AirAsia Ubah Jadwal dan Rute, Tekanan Avtur Terasa, Penumpang Terdampak
Ilustrasi penumpang AirAsia.(KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO)
20:44
6 April 2026

AirAsia Ubah Jadwal dan Rute, Tekanan Avtur Terasa, Penumpang Terdampak

Perubahan jadwal hingga rute penerbangan AirAsia ramai diperbincangkan di media sosial, di tengah meningkatnya tekanan biaya operasional maskapai akibat lonjakan harga avtur.

Fenomena ini mencerminkan penyesuaian operasional yang dilakukan maskapai, yang tidak hanya berdampak pada jadwal penerbangan, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh penumpang.

Sejumlah unggahan di Instagram menceritakan pengalaman penumpang yang menghadapi perubahan jadwal secara mendadak, dari semula 27 April 2026 menjadi 29 April 2026, serta kesulitan mendapatkan penerbangan pengganti, terutama ketika tiket dibeli melalui travel agent.

Selain itu, ada pula penumpang yang mengalami perubahan rute penerbangan. Dalam unggahannya, penumpang tersebut baru mengetahui adanya reroute setelah mengecek langsung melalui aplikasi resmi maskapai, sementara notifikasi dari online travel agent (OTA) belum diterima.

Perubahan rute ini membuat penerbangan yang semula dijadwalkan langsung harus transit terlebih dahulu, dengan durasi transit yang bervariasi antarpenumpang. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penumpang melakukan pengecekan mandiri terhadap status penerbangan, terutama jika pembelian tiket dilakukan melalui pihak ketiga.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Tarif Tiket Pesawat Bakal Naik Maksimal 13 Persen

Lonjakan Avtur Tekan Operasional Maskapai

Tekanan operasional maskapai saat ini tidak lepas dari lonjakan harga avtur akibat krisis geopolitik global. Per 1 April 2026, harga avtur domestik di Bandara Soekarno-Hatta mencapai Rp 23.551,08 per liter, naik dari Rp 13.656,51 per liter pada Maret 2026 atau melonjak 72,45 persen.

Untuk avtur internasional, harga meningkat dari 0,742 dollar AS per liter menjadi 1,338 dollar AS per liter. Dengan asumsi kurs Rp 16.500, nilai tersebut setara sekitar Rp 22.077 per liter.

Jika dibandingkan 2019, kenaikan harga avtur domestik bahkan mencapai sekitar 295 persen dari Rp 7.970 per liter.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan kenaikan ini mengikuti tren global.

“Seperti sudah kami perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah,” ujar Denon, Rabu (1/3/2026).

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat

Ia menegaskan bahan bakar menjadi komponen terbesar dalam biaya operasional maskapai, dengan kontribusi sekitar 40 persen.

“Penyesuaian perlu segera diberlakukan agar maskapai penerbangan dapat tetap beroperasi dengan tetap menjaga keselamatan penerbangan serta menjaga finansial maskapai,” jelas Denon.

Di kawasan, harga avtur juga menunjukkan disparitas. Di Filipina mencapai Rp 25.326 per liter, sedangkan di Indonesia berada di kisaran Rp 23.551 per liter.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perbedaan harga ini perlu diperhatikan agar tidak dimanfaatkan maskapai asing. Jika harga tidak disesuaikan dengan kondisi global, selisih tersebut berpotensi mengganggu persaingan industri penerbangan nasional.

Baca juga: Harga Avtur Naik, Bahlil: Dibanding Negara Lain, Kita Masih Jauh Lebih Kompetitif

Alasan AirAsia: Prioritaskan Keselamatan di Tengah Tekanan

Menanggapi kondisi tersebut, Indonesia AirAsia menyampaikan tengah melakukan penyesuaian operasional sementara selama periode Lebaran, seiring kebutuhan perawatan teknis tidak terjadwal pada sejumlah armada.

Penyesuaian ini berdampak pada sejumlah penerbangan, termasuk keterlambatan dan pembatalan, sebagai langkah untuk memastikan seluruh operasional tetap memenuhi standar keselamatan yang berlaku.

Indonesia AirAsia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami penumpang, khususnya di tengah periode perjalanan yang penting bagi masyarakat.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Indonesia AirAsia, Capt. Achmad Sadikin, menegaskan keselamatan tetap menjadi prioritas utama.

“Kami memahami pentingnya momen mudik bagi masyarakat. Namun, keselamatan tidak dapat ditawar, dan setiap langkah yang kami ambil bertujuan untuk memastikan seluruh penerbangan beroperasi secara aman,” ujar Capt Achmad Sadikin dikutip Kompas.com, Senin (6/4/2026).

Baca juga: United Airlines Naikkan Biaya Bagasi karena Lonjakan Harga Avtur

AirAsia juga memahami bahwa dalam situasi ini masih terdapat penumpang yang belum menerima informasi terkait perubahan penerbangan. Untuk itu, perusahaan meningkatkan upaya komunikasi dan layanan guna memastikan seluruh penumpang terdampak dapat segera memperoleh informasi dan bantuan yang diperlukan.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Indonesia AirAsia menerapkan kebijakan Service Recovery Options (SRO) bagi penumpang terdampak, yang mencakup perubahan jadwal tanpa biaya dalam periode 30 hari, pemberian credit account melalui platform AirAsia MOVE yang dapat digunakan untuk transaksi berikutnya, hingga opsi pengembalian dana penuh.

Selain itu, penumpang diimbau untuk secara berkala memeriksa status penerbangan melalui situs resmi airasia.com maupun aplikasi AirAsia MOVE, serta tiba lebih awal di bandara, minimal tiga jam sebelum waktu keberangkatan, guna memastikan kelancaran proses perjalanan.

“Indonesia AirAsia akan terus berkomitmen untuk meningkatkan keandalan operasional dan kualitas layanan, demi memastikan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh pelanggan,” tegas dia.

Kondisi ini mencerminkan dampak lonjakan harga avtur terhadap operasional maskapai, yang mendorong penyesuaian jadwal maupun rute penerbangan dan mulai dirasakan langsung oleh penumpang.

Tag:  #airasia #ubah #jadwal #rute #tekanan #avtur #terasa #penumpang #terdampak

KOMENTAR