunia.

“Krisis Iran mempercepat peralihan ke energi terbarukan dan elektrifikasi,” kata dia.

Penggunaan energi berbasis tenaga surya, angin, panas, baterai, dan energi berbasis listrik mendorong pertumbuhan energi global pada 2025 karena dipicu Tiongkok yang ditetapkan menjadi negara elektro pertama di dunia.

Negeri tirai bambu itu secara massif menerapkan transformasi energi berbasis solar, angin, air (hidro), dan nuklir.

Butler-Sloss menyebut, penggunaan kendaraan listrik bisa menekan biaya impor minyak hingga 600 miliar dollar per tahun.

“Ini adalah momen Ukraina bagi Asia. Sama seperti Ukraina memaksa Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada gas,” ujar Butler-Sloss.

Baca juga: Harga Minyak Naik, Industri Mobil Listrik China Diproyeksi Melesat

Investasi Jaringan Listrik

Analis Energi nstitut Ekonomi Energi dan Analisis Keuangan (IEEFA), Ana Maria Jaller-Makarewicz, menyebut pembangunan jaringan listrik menjadi investasi yang kini dibutuhkan di seluruh Eropa.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dan gas akibat perang di Iran menjadi peringatan keras bagi Uni Eropa.

Meski demikian, beberapa negara di benua biru tersebut berhasil meredam dampak kenaikan harga minyak akibat perang yang dimulai Israel dan AS.

Spanyol misalnya, kini telah merasakan buah dari investasi pada pembangkit listrik tenaga angin dan surya.

Negara itu bertransformasi setelah mengalami pemadaman listrik besar besar-besaran pada April 2025.

Kini, berkat penggunaan energi terbarukan, Spanyol, Portugal, dan negara-negara nordik masuk dalam 28 negara dengan konsumsi gas terendah sejak konflik meletus di Asia Barat.

“Yang kita butuhkan di seluruh Eropa adalah investasi jaringan listrik. Dan yang saya maksud dengan investasi jaringan listrik adalah modernisasi dan perluasan jaringan listrik,“ ujar Ana.

“Bagi saya, pemenangnya adalah jaringan listrik Eropa,” tambahnya.

Tren Mobil Listrik di Indonesia

Melansir dari KOMPAS.id, tren penjualan mobil listrik di Indonesia terus mengalami kenaikan.

Laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut, tingkat penjualan mobil listrik pada 2024 tembus 43.1888 unit, naik dari 10.327 unit pada 2022.

International Energy Agency melaporkan data yang berbeda dengan menyebut tingkat penjualan mobil listrik di pada 2024 di angka 49,2 ribu.

Namun, jumlah tersebut baru 7 persen dari jumlah keseluruhan penjualan mobil di tanah air.

Data IEA yang diolah Litbang KOMPAS mencatat, registrasi mobil listrik di Indonesia pada 2024 masih tertinggal dari Vietnam, Thailand, dan India.

Tag:  #perang #iran #dorong #tren #kendaraan #listrik #asia

KOMENTAR