Spekulasi Investor China Bikin Harga Emas Naik-Turun Ekstrem
- Harga emas dunia mencatat pergerakan ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah analis mengaitkan volatilitas tersebut dengan aktivitas spekulatif di China.
Dikutip dari CNBC, Minggu (15/2/2026), Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, menyebut pergerakan emas menunjukkan situasi yang tidak terkendali di China.
Harga emas sempat menembus rekor 5.594 dollar AS per troy ons pada 29 Januari. Namun sehari kemudian, harga anjlok hampir 10 persen, menjadi penurunan terdalam dalam beberapa dekade.
Setelah itu, harga emas kesulitan bertahan konsisten di atas level 5.000 dollar AS.
Baca juga: Emas Diperebutkan, Saham ANTM Punya Ruang Tembus Rp 5.725
“Pergerakan emas ini, situasinya menjadi sedikit tidak terkendali di China. Mereka harus memperketat persyaratan margin. Jadi menurut saya, pergerakan emas ini terlihat seperti lonjakan spekulatif klasik yang mencapai puncaknya," ujar Bessent
dalam wawancara di Fox News “Sunday Morning Futures”.
Meski faktor seperti ekspektasi suku bunga AS dan ketegangan geopolitik tetap mendorong permintaan emas, sebagian analis menilai investor ritel dan institusi China memainkan peran dominan dalam meningkatkan volatilitas.
ETF dan Futures Emas China Meningkat
Kepala riset dan strategi logam MKS Pamp, Nicky Shiels, mengatakan China menjadi pendorong dominan pergerakan harga logam mulia saat ini.
“Hal itu didorong oleh kombinasi arus masuk spekulatif, baik dari investor ritel maupun institusi, melalui ETF, emas fisik batangan, serta posisi di pasar berjangka,” ujarnya.
Baca juga: Pegadaian Bantah Emas Langka, Akui Proses Cetak Fisik Tersendat
Data Capital Economics menunjukkan kepemilikan ETF berbasis emas di China meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal 2025. Aktivitas perdagangan emas berjangka juga melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Ekonom Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan volatilitas ini sebagian dipicu meningkatnya akses terhadap produk keuangan berbasis emas seperti kontrak berjangka dan ETF di China.
“Selain itu, terdapat tanda-tanda peningkatan penggunaan leverage di pasar emas China, yang dapat menyebabkan volatilitas harga emas yang signifikan,” kata dia.
Volume perdagangan di Shanghai Futures Exchange melonjak, dengan rata-rata harian sepanjang tahun ini mendekati 540 ton. Angka itu melampaui rekor rata-rata 457 ton per hari pada 2025, menurut Ray Jia dari World Gold Council.
Regulator juga telah berulang kali menaikkan persyaratan margin di Shanghai Gold Exchange guna meredam volatilitas.
Baca juga: Pergerakan Harga Emas dan Perak Melambat, Tren Bullish Dinilai Belum Berakhir
Hussain menilai, meningkatnya penggunaan kontrak berjangka dan leverage bukanlah karakteristik investor yang mencari aset lindung nilai.
Ia memperingatkan, pembelian emas belakangan ini mengindikasikan kemungkinan terbentuknya gelembung spekulatif.
“Seiring dengan arus menuju aset aman, mungkin juga terdapat gelembung emas yang sedang mengembang di China,” ujarnya.
Emas Jadi Alternatif di Tengah Lesunya Properti
Lonjakan partisipasi investor di China mencerminkan kekhawatiran struktural sekaligus strategi jangka pendek.
Senior China strategist ANZ Research, Zhaopeng Xing, mengatakan masyarakat China memiliki akses terbatas ke pasar keuangan.
“Mereka harus berinvestasi di properti, deposito, dan lain-lain. Emas menjadi alternatif yang baik ketika harga perumahan turun dan suku bunga deposito rendah di level 1 persen,” kata Xing.
Saat ini, emas menyumbang sekitar 1 persen dari total aset rumah tangga China, menurut ANZ Research.
Baca juga: Harga Perak Tembus 90 Dollar AS per Ons, Reli Logam Mulia Berlanjut
Xing memperkirakan porsi tersebut dapat meningkat menjadi 5 persen dalam waktu dekat, terutama di tengah tekanan harga properti dan suku bunga deposito yang mendekati titik terendah historis.
“Masyarakat percaya emas dapat berperan sebagai asuransi,” ujarnya.
Strategi De-dolarisasi dan Cadangan Emas
Selain faktor domestik, pemerintah China juga dinilai memiliki kepentingan strategis.
Pendiri dan Managing Director China Market Research Group, Shaun Rein, mengatakan pemerintah China mendorong de-dolarisasi untuk melindungi diri dari tekanan ekonomi AS.
“Investor ritel China dan pemerintah mendorong harga emas lebih tinggi ketika mereka mencari imbal hasil yang lebih besar dan aset lindung nilai,” kata Rein.
Data resmi Departemen Keuangan AS menunjukkan kepemilikan obligasi pemerintah AS oleh China turun menjadi 682 miliar dollar AS pada November 2025, atau turun 11 persen secara tahunan.
Sementara itu, bank sentral China, People’s Bank of China, menambah cadangan emas selama 15 bulan berturut-turut hingga Januari. Total kepemilikan emasnya dilaporkan mencapai sekitar 2.300 ton.
Tag: #spekulasi #investor #china #bikin #harga #emas #naik #turun #ekstrem