Saham Bank Besar Anjlok, BBCA dan BBRI Cetak Level Terendah 5 Tahun
Ilustrasi saham. (PIXABAY)
11:40
8 Juni 2026

Saham Bank Besar Anjlok, BBCA dan BBRI Cetak Level Terendah 5 Tahun

 Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) anjlok pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Kedua saham bank besar tersebut menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir. Pukul 09.10 WIB, saham BBCA sempat menyentuh level 4.870.

Sementara itu, saham BBRI menyentuh level 2.620 pada pukul 09.14 WIB. Level tersebut jauh dari posisi tertinggi masing-masing saham dalam lima tahun terakhir.

Saham BBCA sempat menyentuh level tertinggi 10.950 pada 25 September 2024. Saham BBRI sempat mencapai level tertinggi 6.400 pada 13 Maret 2024.

Pukul 11.09 WIB, saham BBCA berada di level 4.990. Posisi tersebut melemah 85 poin atau 1,67 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Baca juga: IHSG Masih Tertekan, Kapan Investor Bisa Mulai Akumulasi Saham?

Pada waktu yang sama, saham BBRI berada di level 2.660. Saham BBRI melemah 80 poin atau 2,97 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Selain BBCA dan BBRI, sejumlah saham perbankan nasional lain juga melemah pada perdagangan hari ini.

Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) turun 45 poin atau 3,95 persen ke level 1.095.

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 100 poin atau 3,12 persen ke level 3.110.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 50 poin atau 1,30 persen ke level 3.900.

Tekanan pada saham perbankan terjadi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah tajam pada pembukaan perdagangan Senin.

Baca juga: KOSPI Terjun 8 Persen, Investor Tinggalkan Saham Teknologi

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG dibuka di level 5.486,31. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.490,11.

Namun, tekanan jual membuat IHSG terus turun hingga menyentuh level terendah 5.346,33.

Pelemahan indeks terjadi saat mayoritas saham berada di zona merah.

Sebanyak 596 saham melemah, 55 saham menguat, dan 70 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 5,346 miliar saham.

Nilai transaksi atau turnover mencapai Rp 3,424 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 343.032 kali transaksi.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tekanan di pasar keuangan menunjukkan proses repricing atau penyesuaian ulang terhadap risiko Indonesia di mata investor global.

Menurut Hendra, pasar sedang meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.

Kondisi itu terjadi saat rupiah melemah, IHSG terkoreksi lebih dari 36 persen dari puncaknya, dan arus dana asing masih mencatatkan net sell besar.

Investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi. Investor juga menilai besarnya risiko yang harus ditanggung.

“Risiko yang paling menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi yang melambat, melainkan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Minggu malam (7/6/2026).

Tag:  #saham #bank #besar #anjlok #bbca #bbri #cetak #level #terendah #tahun

KOMENTAR