AS-Israel Serang Iran, Ekonom Khawatirkan Melonjaknya Harga Minyak Dunia
– Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko volatilitas pasar minyak global.
"Pasar minyak global bersiap menghadapi volatilitas besar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/2/2026).
Baca juga: Serangan Israel ke Iran, Kemlu Pastikan Tak Ada WNI Jadi Korban
Perhatian pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Gangguan pengiriman di Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga minyak.
Ekonom Center of Economics and Law Studies Nailul Huda menyebut harga minyak dunia sudah mencapai 73 dollar AS per barel. Angka itu naik dari 65 dollar AS per barel pada awal Februari 2026.
Nailul memprediksi harga minyak bisa menyentuh 120 dollar AS per barel. Ia membandingkan situasi ini dengan saat Rusia menginvasi Ukraina.
"(Dampak) yang pasti adalah kenaikan harga minyak akan cukup signifikan. Apa yang dilakukan AS, sama saja seperti yang dilakukan Rusia ke Ukraina yang akan menyebabkan gejolak global," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu.
Baca juga: AS-Israel Serang Iran, Prabowo Tawarkan Diri Jadi Mediator
Kenaikan harga minyak global dinilai akan berdampak pada beban subsidi bahan bakar minyak pemerintah.
"Ketika harga minyak naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak terutama untuk BBM," kata Nailul.
Lonjakan tersebut berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara jika tidak ada realokasi anggaran untuk subsidi BBM.
"Mengandalkan penerimaan negara pun akan percuma ketika ekonomi global semakin tidak menentu. Mengandalkan hutang baru pun susah karena ada laporan dari Moody's dan terbaru S&P yang mengatakan kondisi pengelolaan fiskal kita buruk," tukasnya.
Tag: #israel #serang #iran #ekonom #khawatirkan #melonjaknya #harga #minyak #dunia