Investasi Air Minim, Dampaknya Menjalar ke Ekonomi dan SDM
Ilustrasi air bersih.(THINKSTOCKS/KENZAZA)
19:32
10 April 2026

Investasi Air Minim, Dampaknya Menjalar ke Ekonomi dan SDM

– Keterbatasan investasi di sektor air mulai menjadi sorotan karena dampaknya tidak hanya pada layanan dasar, tetapi juga menjalar ke ekonomi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kebutuhan pendanaan yang mencapai Rp 3.000–4.000 triliun menunjukkan besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Di tengah krisis air global yang kian memburuk, Indonesia mulai mendorong masuknya investasi untuk memperkuat infrastruktur air, mulai dari penyediaan air minum hingga pengelolaan air limbah. Namun, tantangan pembiayaan dan rendahnya minat investor masih menjadi hambatan utama.

“Menurut Bank Dunia, setiap 1 dollar AS investasi air dapat menghasilkan imbal hasil 4,5 dollar AS, baik dalam pertumbuhan ekonomi, kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, maupun ketahanan iklim,” ujar Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, dalam Forum Dialog Ketahanan Pangan yang digelar Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), beberapa waktu lalu.

Retno mengingatkan bahwa dunia kini berada dalam kondisi darurat air. Sebanyak 2,2 miliar orang belum memiliki akses air minum aman, sementara satu dari empat penduduk dunia kekurangan air bersih.

Baca juga: Investasi Air Indonesia Dianggap Masih Minim, Kebutuhan Capai Rp 4.000 Triliun

Selain itu, 3,5 miliar orang belum memiliki sanitasi layak, 702 juta orang hidup di negara dengan tingkat stres air tinggi, serta 3,2 miliar orang tinggal di kawasan pertanian dengan kekurangan air tinggi hingga sangat tinggi.

Ketersediaan air tawar yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bahkan hanya 0,5 persen dari total air di bumi. Kondisi ini menuntut percepatan investasi, tidak hanya dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga perlindungan ekosistem.

“Hal yang dapat dilakukan pertama investasi besar untuk infrastruktur air, termasuk infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim,” kata Retno.

“Infrastruktur tidak hanya berarti bangunan fisik, tetapi juga investasi dalam ekosistem seperti restorasi lahan basah, perlindungan daerah tangkapan air, konservasi tanah, dan lainnya,” lanjut dia.

Baca juga: Plastik Mahal, Harga Air Minum Dalam Kemasan Naik

Investasi minim, risiko ekonomi membesar

Pendanaan sektor air hingga kini masih sangat bergantung pada anggaran pemerintah. Retno mencatat sekitar 91 persen pembiayaan berasal dari dana publik, sementara negara berkembang rata-rata hanya mengalokasikan 0,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk sektor ini.

Minimnya investasi swasta dipicu persepsi bahwa sektor air memiliki risiko tinggi dengan tingkat keuntungan yang rendah. Padahal, kebutuhan investasi untuk mencapai layanan air bersih secara menyeluruh di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 3.000–4.000 triliun.

Di sisi lain, tekanan lingkungan terus meningkat. Jakarta menghadapi penurunan tanah hingga 30 sentimeter per tahun akibat penggunaan air tanah berlebih. Kondisi ini mendorong percepatan pembangunan jaringan perpipaan agar masyarakat tidak terus bergantung pada sumur bor.

“Ini sangat penting untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah,” kata President Director KMU, Lim Ning Hing.

Baca juga: 8 Perusahaan Air Minum Ungkap Sumber Bahan Baku di Hadapan DPR, Ini Daftarnya

Sejumlah inisiatif mulai dilakukan, salah satunya kerja sama PT Tigalapan Investama Group dengan PT KMU Konstruksi Indonesia dalam pembangunan infrastruktur air bersih dan pengolahan limbah. KMU mengandalkan teknologi metal tunneling atau trenchless yang memungkinkan pemasangan pipa tanpa galian terbuka, terutama di kawasan padat penduduk.

“Rekor MURI ini merupakan hasil dari proses panjang inovasi yang menjadi fokus utama KMU,” ujar Lim.
“Di kota padat, teknologi harus mampu memberikan solusi konstruksi yang cepat, efisien, dan tidak mengganggu infrastruktur di atasnya,” lanjut dia.

Director KMU, Surya Hadikusuma, menambahkan kebutuhan teknologi tersebut semakin mendesak di wilayah perkotaan.

“Itulah tantangannya. Di area padat penduduk, kita tidak bisa melakukan galian terbuka,” kata Surya.

“Dengan teknologi trenchless, cukup satu atau dua pit kerja dan pipa dapat dipasang di bawah tanah tanpa mengganggu aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Namun, persoalan air tidak berhenti pada aspek infrastruktur dan pembiayaan. Tantangan lain justru muncul di tingkat rumah tangga, yakni kualitas air yang dikonsumsi sehari-hari.

Baca juga: Anak Usaha Pertamina Perluas Akses Air Bersih di Bandung

Air jernih belum tentu aman bagi kesehatan anak

Sebuah publikasi ilmiah dalam jurnal "International Journal of Environmental Research and Public Health (2026)" mengungkap bahwa kualitas air memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, lebih dari yang selama ini dipahami.

Kajian yang menelaah 15 penelitian dari berbagai negara selama 15 tahun menemukan bahwa kontaminasi mikrobiologis air, khususnya oleh bakteri Escherichia coli, dapat meningkatkan risiko stunting hingga 4,14 kali.

Temuan ini menunjukkan bahwa air yang tampak jernih belum tentu aman. Kontaminasi justru sering terjadi di titik penggunaan, seperti saat air disimpan, dipindahkan, atau digunakan dalam peralatan makan anak.

Dalam sejumlah studi, air yang secara visual bersih tetap terdeteksi mengandung bakteri dalam jumlah signifikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa akses terhadap sumber air “layak” belum menjamin keamanan air yang benar-benar dikonsumsi.

Dampak kualitas air juga tidak selalu terlihat langsung. Salah satu mekanisme yang diungkap adalah Environmental Enteric Dysfunction (EED), yakni gangguan usus kronis akibat paparan kuman yang menyebabkan peradangan dan menurunkan kemampuan tubuh menyerap nutrisi.

Kondisi ini tidak selalu menimbulkan gejala seperti diare, tetapi dapat menghambat pertumbuhan anak meskipun asupan makanannya cukup. Dalam jangka panjang, hal ini berkontribusi pada stunting.

Selain pertumbuhan fisik, kualitas air juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif. Studi menunjukkan anak usia 9–12 tahun memiliki kemampuan memori dan bahasa yang lebih baik jika sejak dalam kandungan terpapar air yang aman.

Periode paling krusial berada pada usia 6–24 bulan, ketika anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI. Pada fase ini, penggunaan air meningkat dan risiko paparan kontaminasi menjadi lebih tinggi.

Namun, perbaikan kualitas air saja tidak cukup. Sejumlah penelitian menunjukkan intervensi tunggal tidak mampu meningkatkan pertumbuhan anak secara signifikan. Paparan kuman juga berasal dari lingkungan rumah, seperti tangan, alat makan, lantai, hingga hewan peliharaan.

Karena itu, pendekatan yang dinilai efektif adalah intervensi terpadu yang mencakup air aman, sanitasi yang baik, perilaku higienis, serta kecukupan gizi.

Dalam konteks Indonesia, tantangan ini menjadi semakin relevan. Cakupan akses air “layak” memang meningkat, tetapi kualitas air di tingkat rumah tangga kerap tidak memenuhi standar mikrobiologis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi sektor air tidak cukup berhenti pada pembangunan infrastruktur. Edukasi masyarakat terkait penyimpanan air, kebersihan wadah, serta perilaku sehari-hari menjadi faktor penting.

Pada akhirnya, investasi di sektor air tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang masa depan kualitas sumber daya manusia. Air yang aman menjadi fondasi bagi kesehatan, kemampuan belajar, hingga produktivitas ekonomi generasi mendatang.

Tag:  #investasi #minim #dampaknya #menjalar #ekonomi

KOMENTAR