Arah Transformasi Telkom di Era Dian Siswarini, Perkuat Operasional hingga Tingkatkan Aset
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM tengah berupaya melakukan transformasi besar untuk menggali potensi yang ada.
Berbagai upaya dilakukan dengan terus memperbaiki operasional perusahaan, merampingkan lini bisnis, hingga mendorong peningkatan aset.
Sebagai seorang direktur utama di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini memikul tanggung jawab besar untuk membawa perusahaan pelat merah itu menuju perubahan.
Menurut dia, kepercayaan untuk memimpin perusahaan telekomunikasi pelat merah ini merupakan mandat yang besar.
Hal tersebut disampaikan dalam program Naratama dengan host Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin.
Sebelumnya, Dian memang telah malang melintang dan menjadi pemimpin, tetapi ia banyak berkarya di sektor telekomunikasi swasta.
"Waktu mendapatkan mandat ini, saya sudah lihat pasti ekosistemnya berbeda, kemudian perusahaannya punya kebudayaan yang berbeda," ucap dia.
Baca juga: Saham TLKM Naik 30 Persen Setahun, Dirut Telkom: Cerminan Kepercayaan Investor
Sebagai catatan, Dian Siswarini adalah direktur utama perempuan pertama di Telkom Group Indonesia.
Waktu menerima mandat ini, Dian telah mendapatkan misi khusus untuk melakukan transformasi perusahaan.
"Jadi bukan hanya diminta memimpin, tetapi juga mentransformasi," imbuh dia.
Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membuat perusahaan BUMN harus menjadi sebuah entitas yang lebih progresif, agile, dan beroperasi seperti sektor swasta.
Pengalaman Dian Siswarini dinilai sesuai dengan transformasi yang diinginkan pemerintah. Dian sendiri mengawali karier di industri satelit dan lama berkecimpung di industri seluler.
Belajar dari industri telekomunikasi Malaysia
Saat berkarier di Malaysia sebagai Group Chief Marketing and Operation Officer pada suatu perusahaan seluler, ia menyadari bahwa tahapan perkembangan evolusi telekomunikasi di banyak negara itu serupa.
Waktu itu, ia menangangi anak perusahaan yang memiliki bisnis seluler hingga tower seluler di sembilan negara termasuk Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, hingga India.
Dari pengalaman itu, ia lantas membandingkan apa yang membedakan evolusi telekomunikasi di negara yang lebih maju hingga yang berada di belakang Indonesia.
"Kalau dilihat dari pergerakan atau evolusi itu, step-nya sama, yang membedakan hanya waktu," terang dia.
Baca juga: Dian Siswarini, Dirut Perempuan Pertama Telkom: Bukan Sekadar Memimpin, tapi Mentransformasi
Dian memberi contoh, Singapura mungkin tampak lebih maju dengan adopsi tekologi telekomunikasi. Namun tahapan yang dilalui tak jauh berbeda dengan yang terjadi di negara lain.
Ia memberikan gambaran, fenomena yang terjadi di Malaysia dua tahun lalu, saat ini baru terjadi di Indonesia.
Sebaliknya, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, kemungkinan akan terjadi di Bangladesh dua tahun lagi.
"Menurut saya, itu insight yang paling berguna buat saya, bahwa memang pergerakan pasar, demand dari pelanggan, itu kira-kira mirip ah ya, hanya waktu yang berbeda," urai dia.
Pengalaman tersebut lantas menjadi modal berharga untuk Dian membaca pasar di Indonesia.
Membaca perkembangan teknologi dan kemampuan perusahaan
Sebagai seorang pemimpin, Dian membagikan strategi yang digunakan untuk membawa perusahaan telekomunikasi memiliki kinerja gemilang.
Dian menceritakan, perusahaan telekomunikasi perlu menyelaraskan kebutuhan pelanggan, kemampuan perusahaan, dinamika kompetitor, hingga perubahan teknologi.
"(Menyelaraskan) kemampuan perusahaan dari sisi investasi, dari sisi capability dengan perubahan teknologi yang ada," ungkap dia.
Ia menceritakan, ketika perusahaan terlalu cepat mengadopsi teknologi, investasi dapat menjadi sia-sia karena tidak teradopsi dengan optimal.
Sebaliknya, perusahaan juga tidak dapat berjalan dengan optimal ketika terlambat mengadopsi teknologi.
"Timing-nya harus pas, maka tadi dengan saya pernah bekerja di sekian banyak market itu yang memberikan insight. Bagaimana agar tidak terlalu cepat, tidak juga telat," kata Dian.
Selain itu, investasi yang dilakukan perusahaan juga harus dipastikan sesuai dengan kebutuhannya.
TLKM 30 bentuk semangat transformasi Telkom Group
Dalam upaya melakukan transformasi menyeluruh, Telkom Group tengah menjalankan laku perubahan yang disebut TLKM 30.
"Supaya Telkom Group bisa menjadi perusahaan yang lebih agile, lebih progresif, dan yang lebih kompetitif, dan berkelas dunia," kata dia.
Ia menjelaskan perubahan yang terjadi mencakup di dalamnya adalah perubahan keunggulan operasional (operational execellence) hingga struktur perusahaan.
"Yang utama kami ingin meng-unlock value yang sekarang mungkin masih tersembunyi di organisasi," imbuh dia.
TLKM 30 merupakan agenda transformasi dalam jangka waktu lima tahun hingga 2030 yang bertujuan membuat Telkom menjadi perusahaan dengan valuasi yang lebih tinggi.
Empat pilar transformasi TLKM
Dian menjabarkan, TLKM 30 terdiri dari 4 pilar utama yakni operational and service excellence. Hal ini termasuk di dalamnya, peningkatan operasi bisnis, perbaikan tata kelola, hingga transformasi budaya.
Tak hanya itu, pilar ini juga termasuk optimalisasi kapital dalam operasional perusahaan.
Pilar kedua dalam TLKM 30 ini adalah streamlining atau perampingan. Sebagai catatan, saat ini Telkom Group memiliki anak usaha sekitar 66 entitas.
Dari jumlah tersebut, ternyata tak semua berkaitan dengan inti binis (core bisnis) Telkom. Beberapa contoh bisnis yang dimiliki Telkom misalnya adalah hotel, apartemen, layanan kesehatan, hingga asuransi.
"Yang mungkin tidak berada di core strength bisnis kami," ungkap dia.
Dian bilang, dari perusahan-perusahaan tersebut saat ini tidak semua berkinerja baik, dan justru ada yang negatif.
Untuk itu, ke depan pihaknya akan melakukan divestasi, penggabungan, hingga penutupan perusahaan anak.
Dengan demikian, jumlah anak usaha Telkom Grup ke depan diproyeksikan hanya akan berjumlah 20 entitas.
Hal ini bertujuan agar perusahaan bisa fokus ke area bisnis yang menjadi inti dari Telkom.
Lebih lanjut, Dian bilang, pilar ketiga dari TLKM 30 adalah modus operandi. Sebagai gambaran, saat ini terdapat perusahaan induk yang juga masih melakukan bisnis yang sama dengan anak perusahaan.
"Tidak boleh, jadinya dia melakukan bisnis dengan anak perusahaan, jadi ada transaksi bertingkat yang kemudian inefisiensi," ungkap dia.
Harapannya bisnis dari Telkom ke depannya hanya akan terdiri dari business to consumer (B2C) yakni Telkomsel, Business to business (B2B) yakni infrastruktur termasuk bisnis kabel fiber, data center, tower, hingga satelit.
Selanjutnya, Telkom Group juga memiliki bisnis yang memberikan layanan pada segmen korporasi dari kecil hingga besar, dan layanan internasional yang diinisiasi oleh Telin.
"Sekarang ini kalau bicara soal Telkom, valuasi itu soalnya hanya based on B2C, yang lainnya belum kelihatan, seolah tersembunyi sehingga value sebagai liabilitas," ungkap dia.
Terakhir, pilar keempat dari TLKM 30 adalah unlock value yang bertujuan membuka nilai infrastruktur Telkom yang masih tersebumbunyi.
"Bisa divalue sesuai dengan line bisnisnya," ucap Dian.
Saham TLKM menguat 30 persen dalam setahun
Di tengah rangkaian transformasi yang dilakukan, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM terus menguat seiring dengan tingkat kepercayaan investor yang meningkat.
Dian menuturkan, sejak Mei 2025 hingga awal tahun ini harga saham TLKM naik signifikan.
Penguatan saham TLKM terjadi seiring langkah transformasi yang terus dikabarkan ke investor.
"Kalau dilihat dari reaksi, itu alhamdulilah, mereka (investor) itu merespons positif, karena dari semenjak Mei sampai Desember, sebelum kemudian terjadi gonjang-ganjing, kenaikan saham itu signifikan," kata dia.
Dian menambahkan, kenaikan saham TLKM ini dapat diartikan dengan kepercayaan pada investor.
"Harga saham itu kan ciri dari kepercayaan atau trust dari investor," imbuh dia.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, saham TLKM parkir di level 3.480 pada penutupan perdagangan Jumat (20/2/2026).
Dalam sepekan terakhir, saham TLKM naik 0,87 persen setara 30 poin.
Namun demikian, dalam setahun terakhir saham TLKM telah meroket sebanyak 30,34 persen setara 810 poin dari level 2.670 per saham.
Tag: #arah #transformasi #telkom #dian #siswarini #perkuat #operasional #hingga #tingkatkan #aset