Harga Emas Dunia Diproyeksi 6.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Global
Ilustrasi emas batangan. Harga emas naik ke kisaran 5.000 dollar AS per troy ons pada awal pekan. Pergerakan ini terjadi setelah pasar logam mulia berfluktuasi tajam dan pelaku pasar menanti data ekonomi Amerika Serikat.(DOK. Shutterstock.)
10:44
12 Februari 2026

Harga Emas Dunia Diproyeksi 6.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Global

Harga emas dunia kembali menjadi sorotan setelah BNP Paribas memproyeksikan logam mulia tersebut berpotensi menembus 6.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 100,92 juta (asumsi kurs Rp 16.821 per dollar AS) per ounce pada 2026.

Proyeksi itu muncul di tengah reli tajam harga emas sejak awal tahun yang disertai volatilitas tinggi akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian global.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (12/2/2026), Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas, David Wilson, menyatakan kenaikan harga emas menuju 6.000 dollar AS masuk akal dalam konteks makroekonomi saat ini.

Baca juga: Harga Emas Hartadinata Abadi 12 Februari 2026, Cek Rinciannya

Ilustrasi emas.  Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam MuliaDOK. Pexels/Michael Steinberg. Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia

Ia menilai kombinasi inflasi yang masih tinggi, meningkatnya risiko geopolitik, serta permintaan bank sentral menjadi fondasi yang mendukung tren kenaikan harga emas.

Pernyataan tersebut kemudian memicu diskusi luas di kalangan pelaku pasar, terutama karena level 6.000 dollar AS hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata harga emas global beberapa tahun terakhir.

Reli tajam harga emas sejak awal 2026

Sejak memasuki Januari 2026, harga emas menunjukkan penguatan signifikan.

Berdasarkan laporan Reuters, harga spot emas sempat menembus rekor tertinggi baru dan melampaui level psikologis 5.000 dollar AS per ounce pada akhir Januari 2026.

Baca juga: Harga Emas Dunia Terkoreksi usai Data Tenaga Kerja AS Solid

Dalam salah satu sesi perdagangan, harga emas dunia intraday dilaporkan menyentuh kisaran 5.100 sampai 5.180 dollar AS per ounce.

Kenaikan tersebut menjadikan emas sebagai salah satu aset dengan kinerja terbaik pada awal tahun.

Data pasar yang dikutip Bloomberg menunjukkan kinerja year-to-date (ytd) emas naik dua digit pada awal Februari 2026, mencerminkan lonjakan minat investor terhadap aset safe haven.

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Reli harga emas pada awal tahun ini tidak terjadi dalam ruang hampa.

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian 12 Februari 2026, Tembus Rp 3,25 Juta Per Gram

Beberapa faktor global disebut sebagai pendorong utama, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global, hingga perubahan arah kebijakan moneter di Negeri Paman Sam.

Koreksi tajam dan volatilitas tinggi

Namun, setelah reli tajam tersebut, harga emas mengalami koreksi signifikan pada awal Februari 2026. Sejumlah laporan pasar menyebutkan harga emas sempat turun lebih dari 1.000 dollar AS hanya dalam hitungan hari.

Menurut pemberitaan MarketWatch, salah satu pemicu koreksi adalah perubahan persepsi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).

Nominasi figur Kevin Warsh yang dipandang lebih hawkish untuk posisi pimpinan The Fed menggantikan Jerome Powell memperkuat dollar AS dan mendorong aksi jual emas.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 12 Februari 2026: Galeri 24 dan UBS Stabil

Penguatan dollar AS umumnya menekan harga emas karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam mata uang dollar AS. Ketika dollar AS menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.

Meski demikian, sejumlah analis tetap mempertahankan pandangan bullish jangka menengah.

Reuters melaporkan, beberapa bank investasi global merevisi target harga emas ke level yang lebih tinggi untuk 2026, seiring berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global.

Faktor fundamental yang disorot

Dalam laporan yang dikutip Bloomberg, BNP Paribas menekankan beberapa faktor utama yang mendukung proyeksi harga emas ke depan.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 12 Februari 2026: Bertahan di Rp 2,94 Juta per Gram, Cek Daftarnya

Ilustrasi emas batanganPIXABAY/OMAR HADAD Ilustrasi emas batangan

Pertama, inflasi global yang dinilai masih berada di atas target bank sentral utama.

Meskipun tekanan harga mulai mereda dibandingkan puncaknya pada periode sebelumnya, tingkat inflasi yang relatif tinggi tetap membuat investor mencari lindung nilai terhadap penurunan daya beli.

Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek, mengatakan inflasi yang masih tinggi dan meningkatnya utang global mendorong investor untuk mempertimbangkan logam mulia sebagai alternatif lindung nilai.

“Inflasi tetap jauh di atas target, tingkat utang meningkat, dan investor terus memandang logam mulia sebagai cara untuk melakukan diversifikasi dari saham, obligasi, dan mata uang fiat,” ujar Melek seperti dikutip Reuters.

Baca juga: Emas Bukan Cuma Antam, Ini 6 Jenis Emas Batangan di Indonesia

Kedua, risiko geopolitik yang belum mereda. Konflik regional, ketegangan perdagangan, serta ketidakpastian politik di sejumlah negara besar disebut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Ketiga, pembelian emas oleh bank sentral. Pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara tetap kuat dalam dua tahun terakhir.

Permintaan institusional ini dianggap menciptakan price floor yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Selain itu, aliran dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas juga kembali meningkat. Arus masuk dana tersebut mencerminkan minat investor institusional maupun ritel terhadap emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.

Baca juga: Beli Emas Tanpa Rugi: 9 Kesalahan yang Harus Dihindari

Peran kebijakan The Fed

Kebijakan suku bunga AS menjadi salah satu faktor paling dominan dalam menentukan arah harga emas sepanjang awal 2026.

Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga cenderung mendorong harga emas naik, karena imbal hasil riil obligasi menurun dan biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah.

Ilustrasi emas, emas batangan. Harga emas Antam mencapai rekor tertinggi sepanjang masa hari ini, Jumat (11/4/2025).PIXABAY/LINDA HAMILTON Ilustrasi emas, emas batangan. Harga emas Antam mencapai rekor tertinggi sepanjang masa hari ini, Jumat (11/4/2025).

Sebaliknya, setiap sinyal kebijakan yang lebih ketat atau bernada hawkish cenderung menekan harga emas.

Koreksi tajam harga emas pada awal Februari 2026 menjadi contoh bagaimana perubahan persepsi terhadap arah kebijakan moneter dapat memicu volatilitas besar dalam waktu singkat.

Baca juga: Investor Baru Wajib Tahu, Ini Cara Aman Membeli Emas Batangan

Menurut sejumlah analis yang dikutip MarketWatch, pergerakan harga emas pada periode tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor teknikal dan aksi ambil untung setelah reli tajam.

Proyeksi harga emas tembus 6.000 dollar AS: seberapa signifikan?

Level 6.000 dollar AS per ounce yang diproyeksikan BNP Paribas merepresentasikan lonjakan besar dibandingkan harga rata-rata historis emas.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, nilai kapitalisasi pasar emas global akan meningkat signifikan.

Beberapa analis yang dikutip Reuters menyebutkan, revisi target harga ke level yang lebih tinggi menunjukkan pergeseran persepsi terhadap struktur permintaan emas jangka panjang.

Baca juga: Harga Emas Sempat Anjlok Awal 2026 Usai Cetak Rekor, Saatnya Beli atau Tunggu?

Kombinasi pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan potensi pelonggaran kebijakan moneter menjadi faktor yang terus dipantau pasar.

Namun, volatilitas harga tetap menjadi risiko yang melekat. Lonjakan dan koreksi tajam dalam waktu singkat sepanjang Januari–Februari 2026 menunjukkan sentimen pasar dapat berubah dengan cepat seiring perkembangan data ekonomi dan kebijakan.

Dinamika permintaan global

Selain faktor kebijakan moneter dan geopolitik, dinamika permintaan fisik juga memengaruhi harga.

Permintaan emas dari pasar Asia, termasuk India dan China, sering kali meningkat pada periode tertentu, memberikan dukungan tambahan bagi harga global.

Baca juga: Harga Emas di Pakistan Bergejolak, Pembeli Beralih ke Perak

Ilustrasi emas, emas batangan.PIXABAY/LINDA HAMILTON Ilustrasi emas, emas batangan.

Laporan Reuters mencatat, pembeli kembali masuk ke pasar ketika harga terkoreksi, mencerminkan adanya minat beli pada level harga tertentu.

Hal ini turut menjaga volatilitas tetap tinggi namun sekaligus memberikan penopang permintaan.

Di sisi lain, investor institusional global juga memantau pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Hubungan terbalik antara imbal hasil riil dan harga emas tetap menjadi indikator utama dalam strategi perdagangan komoditas.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 0,7 Persen, Pasar Cermati Arah The Fed

Proyeksi harga emas 6.000 dollar AS dari BNP Paribas muncul di tengah fase pasar yang sangat dinamis.

Sejak awal 2026, harga emas telah mencatat rekor tertinggi baru, mengalami koreksi tajam, dan kembali bergerak fluktuatif seiring perubahan ekspektasi suku bunga dan kondisi geopolitik global.

Seluruh perkembangan tersebut terus menjadi perhatian pelaku pasar internasional dan lembaga keuangan global.

Tag:  #harga #emas #dunia #diproyeksi #6000 #dollar #tengah #gejolak #global

KOMENTAR