Riset LPEM FEB UI Ungkap Dampak Kontribusi Pindar ke PDB Indonesia
Ilustrasi pendanaa. (unsplash)
16:59
26 Februari 2026

Riset LPEM FEB UI Ungkap Dampak Kontribusi Pindar ke PDB Indonesia

Baca 10 detik
  • Riset LPEM FEB UI menunjukkan platform P2P lending AdaKami berkontribusi Rp 6,95 T hingga Rp 10,96 T terhadap PDB.
  • Kontribusi PDB dihasilkan melalui efek berganda dari penyaluran pinjaman yang meningkatkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi.
  • Penyaluran pinjaman juga membuka 47-78 ribu kesempatan kerja baru dan menjadi penyangga bagi konsumsi rumah tangga.

Riset dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan kalau platform peer-to-peer (P2P) lending bisa berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia.

Studi yang membahas soal AdaKami itu menemukan kalau platform tersebut turut berkontribusi terhadap PDB Indonesia dengan kisaran Rp 6,95 triliun hingga Rp 10,96 triliun pada tahun 2024.

Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo menyatakan, kontribusi tersebut dihasilkan melalui efek berganda (ripple effect) dari penyaluran pinjaman, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peminjam, melainkan juga tercermin pada aktivitas ekonomi lokal melalui peningkatan perputaran ekonomi di berbagai sektor.

“Penyaluran pembiayaan mendorong ripple effect melalui peningkatan konsumsi rumah tangga, baik rutin maupun non-rutin, yang kemudian menggerakkan sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer," katanya, dikutip dari siaran pers, Kamis (26/2/2026).

"Dengan demikian, dukungan terhadap sektor ekonomi riil terjadi melalui penguatan permintaan barang dan jasa produktif yang memicu aktivitas ekonomi dan produksi, setidaknya dalam jangka pendek," lanjutnya lagi.

Dalam periode analisis, LPEM FEB UI mencatat setidaknya 185 sektor ekonomi nasional memperoleh nilai tambah dari aktivitas ekonomi yang dipicu oleh pendanaan AdaKami.

Riset LPEM FEB UI - AdaKami. [AdaKami] PerbesarRiset LPEM FEB UI - AdaKami. [AdaKami]

Tiga sektor dengan porsi dampak terbesar adalah jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%), yang kemudian menyebar ke sektor-sektor lain baik secara langsung maupun tidak langsung.

Besaran kontribusi tersebut setara dengan PDB negara kepulauan seperti Tonga, yang pada 2024 tercatat sebesar USD 558 juta atau sekitar Rp 9,38 triliun dengan kurs saat ini.

Selain memberikan kontribusi pada PDB, penyaluran pinjaman AdaKami juga berkontribusi membuka kesempatan kerja bagi 47-78 ribu orang yang tersebar di 17 sektor industri, antara lain perdagangan besar dan eceran (19,84%), jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).

Konsumsi rumah tangga

Hasil riset LPEM FEB UI menunjukkan bahwa penyaluran pinjaman AdaKami berperan sebagai bantalan keuangan (financial buffer) yang membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan, terutama dalam situasi mendesak, sehingga mampu menjaga tingkat konsumsi (consumption smoothing).

Survei mencatat bahwa pinjaman AdaKami juga dimanfaatkan oleh pengguna untuk menghadapi tekanan ekonomi atau guncangan (shock), seperti pemutusan hubungan kerja, sakit keras, dan peristiwa meninggal dunia dalam keluarga.

Selain itu, 24,51 persen pengguna AdaKami menyatakan bahwa tanpa adanya pinjaman daring, mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan.

Peran penyangga tersebut tercermin pada stabilitas pola konsumsi dan pengelolaan rumah tangga pengguna. Kelompok peminjam AdaKami memiliki rata-rata pengeluaran total sebesar Rp4,8 juta per bulan, yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Di saat yang sama, pengguna AdaKami juga menunjukkan perilaku menabung yang relatif lebih baik, dengan rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu, lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Usaha mikro dan perorangan

Selain untuk mendukung kebutuhan rumah tangga, pendanaan AdaKami juga dimanfaatkan sebagai modal pengembangan usaha mikro dan perorangan. Hasil survei menunjukkan bahwa 53,1% pengguna yang memanfaatkan pinjaman untuk keperluan usaha menggunakan pembiayaan untuk menambah stok barang, sementara 28,1% responden menyebutkan terjadi peningkatan omzet usaha.

Temuan dari wawancara mendalam (in-depth interview) juga menunjukkan bahwa pembiayaan AdaKami membantu pelaku usaha meningkatkan skala usaha secara bertahap, seiring dengan bertambahnya kapasitas produksi dan aktivitas penjualan.

Adapun sektor usaha utama yang memanfaatkan pendanaan meliputi perdagangan (53,1%), penyediaan akomodasi dan makan minum (18,8%), serta pertanian (18,8%), yang merupakan sektor-sektor di sekitar aktivitas ekonomi masyarakat dan berperan penting dalam perputaran ekonomi lokal.

Sementara itu Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy mengatakan bahwa AdaKami sebagai platform pinjaman daring terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi pembiayaan yang inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

“Kami percaya bahwa akses pembiayaan yang inklusif dan dikelola secara prudent serta bertanggung jawab dapat membawa manfaat yang luas bagi masyarakat," jelasnya.

Editor: Dicky Prastya

Tag:  #riset #lpem #ungkap #dampak #kontribusi #pindar #indonesia

KOMENTAR