Moody’s Turunkan Outlook RI, Ini Sektor Saham yang Paling Tahan
Revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif dinilai tidak serta-merta berdampak buruk bagi pasar modal domestik.
Pelaku pasar menilai, sejumlah sektor masih memiliki ketahanan kuat karena ditopang fundamental yang solid, arus kas stabil, serta basis permintaan domestik yang relatif tidak sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Moody’s memang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2, yang berarti Indonesia masih berada dalam kategori investment grade.
Status tersebut menjadi faktor penahan utama agar tekanan terhadap pasar keuangan, khususnya pasar saham.
Baca juga: Airlangga Minta Danantara Jelaskan Arah Fiskal RI ke Moodys
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik mengatakan, dari perspektif mikro pasar modal, kondisi fundamental perusahaan tercatat sejauh ini masih cukup kuat.
“Terkait dengan outlook, kami tentu secara mikro di pasar melihat bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita masih kuat,” ujar Jeffrey saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Selasa (9/2/2026).
BEI pun terus mengingatkan investor agar tidak bereaksi berlebihan dan tetap menjadikan analisis fundamental sebagai dasar utama pengambilan keputusan investasi di pasar saham Tanah Air.
“Jadi seperti yang selalu kami sampaikan kepada para investor untuk selalu secara rasional memperhatikan fundamental perusahaan dan selalu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Mungkin itu respons kami,” paparnya.
Dari sisi pelaku industri sekuritas, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’ashim menilai, revisi outlook justru mempertegas pentingnya seleksi sektor.
Menurutnya, saham berbasis komoditas, khususnya emas dan nikel, masih menyimpan prospek jangka panjang yang menarik.
Secara makro, tren kenaikan harga komoditas dalam setahun terakhir dinilai kuat, sehingga dapat menjadi penyangga kinerja emiten di Indonesia.
“Hal tersebut menjadi peluang untuk saham-saham berbasis komoditas seperti emas, dan nikel karena secara makro tren kenaikan harga setahun kebelakang bisa dibilang luar biasa,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (10/2/2026).
“Sehingga jika thesis index play gagal secara game makro masih punya potensi prospek jangka panjang yang menjanjikan,” paparnya.
Pandangan serupa disampaikan pengamat pasar modal Reydi Octa.
Ia menilai, penurunan outlook oleh Moody’s lebih berdampak pada persepsi risiko investor dibandingkan fundamental emiten.
Selama Indonesia masih berada di level investment grade, dampak langsung terhadap kinerja operasional perusahaan dinilai terbatas.
Reydi mencatat, sektor-sektor dengan basis pendapatan domestik dan arus kas stabil cenderung paling tangguh menghadapi sentimen tersebut.
Perbankan besar, sektor barang konsumsi primer (consumer staples), telekomunikasi, serta sektor energi berbasis utilitas dinilai tetap memiliki permintaan yang relatif stabil.
“Emiten yang basis pendapatannya domestik, arus kas stabil cenderung paling tahan terhadap sentimen ini. Perbankan besar, consumer staples, telekomunikasi, serta sektor energi berbasis utilitas umumnya tetap kuat karena permintaan tidak terlalu bergantung pada siklus global dan fluktuasi arus modal asing,” ucap Reydi kepada Kompas.com.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa tekanan lebih mudah terasa pada saham-saham berkarakter growth, memiliki valuasi tinggi, atau emiten dengan free float kecil namun bobot indeks besar.
Saham-saham tersebut dinilai lebih sensitif terhadap perubahan persepsi risiko karena pergerakannya sangat dipengaruhi oleh arus dana asing dan sentimen jangka pendek.
“Sebaliknya, tekanan lebih mudah terasa pada saham-saham berkarakter growth, valuasi tinggi, atau emiten dengan free float kecil namun bobot indeks besar, karena lebih sensitif terhadap perubahan persepsi risiko,” lanjutnya.
Tag: #moodys #turunkan #outlook #sektor #saham #yang #paling #tahan