Jumlah Investor Kripto RI Tembus 21,07 Juta, Industri Masih Menarik Meski Pasar Lesu
Ilustrasi aset kripto. (PEXELS/RDNE STOCK PROJECT)
13:20
10 April 2026

Jumlah Investor Kripto RI Tembus 21,07 Juta, Industri Masih Menarik Meski Pasar Lesu

- Jumlah investor aset kripto di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan, menandakan minat masyarakat yang tetap tinggi meski pasar tengah mengalami tekanan.

Hingga Februari 2026, total investor kripto mencapai 21,07 juta orang.

Angka tersebut tumbuh 1,76 persen secara bulanan.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan perusahaannya sendiri memiliki sekitar 4,8 juta pengguna dengan nilai transaksi lebih dari 1,5 miliar dollar AS pada kuartal I-2025.

Baca juga: Penerimaan Pajak Kripto Rp 1,96 Triliun, INDODAX Setor Rp 907 Miliar

Hal ini menunjukkan basis investor yang cukup besar dengan aktivitas transaksi yang signifikan.

Calvin meyakini kinerja transaksi aset kripto berpotensi membaik pada kuartal II-2026, seiring peluang stabilisasi kondisi makroekonomi dan geopolitik global.

Selain itu, momentum Bulan Literasi Kripto (BLK) yang berlangsung pada April hingga Mei 2026 diharapkan mampu mendorong pemahaman serta partisipasi masyarakat.

“Kami melihat edukasi sebagai kunci utama dalam menjaga keberlanjutan industri. Tokocrypto siap berkontribusi dalam meningkatkan literasi dan kesadaran investor, terutama di tengah kondisi pasar yang cenderung bearish seperti saat ini,” ujar Calvin lewat keterangan pers, Jumat (10/4/2026).

Di sisi lain, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto pada Februari 2026 sebesar Rp 24,33 triliun, menurun dibandingkan Januari yang mencapai Rp 29,28 triliun.

Secara agregat, nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp 482,23 triliun.

Angka ini turun 25,9 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 650,61 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengatakan pergerakan transaksi kripto dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang fluktuatif.

“Pada tahun 2025, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp 482,23 triliun. Ini menurun sekitar Rp 168,38 triliun atau 25,9 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 650,61 triliun,” ujarnya dalam acara Bulan Literasi Kripto 2026 di Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Adi menjelaskan, penurunan nilai transaksi tidak terlepas dari tekanan global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik.

Ia menyoroti eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta konflik di Timur Tengah yang mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global.

“Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk perang dagang Amerika-China dan konflik Timur Tengah, mendorong peningkatan sentimen risk-off di pasar keuangan global,” jelasnya.

Meski demikian, Adi menegaskan bahwa kepercayaan investor terhadap ekosistem aset kripto di Indonesia masih tetap terjaga, meskipun nilai transaksi mengalami penurunan.

Di sisi lain, industri aset kripto juga terus memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara.

OJK mencatat penerimaan pajak dari transaksi kripto pada 2025 mencapai Rp 796,73 miliar.

Bahkan, hingga Februari 2026, total penerimaan pajak dari sektor ini telah menembus Rp 1,96 triliun.

“Direktorat Jenderal Pajak melaporkan penerimaan pajak aset kripto tahun 2025 mencapai Rp 796,73 miliar dan telah mencapai Rp 1,96 triliun hingga Februari 2026,” kata Adi.

Pasar Kripto Masuk Fase Konsolidasi

Lebih jauh, Calvin memandang pelemahan transaksi merupakan bagian dari siklus pasar.

Ia menyebut pasar kripto saat ini tengah memasuki fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami lonjakan signifikan.

“Pasar kripto saat ini memasuki fase konsolidasi setelah mengalami lonjakan signifikan pada periode sebelumnya,” bebernya.

Kondisi itu ditandai dengan koreksi harga dan penurunan volume transaksi, yang juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, termasuk tensi geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Ia menambahkan, meningkatnya tensi geopolitik mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan, sementara kebijakan suku bunga tinggi memicu likuidasi pada posisi leverage di pasar kripto, sehingga berdampak pada penurunan volume transaksi.

Adapun, aliran dana institusi melalui ETF Bitcoin juga menunjukkan tren fluktuatif.

Setelah mencatat inflow sebesar 1,13 miliar dollar AS pada Maret, arus dana berbalik keluar dengan outflow mingguan mencapai 296 juta dollar AS di akhir bulan.

Memasuki awal April, inflow kembali tercatat sekitar 69,6 juta dollar AS, menandakan minat institusi masih ada meski belum cukup kuat untuk mendorong reli pasar.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset kripto.

Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor.

Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #jumlah #investor #kripto #tembus #2107 #juta #industri #masih #menarik #meski #pasar #lesu

KOMENTAR