3 Pemicu Harga Emas Melonjak dan Penyebabnya Turun
Harga emas mencetak rekor dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan terjadi saat investor memindahkan dana ke aset aman. Ketidakpastian politik global memicu arus tersebut.
Harga emas pada Senin menembus 5.000 dollar Amerika Serikat per ons, setara sekitar Rp 83,83 juta. Harga bahkan sempat menyentuh 5.500 dollar Amerika Serikat per ons, atau sekitar Rp 92,21 juta. Rekor tersebut tercapai pertama kali. Kenaikan juga terjadi pada perak dan platinum.
Harga logam mulia kemudian terkoreksi cukup tajam. Koreksi muncul setelah sinyal stabilitas politik terlihat di Amerika Serikat. Level harga tetap jauh lebih tinggi dibandingkan setahun lalu.
Baca juga: Harga Emas Turun Setelah Reli Panjang, Analis Ungkap Penyebabnya
Ketidakpastian Trump dorong peralihan investasi
Alasan pertama kenaikan harga emas berasal dari kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Perdagangan global terguncang oleh kebijakan tarif terhadap negara-negara yang dinilai merugikan Amerika Serikat. Arah kebijakan tersebut terus membayangi pasar keuangan. Investor meningkatkan minat terhadap emas.
“Kebijakan perdagangan Trump terus mengkhawatirkan investor dan membantu mendorong reli emas,” kata Kepala Strategi Investasi Hargreaves Lansdown, Emma Wall.
Harga emas dan perak sempat mencetak rekor pada Januari. Pasar saham melemah pada periode yang sama. Investor bereaksi terhadap ancaman Trump untuk mengenakan tarif baru kepada delapan negara Eropa. Ancaman tersebut muncul terkait penolakan atas rencana pengambilalihan Greenland.
Ekonom Capital Economics Hamad Hussain menilai persepsi emas sebagai aset aman menguat. Risiko kebijakan luar negeri dan fiskal Amerika Serikat di era Trump ikut memengaruhi penilaian tersebut. Kondisi ini membuat logam mulia “menjadi sorotan”.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 31 Januari 2026: Anjlok Rp 260.000 Jadi Rp 2,860 Juta per Gram
Ancaman perang dan isu Greenland tambah tekanan
Alasan kedua datang dari eskalasi geopolitik. Konflik berkepanjangan di Ukraina dan Gaza menambah ketidakpastian politik global. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menyita aset yang terkait dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Peristiwa ini ikut mendorong lonjakan harga emas.
Ancaman Trump terhadap Greenland memperburuk tensi geopolitik. Kepercayaan terhadap dolar Amerika Serikat ikut tertekan. Investor beralih ke emas sebagai penyimpan nilai. Tekanan terbesar terhadap dolar Amerika Serikat muncul setelah penerapan tarif besar-besaran. Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai “Hari Pembebasan” pada musim semi lalu.
“Emas tampil paling kuat ketika dunia berada dalam kondisi kacau, melonjak di tengah ketegangan perdagangan, gejolak geopolitik, dan ketidakpastian politik di AS,” ujar Wall.
Gesekan baru melibatkan Amerika Serikat, Kanada, dan China. Ketegangan meningkat di Eropa dan Timur Tengah. Risiko penutupan pemerintahan di Washington ikut membayangi. Situasi ini memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Pembelian bank sentral ikut angkat harga
Alasan ketiga berasal dari langkah bank sentral. Lonjakan harga emas didorong pembelian besar-besaran oleh bank sentral global. Emas semakin dipilih sebagai cadangan devisa alternatif. Kekhawatiran terhadap kebijakan Amerika Serikat menjadi pemicu utama.
“Investor dan bank sentral global lebih memilih emas sebagai aset cadangan karena dianggap melindungi dari ketergantungan pada kebijakan AS,” kata Wall.
Wall menambahkan, sejumlah negara mencermati risiko penyitaan aset dolar Amerika Serikat. Kasus Rusia menjadi salah satu rujukan. Emas dipandang sebagai cadangan netral yang lebih menarik.
Pembelian bank sentral masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelum 2022. Hussain mencatat permintaan emas secara keseluruhan diperkirakan melemah sepanjang 2025.
China tetap menjadi pembeli emas terbesar. Permintaan datang dari konsumen perhiasan dan investor. Arus dana juga mengalir ke perusahaan publik Barat yang bergerak di kepemilikan dan perdagangan emas.
Hussain menambahkan, kemunculan pembeli baru ikut mempercepat lonjakan harga. Tether termasuk salah satunya. Perusahaan aset digital tersebut dilaporkan membeli emas dalam jumlah besar. Cadangannya melampaui beberapa negara kecil.
Mengapa harga emas terkoreksi
Harga emas turun setelah reli tajam karena satu faktor utama. Pasar merespons perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Kekhawatiran muncul terkait rencana Trump menunjuk Ketua Federal Reserve yang sejalan dengan keinginannya menurunkan suku bunga. Skenario tersebut dinilai berisiko melemahkan dolar dan mendorong inflasi. Emas pun dipilih sebagai pelindung nilai.
Laporan terbaru menyebut Trump cenderung mencalonkan Kevin Warsh. Pasar memandang Warsh sebagai figur relatif moderat. Harga emas dan perak langsung terkoreksi setelah laporan tersebut muncul.
Harga logam mulia tetap berada jauh di atas level tahun lalu. Ketegangan geopolitik belum mereda. Tarif yang berlaku serta ancaman tarif lanjutan masih membayangi. Konflik global terus berlangsung. Kondisi ini menjaga daya tarik emas dan perak sebagai aset safe haven.
Kelangkaan menjadi salah satu keunggulan utama emas. Kepala Pasar Institusional Global ABC Refinery Nicholas Frappell menyebut emas tidak bergantung pada utang pihak lain.
“Ketika Anda memiliki emas, nilainya tidak terkait dengan utang seperti obligasi atau saham, di mana kinerja perusahaan menentukan hasil investasi,” kata Frappell kepada BBC.
“Ini merupakan diversifikasi yang kuat di dunia yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.
Pergerakan harga pada Jumat menunjukkan volatilitas masih tinggi. Emas tetap rentan bergejolak. Nilai komoditas ini dapat turun secepat kenaikannya.