Ekonom: Krakatau Osaka Steel Tutup akibat Banjir Baja Murah China
Penghentian produksi PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dinilai menjadi sinyal serius tekanan yang dihadapi industri baja nasional akibat maraknya impor baja murah asal China.
Perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Osaka Steel Co., Ltd itu resmi menghentikan kegiatan produksi pada April 2026, sebelum menutup seluruh kegiatan usahanya pada Juni 2026.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, kondisi ini terjadi karena krisis struktural industri baja domestik akibat banjir impor baja murah asal China.
Baca juga: Pabrik Baja Krakatau Osaka Steel Tutup, Kemenperin Soroti Tekanan Impor Murah
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara dalam diskusi Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim, Selasa (16/9/2025).
Utilisasi kapasitas industri baja nasional saat ini hanya sekitar 52 persen, padahal idealnya sekitar 80 persen.
"Produksi baja China dalam setahun sekitar 1 miliar ton. Bayangkan, 2 persen saja diekspor ke Indonesia, jumlahnya sudah melampaui kapasitas produksi Indonesia. Nah, ini kan persaingan yang tidak fair mengingat harga baja China yang lebih murah," ujar Bhima di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Selain tekanan impor, jenuhnya pasar baja tulangan atau long product yang diproduksi Krakatau Osaka Steel juga dinilai menjadi penyebab penutupan pabrik.
Saat ini terdapat sekitar 60 pabrik pemain long product di dalam negeri sehingga memicu persaingan harga yang ketat.
Baca juga: Hilirisasi Baja Dimulai, Pemerintah Targetkan Tekan Impor
Akibatnya, hampir sepanjang 10 tahun beroperasi, Krakatau Osaka Steel terus merugi.
Bhima pun menyayangkan penutupan Krakatau Osaka Steel, apalagi kondisi ekonomi global dan domestik sedang mengalami penurunan tren akibat perang di Timur Tengah, terutama di sektor baja.
Ilustrasi industri baja, produk baja. Trump Naikkan Tarif Impor Baja Jadi 50 Persen, Uni Eropa Siap Membalas
Dia menyebut Krakatau Osaka Steel menjadi "korban kedua" setelah sebelumnya pabrik Metal Steel Group milik Ispat Indo di Surabaya juga menghentikan operasional pada Oktober 2025.
"Agar tak ada lagi penutupan pabrik baja seperti Krakatau Osaka Steel dan Metal Steel Group milik Ispat Indo, pemerintah diharapkan mempercepat penerapan kebijakan antidumping dari hulu ke hilir," kata dia.
Baca juga: Purbaya Tahan Pajak Baru, Fokus Kejar Kepatuhan 40 Perusahaan Baja China
Menurut Bhima, temuan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) soal bukti dumping baja China dengan kisaran harga 5,9 hingga 55,6 persen lebih murah, harusnya menjadi pemantik bagi pemerintah untuk melakukan reformasi regulasi agar bea masuk antidumping segera dikenakan bagi semua segmen produk baja.
Sementara itu, pengamat hukum ketenagakerjaan Universitas Padjadjaran (Unpad) Holyness N Singadimedja menilai positif komitmen perusahaan untuk mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku, khususnya terkait hak-hak pekerja terdampak penutupan pabrik.
"Komitmen tersebut menunjukkan iktikad baik perusahaan untuk bertanggung jawab. Tidak lepas tangan," kata dia.
Namun, ia menekankan pengawas ketenagakerjaan tetap perlu mengawasi pelaksanaan pemberian hak para pekerja, guna memastikan seluruhnya dipenuhi sesuai ketentuan perundang-undangan.
Baca juga: Krakatau Posco Perkuat Industri Baja lewat Inovasi Baja Tahan Gempa
"Dalam kondisi kahar saja kewajiban terhadap pekerja harus dilaksanakan, apalagi tanpa kahar. Itu bagian dari risiko perusahaan," imbuhnya.
Holyness juga menilai keputusan penutupan pabrik merupakan kewenangan pemegang saham mayoritas yakni Osaka Steel Co., Ltd yang menguasai sekitar 86 persen saham, sementara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk memiliki 14 persen saham.
Tag: #ekonom #krakatau #osaka #steel #tutup #akibat #banjir #baja #murah #china