Wamenkeu Juda Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Ungguli China, Dorong Lapangan Kerja
- Ekonomi Indonesia pada kuartal IV tercatat mencapai 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara besar, termasuk China.
Capaian ini dinilai tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga mulai memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, meski pertumbuhan tersebut masih berada di bawah potensi ekonomi nasional, kinerjanya patut disyukuri karena menjadi yang tertinggi sejak fase pemulihan pascapandemi Covid-19 pada 2022.
“Kalau ditanya puas atau belum puas, tentu bisa puas atau belum puas. Tapi yang perlu kita syukuri, pertumbuhan 5,39 persen ini adalah yang tertinggi sejak 2022, setelah rebound Covid-19,” ujar Juda dalam ekonomi outlook 2026 di Jakarta pada Selasa (10/2/2026).
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi dan Ujian Kesejahteraan Petani
Ia menjelaskan, setelah fase pemulihan pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung berada di kisaran 5 persen. Kenaikan menjadi 5,39 persen pada kuartal IV menunjukkan momentum penguatan ekonomi yang mulai terbentuk.
Juda menyebut, dari sisi perbandingan global, Juda menilai posisi Indonesia cukup solid. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV tercatat berada di kisaran 4,5 persen, lebih rendah dibandingkan Indonesia.
Bahkan, di antara negara-negara G20, Indonesia termasuk salah satu yang mencatat pertumbuhan relatif tinggi.
“China misalnya, di kuartal IV itu sekitar 4,5 persen, sementara Indonesia 5,4 persen. Di antara negara G20, kita salah satu yang paling tinggi,” kata Juda.
Menurut dia, penguatan ekonomi juga tercermin dari indikator kepercayaan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan tren peningkatan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, menandakan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
“Ini matching antara pertumbuhan ekonomi dan indeks keyakinan konsumen. Keduanya sama-sama naik, dan ini patut kita catat,” ujarnya.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Tertinggi Tiga Tahun, Pasar Masih Ragu...
Lebih jauh, Juda menekankan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi tercermin dari dampaknya terhadap kesejahteraan.
Salah satu indikator utama adalah penciptaan lapangan kerja. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), penyerapan tenaga kerja menunjukkan tren yang cukup menggembirakan.
Menurut Juda jika dilihat dalam periode Agustus hingga November 2025, jumlah tenaga kerja bertambah sekitar 1,37 juta orang hanya dalam satu kuartal. Secara tahunan, penciptaan lapangan kerja bahkan mencapai kisaran 3,4 juta hingga 4 juta orang.
“Biasanya dalam setahun pertambahannya sekitar 3 juta. Ini dalam satu kuartal sudah naik 1,37 juta. Artinya, pertumbuhan ekonomi di kuartal-IV benar-benar mendorong penciptaan lapangan kerja,” kata Juda.
Ia menilai momentum positif tersebut perlu terus dijaga dan diperkuat pada kuartal I tahun ini. Dengan pertumbuhan kuartal IV yang solid, pemerintah berharap kinerja ekonomi pada awal tahun dapat melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya.
“Momentumnya sudah bagus. Di kuartal I ini kita harapkan bisa lebih baik lagi dibandingkan kuartal I tahun lalu,” ujarnya.
Pemerintah, kata Juda, akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi agar tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat, penurunan kemiskinan, dan perluasan kesempatan kerja.
Tag: #wamenkeu #juda #sebut #pertumbuhan #ekonomi #ungguli #china #dorong #lapangan #kerja