Jalan Pulang Kepercayaan Investor Pasar Saham
Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat kembali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 8 persen menjadi 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB.(ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
07:32
1 Februari 2026

Jalan Pulang Kepercayaan Investor Pasar Saham

PASAR saham sejatinya tidak pernah alergi terhadap koreksi. Dalam teori keuangan, penurunan harga adalah bagian wajar dari proses price discovery—cara pasar menimbang ulang informasi.

Namun, koreksi berubah menjadi ambrol ketika tekanan harga berkelindan dengan ketidakpastian institusional dan sinyal kebijakan yang tidak sepenuhnya terbaca jelas.

Itulah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir: indeks menukik, likuiditas menipis, dan kepercayaan investor ikut terguncang.

Yang diuji bukan semata ketangguhan emiten atau daya tahan fundamental ekonomi, melainkan kredibilitas sistem pasar saham itu sendiri. Ketika pasar ragu pada sistem, harga akan selalu bereaksi lebih keras daripada kabar apa pun.

Pemicu penting dari gejolak ini datang dari perubahan metodologi dan penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia.

Baca juga: Gorengan Saham: Saat Negara Kalah oleh Spekulan

MSCI adalah penyedia indeks global yang menjadi rujukan utama investor institusional dunia—dari dana pensiun hingga sovereign wealth fund—dalam menentukan alokasi portofolio lintas negara. Indeksnya berfungsi sebagai benchmark investasi pasif dan aktif di puluhan pasar.

Maka, ketika metodologi berubah dan Indonesia dipersepsikan lebih berisiko, reaksi pasar berlangsung cepat dan serempak.

Dana yang terikat mandat indeks menyesuaikan portofolio hampir tanpa ruang interpretasi. Tekanan jual pun menyebar, melampaui rasionalitas fundamental jangka pendek.

Dalam perspektif information cascade, keputusan MSCI bekerja sebagai sinyal kolektif yang dibaca serempak oleh pelaku pasar.

Arus keluar dana asing lalu dibaca investor domestik dan ritel sebagai pesan implisit: ada risiko yang belum sepenuhnya terjelaskan.

Di titik ini, pasar tidak lagi bergerak oleh kinerja perusahaan satu per satu, melainkan oleh contagion kepercayaan.

Yang menyebar bukan hanya aksi jual, melainkan rasa ragu pada stabilitas sistem. MSCI, dengan demikian, tidak serta-merta “menjatuhkan” pasar.

Kiprahnya sebagai global index provider justru menjadikannya akselerator ekspektasi. Ia mempercepat transmisi ketidakpastian dalam ekosistem yang reputasi institusionalnya sedang diuji.

Ketika jarak antara standar global dan praktik domestik masih terasa, guncangan eksternal menjadi lebih tajam—dan biayanya lebih mahal.

Kepercayaan tak bisa sekadar dijanjikan

Situasi ini menegaskan kembali tesis ekonomi kelembagaan Douglass North: kepercayaan pasar adalah produk institusi, bukan individu.

Pergantian atau mundurnya pejabat di otoritas pasar memang memiliki nilai etik dan simbolik, tetapi bagi investor global hal itu belum menjawab pertanyaan utama—apakah aturan main konsisten, dapat diprediksi, dan ditegakkan secara adil.

Baca juga: Hunger Games di Pasar Modal: Memahami Cara Kerja Saham Gorengan

Ketika kepastian institusional diragukan, investor secara rasional menaikkan risk premium. Arus dana tertahan bukan karena prospek ekonomi nasional runtuh, melainkan karena tata kelola, transparansi, dan perlindungan investor masih dipersepsikan belum sepenuhnya setara dengan standar global yang menjadi rujukan.

Dalam konteks ini, MSCI berfungsi sebagai cermin reputasi pasar, bukan penyebab tunggal kejatuhan.

Keynes mengingatkan bahwa pasar digerakkan oleh ekspektasi dan animal spirits. Investor mendiskonto arah kebijakan ke depan, bukan hanya membaca angka indeks hari ini.

Karena itu, respons kebijakan yang reaktif, sering berubah, atau terkesan improvisasional justru memperpanjang volatilitas—terlebih di mata investor global yang menuntut konsistensi lintas waktu.

Teori credible commitment Kydl and–Prescott menegaskan: kebijakan hanya dipercaya jika konsisten dan sulit dibatalkan, bukan karena sering diumumkan.

Pasar global lebih tenang menghadapi kabar buruk yang jelas daripada kabar baik yang ambigu.

Ketika otoritas mampu menjelaskan skenario kebijakan—apa yang diperbaiki untuk memenuhi standar global, indikator apa yang dipantau, dan kapan evaluasi dilakukan—ketidakpastian berubah menjadi risiko yang terkelola.

Konsistensi

Pemulihan kepercayaan investor menuntut sinyal yang benar-benar dipercaya pasar. Dalam signaling theory Spence, pasar hanya merespons sinyal yang mahal dan berkonsekuensi.

Pernyataan optimistis tanpa reformasi nyata adalah sinyal lemah. Sebaliknya, penegakan hukum pasar modal yang cepat dan transparan, peningkatan kualitas keterbukaan informasi emiten, keselarasan metodologi dan data dengan standar MSCI, serta koordinasi lintas otoritas yang konsisten merupakan sinyal kuat bahwa sistem bekerja.

Dalam perspektif stabilitas keuangan ala Minsky, pasar tidak selalu menuntut intervensi langsung. Yang dibutuhkan adalah keyakinan bahwa institutional backstop tersedia dan siap digunakan bila risiko sistemik meningkat.

Keyakinan inilah yang sering kali cukup untuk meredam kepanikan—bahkan sebelum kebijakan darurat diaktifkan.

Baca juga: IHSG Turun dan Sinyal Ketidakpastian Ekonomi

Bagi investor ritel, implikasinya bersifat praktis. Di tengah guncangan global dan ketidakpastian institusional, disiplin menjadi kata kunci: fokus pada emiten dengan tata kelola baik dan arus kas sehat, kelola risiko secara proporsional, dan pisahkan kebisingan jangka pendek dari fundamental jangka menengah. Dalam situasi seperti ini, rasionalitas adalah bentuk keberanian.

Pada akhirnya, pasar saham adalah etalase reputasi negara. Dalam kerangka reputational capital, inkonsistensi kebijakan adalah biaya jangka panjang yang mahal.

Jalan pulang kepercayaan investor pasar saham tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh kepastian aturan, penegakan adil, dan komunikasi kebijakan yang jujur serta konsisten.

Pasar boleh ambrol, tetapi selama sistem dijaga tegak, kepercayaan akan kembali—pelan, namun jauh lebih kokoh.

Tag:  #jalan #pulang #kepercayaan #investor #pasar #saham

KOMENTAR